Perang Iran, Mitos Kekuatan Amerika dan Dampaknya bagi Indonesia

Oleh. Evi Haryati

(Kontributor MazayaPost.com)

 

Pemicu langsung serangan AS kepada Iran yaitu berkaitan dengan runtuhnya negosiasi nuklir di Jenewa. Hingga 26 Februari 2026, mediator internasional masih melaporkan adanya ruang kompromi, termasuk kesediaan Iran untuk mengurangi stok uranium yang diperkaya.

Namun, pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump mengajukan tuntutan yang lebih luas. Syarat tersebut meliputi pembongkaran permanen fasilitas Fordow dan Natanz, penghentian total program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap kelompok proksi regional seperti Hizbullah dan Hamas.

Teheran menolak tuntutan itu dengan alasan pelanggaran terhadap kedaulatan nasional. Sebaliknya, Washington menilai penolakan tersebut sebagai sinyal bahwa Iran hanya berupaya memperpanjang waktu guna memperkuat kapasitas militernya.

Donald Trump kemudian mengumumkan peluncuran serangan militer “masif” terhadap Iran. Dalam pernyataan resminya, Trump menyampaikan ultimatum keras kepada kekuatan militer Teheran agar segera meletakkan senjata.

Selama lebih dari 20 hari, Amerika dan entitas Yahudi telah melancarkan perang terhadap Iran. Amerika membawa kapal induk ke kawasan, kapal perusak, kapal penyapu ranjau, dan lebih dari 160 pesawat jet siluman dan non-siluman, yang diklasifikasikan sebagai yang tercanggih di dunia, hingga mobilisasinya mencapai lebih dari sepertiga armada angkatan lautnya, yang setara dengan seluruh armada angkatan laut Prancis.

Di sampingnya terdapat entitas Yahudi yang berpartisipasi dalam perang dengan lebih dari 200 pesawat jet, serta bantuan pangkalan-pangkalan Amerika yang tersebar di Timur Tengah dan Teluk, yang jumlahnya lebih dari dua puluh pangkalan dan instalasi utama, di samping puluhan lokasi dan titik pengerahan yang lebih kecil.

Perang ini juga dibantu oleh pangkalan-pangkalan Inggris yang ada di kawasan tersebut dan di Inggris sendiri, serta pangkalan-pangkalan Prancis, dan juga dibantu oleh para penguasa Muslim di kawasan yang telah memanfaatkan tanah, wilayah udara, dan kemampuan militer mereka untuk melayani Amerika dalam perangnya melawan Iran.

Mitos Kekuatan Amerika
—————
Terlepas dari semua itu, Amerika masih belum mampu mencapai apa yang diimpikannya, yaitu menaklukkan rezim Iran dan memaksanya untuk tunduk secara memalukan pada persyaratan kolonialnya dalam semalam.

Setelah presidennya, Donald Trump, dan pilar-pilar pemerintahannya membual, memiliki tentara terkuat dan tercanggih di dunia; juga setelah euforia yang menyelimuti mereka menyusul operasi penculikan presiden Venezuela dalam satu malam, mereka berpikir dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan serta memerintah siapa pun yang mereka inginkan.

Jadi, mereka melancarkan perang terhadap Iran dengan keyakinan bahwa mereka akan menyelesaikan misi dan memenangkan perang dengan mudah. Bagaimana tidak, ketika Donald Trump sendiri terkejut bahwa Iran tidak menyerah hanya dengan melihat mobilisasi Amerika di kawasan tersebut.

Amerika gigit jari, harapannya gagal dan perhitungannya keliru.
Sebab tentara Iran berhasil bertahan hingga saat ini, dan bahkan memberikan pukulan telak kepada Amerika di kawasan itu dengan menargetkan protegenya, entitas Yahudi, pangkalan militer Amerika yang tersebar di seluruh kawasan, serta radar dan sistem peringatan dini, yang menyebabkan sebagian atau seluruh sistem tersebut tidak berfungsi, serta menargetkan kapal-kapal Amerika dan navigasi melalui Selat Hormuz.

Hal ini telah menyebabkan mereka mengalami kemunduran yang terlihat jelas di wajah dan pernyataan mereka, di mana sikap keras kepala tampak lebih dominan daripada realisme.

Perang terus berkecamuk, dengan ancaman dan balasan yang terus berlanjut, sementara tentara Iran menunjukkan tekad dan kegigihan dalam menghadapi upaya Amerika dan entitas Yahudi untuk memaksakan kekalahan kepada mereka.

Amerika dengan segala kesombongannya, memiliki lebih dari 3.700 hulu ledak nuklir dan rudal balistik, tidak hanya mengancam negara-negara tetangganya tetapi juga rudal antarbenua yang mengancam seluruh dunia, serta memiliki agen, proksi, dan lebih dari 128 pangkalan militer di seluruh dunia, yang dengannya Amerika mengancam dunia dan bahkan sekutu-sekutu masa lalunya, menyerang di mana pun ia mau.

Namun pada saat yang sama, Amerika melihat bahwa Iran tidak berhak memiliki senjata nuklir atau rudal balistik, berdasarkan logika kekuasaan dan kesombongan, ini adalah logika yang sama seperti yang ada pada Firaun sebelumnya.

Kini telah menjadi jelas bagi setiap orang yang memiliki mata bahwa Amerika, dengan segala kekuatannya, sekutunya, dan protegenya, yaitu entitas Yahudi, bukanlah negara adidaya atau pembuat mukjizat, dan bahwa tentara umat Islam memiliki kemampuan untuk melawan Amerika, kesombongannya, dan kolonialismenya.

Dampak Terhadap Indonesia
—————
Sejak perang meletus, ekonomi global langsung mengalami guncangan. Harga energi terus merangkak naik. Terlebih ketika Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai senjata ekonomi andalan untuk melumpuhkan kekuatan lawan.

Oleh karenanya, beberapa negara sudah merespons kenaikan harga energi global ini dengan serangkaian kebijakan campuran yang fokus utamanya adalah untuk menjaga stabilitas energi, rantai pasokan pangan, dan stabilitas pasar keuangan.

Misalnya, dengan cara melakukan efisiensi energi, penyesuaian harga domestik, kebijakan subsidi, seraya terus mendorong upaya-upaya diplomatik menghentikan perang.

Kebijakan populis dan pragmatis masih terlihat. Pemerintah Indonesia sendiri—dalam hal ini Presiden Prabowo—kembali merespons perkembangan Perang Iran dengan menggelar rapat terbatas (ratas) dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, Sabtu (28-3-2026).

Rapat itu membahas penyesuaian beberapa kebijakan yang terkait ekonomi dan energi sebagai langkah mitigasi risiko dinamika global dan penghematan energi.

Kebijakan ini terangkum dalam 8 Butir Transformasi Budaya Kerja Nasional yang meliputi:

Pertama. Penerapan WFH satu hari sepekan (Jumat) bagi Aparatur Sipil Negara;

Kedua. Pemotongan belanja perjalanan dinas dan rapat fisik hingga 50%;

Ketiga, Refocusing anggaran belanja kementerian/lembaga ke program prioritas;

Keempat, Gerakan bersama untuk menghemat energi di rumah dan tempat kerja;

Kelima, dorongan penggunaan transportasi umum untuk mengurangi konsumsi BBM; (6) Percepatan implementasi campuran biodiesel 50% untuk kemandirian energi;

Ketujuh, transformasi perilaku kerja yang lebih produktif berbasis digital; dan

Kedelapan, pelayanan tetap berjalan optimal meski dengan WFH, didukung evaluasi komprehensif.

Dalam hitung-hitungan pemerintah, kebijakan yang diberlakukan sejak 1 April 2026 ini diproyeksikan akan mengirit APBN sebesar Rp254,4 triliun hingga Rp263,4 triliun.

Program ini diwajibkan bagi ASN pusat dan daerah, dengan pengecualian untuk sektor esensial, serta akan dilakukan evaluasi setelah dua bulan.

Pemerintah tampak berusaha meyakinkan bahwa kondisi perekonomian kita aman-aman saja. Menko Ekuin Airlangga, misalnya, menegaskan bahwa Indonesia justru mampu menunjukkan ketangguhan sebagai negara yang adaptif dan resilien, serta memastikan bahwa kondisi ekonomi nasional tetap berada pada jalur yang stabil.

Terkait kondisi anggaran (APBN), pemerintah melalui Menteri Keuangan juga memastikan bahwa, hingga akhir tahun tetap terkendali dengan defisit yang terjaga.

Dikarenakan pemerintah selalu menjaga anggaran berkesinambungan dan dengan itu masih mempunyai ruangan untuk memberi cushion (bantalan) terhadap gejolak perekonomian dunia, masyarakat tidak perlu khawatir defisit keuangan.

Namun faktanya, dampak efisiensi anggaran sebesar lebih dari Rp300 triliun yang dialihkan untuk membiayai proyek populis dan sarat masalah, seperti Makan Siang Gratis saja, masih dirasakan hingga sekarang.

Kualitas layanan publik jelas-jelas berkurang. Banyak proyek strategis yang mangkrak tanpa juntrungan. Semua ini lantas diperparah dengan kasus korupsi yang makin parah dan tekanan ekonomi akibat kebijakan pajak dan impor yang makin ugal-ugalan. Bahkan, Presiden sendiri sempat mengakui bahwa dampak efisiensi anggaran pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan.

Masalahnya, selama ini pemerintah diuntungkan dengan mental masyarakat kita yang nyaris selalu nrimo dengan keadaan. Apalagi pemerintah kita memang pandai mengemas realitas buruk dengan angka-angka survei yang meninabobokan.

Walhasil, masyarakat mudah menerima kebijakan apa pun yang tampak populis dan pragmatis alias menjadi obat dalam jangka pendek.

Mewujudkan Kembali Kepemimpinan Global
———
Prioritas yang harus dilakukan saat ini adalah, mewujudkan kembali tentara umat Islam dengan kekuatan politik Islam ideologis.

Seandainya tentara-tentara itu tidak disia-siakan oleh penguasa-penguasa pengkhianat, seandainya mereka tidak menahan tentara umat dan tidak mendukung penjajah kafir, mengekang umat Islam melalui perjanjian-perjanjian pengkhianatan dan aliansi-aliansi yang memalukan, serta tidak menggadaikan kemauan mereka kepada penjajah kafir, tentu tentara umat Islam akan mampu mengalahkan Amerika dan sekutunya serta mempermalukan mereka.

Peristiwa terkini menegaskan, kebutuhan mendesak dan penting bagi umat Islam untuk menyingkirkan para penguasa dan mengambil kendali atas urusan-urusannya, menyerahkannya kepada orang-orang yang tulus dan mampu membimbingnya menuju martabat, pembebasan, dan pemberdayaan, serta mengakhiri kesombongan Amerika, tirani Yahudi, dan ambisi kolonial mereka di kawasan.

Allah SWT berfirman:
﴿إِلَّا تَنفِرُواْ يُعَذِّبْكُمْ عَذَاباً أَلِيماً وَيَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّوهُ شَيْئاً وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ﴾
“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih serta menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (TQS. At-Taubah [9] : 39)

Sejatinya, bangsa ini memiliki modal yang cukup untuk memainkan peran utama dalam kepemimpinan global dan menentukan konstelasi internasional menggantikan negara-negara zalim pengusung kapitalisme global, seperti AS dan sekutu-sekutunya.

Apalagi, jika bangsa ini bisa bersatu dengan umat Islam di negeri-negeri lainnya dengan melepaskan sekat-sekat imajiner bernama “negara buatan penjajah” dan kembali hidup dalam naungan kepemimpinan politik Islam bernama Khilafah sebagaimana sebelumnya.

Satu-satunya jalan yang harus ditempuh umat Islam, termasuk kaum muslim yang ada di Indonesia, adalah menapaki jalan kebangkitan sebagaimana Rasulullah contohkan. Yakni, dengan dakwah membangun kesadaran di tengah umat atas dasar ideologi Islam dan memahamkan mereka dengan syariat Islam dari akar hingga ke daunnya.

Kesadaran inilah yang akan menggerakkan umat untuk melakukan perubahan dengan perubahan yang benar ke arah Islam hingga mewujud kekhilafahan.

Tentu saja, aktivitas dakwah ini harus diperkuat dengan berbagai aktivitas lain sebagaimana dilakukan baginda Rasulullah saw. Antara lain berupa perang pemikiran dan perjuangan politik lainnya, seperti membongkar konspirasi musuh dan para penguasa agennya yang disertai upaya-upaya mencari dukungan para pemilik kekuatan di bawah kepemimpinan partai politik yang hanya berkhidmat untuk izzul Islam wal muslimin. Wallahualam.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi