Perang AS-Iran; aatnya Umat Islam Bersatu Kalahkan Hegemoni Global

Oleh. N. Istiqomah

(Kontributor MazayaPost.com)

 

Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel dan Iran telah memicu meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia. Menurut Wisnu Wibowo, salah satu ekonom Universitas Airlangga menjelaskan bahwa konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi pada gangguan di jalur strategis Selat Hormuz yang mulai memberi tekanan pada pasar energi global (Bisnis.com, 30/03/2026).

 

Sampai saat ini, di mana AS berhadapan dengan Iran, AS belum mampu membuat Iran menghentikan serangan. Fakta ini menunjukkan sebenarnya umat Islam punya kekuatan. Bertahannya Iran mampu menunjukkan bahwa kekuatan adidaya tak selalu absolut. Bahkan, saat menjadi negara embargo Iran juga mampu bertahan dalam ekonomi dan militer.

 

Menariknya, saat ini AS tak bisa menarik sekutunya untuk ikut terlibat langsung konflik dengan Iran. Mereka melakukan perhitungan secara tepat. Terlihat jelas jika aliansi mereka masih berprinsip pada keuntungan dan sarat dengan kepentingan.

 

Tidak ada negara yang bersekutu secara permanen, kecuali ada kepentingan. Dalam kondisi ini dipihak sekutu AS terjadi perpecahan internal, Jerman cenderung mendukung Israel/AS, sementara negara seperti Spanyol, Prancis, dan lainnya menolak terseret, bahkan Prancis melarang wilayah udaranya digunakan untuk mengangkut senjata AS ke Zionis Israel.

 

Di satu sisi, posisi Iran terlihat berdiri kokoh walaupun tanpa dukungan negeri muslim yang lain. Bahkan terlihat beberapa penguasa muslim berdiri dalam satu barisan bersama AS. Mereka menjalin kerjasama, hubungan mereka terlihat mesra demi memperoleh keuntungan bagi kantong-kantong pribadi para penguasa di negeri itu. Namun, kondisi ini secara tidak langsung melemahkan posisi dunia Muslim dalam menghadapi tekanan global.

 

Sungguh, Iran menunjukkan bahwa kekuatan negara adidaya mampu diimbangi. Dalam upaya gencatan senjata dan perundingan, Iran tetap bermain cantik dalam negosiasi, Iran mengajukan 10 poin syarat gencatan senjata dengan AS. Bersamaan itu pula, perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.

 

Sebagaimana diungkapkan oleh Wakil Presiden AS, JD Vance bahwa kegagalan itu dikarenakan Iran tak mau menerima syarat-syarat yang ditawarkan oleh AS. AS dan Zionis Israel tak sekuat yang dibayangkan dunia, saat ini Iran membuktikan keberanian melawan AS.

 

Di saat Iran berdiri menghadapi AS dan Zionis Israel, kita menyaksikan pengkhianatan penguasa muslim yang melemahkan kesatuan umat. Harusnya perang Iran mampu memunculkan potensi kesatuan negeri muslim karena dapat menjadi kekuatan global baru. Dalam sudut pandang Islam persatuan umat merupakan konsep yang mampu menyatukan visi dan kekuatan. Upaya ini juga akan mampu meghilangkan sekat nasionalisme dan membangun solidaritas umat.

 

Akan tetapi,  saat ini tidak mudah untuk mewujudkan konsep ini, tantangan besar ada pada negara dengan gagasan pemikiran kapitalis-sekuler. Dengan demikian untuk menghadirkan kekuatan global dapat dimulai dengan membangun kesadaran bahwa umat memiliki potensi besar dalam kesatuan negeri muslim. Yaitu, Kesatuan negeri muslim yang diikat dalam institusi Khilafah Islam yang mampu mengalahkan hegemoni negara adidaya kafir. Kekuatan Islam akan tampak dari hadirnya umat Islam dalam sebuah kesatuan.

 

Dari konflik AS-Iran, harusnya mampu membuka mata dan pikiran umat tentang pentingnya perubahan dan persatuan guna membangun tatanan dunia Islam, umat Islam akan bersatu dalam satu naungan yaitu dalam Khilafah Islam, yang akan kuat dengan dakwah dan jihad yang akan membawa rahmat bagi dunia.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi