Aksi No Kings, Kebangkrutan AS dan Penegakan Khilafah

Oleh. Dian Pratiwi

(Kontributor MazayaPost.com| Aktivis Dakwah Palembang)

 

Sudah lebih dari satu bulan sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel versus Iran. Kerugian dari negara-negara yang bertikai sudah kian membengkak. Namun, belum ada tanda-tanda konflik akan mereda. Per 27 Maret 2026, ribuan korban jiwa melayang akibat perang. Lebih dari 3.200 orang tewas dalam sebulan konflik. Dalam laporan lain menyebutkan korban tewas sebanyak 3.461 jiwa. Sementara korban luka mencapai lebih dari 33.000 orang, tersebar di Iran, Lebanon, dan beberapa negara Teluk akibat eskalasi serangan.

 

Tak hanya korban jiwa, perang juga mengakibatkan tekanan ekonomi. Amerika Serikat dan Israel menghadapi tekanan biaya perang yang membengkak akibat kerusakan aset militer. Bahkan Israel mulai memanfaatkan amunisi lama demi menekan anggaran perang. Penutupan selat Hormus oleh Iran mengakibatkan berkurangnya pasukan energi global. Harga minyak mengalami kenaikan hingga 45 persen dalam waktu singkat. Hal ini menyebabkan melonjaknya harga BBM serta biaya kebutuhan pokok.

 

Pada Maret 2026, utang nasional Amerika Serikat (AS) menembus US$39 triliun (Rp661.440 triliun). Salah satu penyebab melonjaknya utang nasional AS adalah membengkaknya  pengeluaran akibat konflik AS-Israel-Iran. Akibatnya per penduduk AS harus menanggung utang senilai Rp1,93 M. Amerika Serikat di ambang kebangkrutan.

 

Krisis ini melahirkan protes besar-besaran yang diberi tajuk “No Kings” pada 28 Maret 2026. Demonstasi terjadi hampir di seluruh penjuru AS. Setidaknya 8 juta orang yang tersebar di 3.000 titik di 50 negara bagian turun ke jalan. Ini menjadi salah satu aksi massa terbesar yang pernah terjadi di Amerika Serikat.

 

Trump memberikan penjelasan yang berubah-ubah mengenai alasan dimulainya perang, seperti untuk mencegah pembalasan Iran terhadap aset AS, untuk menangkal ancaman Iran yang akan segera terjadi, dan untuk menghancurkan kemampuan rudal dan nuklir Iran. Trump mengklaim Iran sedang mengembangkan rudal yang dapat mencapai Amerika Serikat. Namun, pernyataan ini tidak didukung oleh penilaian intelijen Amerika Serikat sendiri.

 

Nyatanya, serangan ini hanya demi mewujudkan ambisi besar Trump untuk menguasai dunia. Melalui kebijakan militernya, Trump melakukan serangan ke berbagai negara yang membuat utang AS berlipat. Krisis melanda negara itu hingga menuju kebangkrutan. Demonstrasi ‘No Kings’ adalah bentuk akumulasi kemuakan rakyat terhadap kebijakan Trump yang dinilai hanya berpihak pada kaum elit miliarder.

 

Sikap Trump mendukung Zionis  Israel untuk menguasai Palestina dan memerangi Iran telah membuka mata dunia dan warga AS akan kejahatan dan hegemoni kapitalisme AS. Dalam aksi “No Kings” Sabtu lalu, terdengar teriakan slogan “End this war” atau “Hentikan perang ini”. Seruan tersebut menjadi simbol penolakan rakyat AS terhadap konflik yang sedang berlangsung di Iran. Meski begitu, Gedung Putih hanya merespons aksi ini hanya sebagai gangguan kecil dalam pemerintahan Trump.

 

Jika kebijakan militer Trump mendapat penolakan dari negaranya sendiri, lain halnya dengan penguasa muslim. Negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim justru bersekutu dengan AS. Arab Saudi, Qatar, Turki, Mesir, Yordania, Indonesia, Pakistan, dan Uni Emirat Arab memilih bergabung dengan BoP yang dipimpin oleh Trump. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan negeri-negeri muslim yang tengah dijajah oleh kaum kafir. Para penguasa muslim menjadi pengecut di hadapan kaum kafir imperialis karena takut kehilangan jabatan, kekuasaan, dan kekayaan.

 

Padahal Allah Swt. telah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang di luar kalangan kalian (kaum kafir) sebagai teman kepercayaan kalian, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemadaratan bagi kalian.” (QS. Ali Imran: 118)

 

Serangan AS-Israel ke berbagai negara muslim seharusnya membuka mata kita tentang rapuhnya persatuan umat muslim di seluruh dunia. Sesuai dengan yang digambarkan Rasulullah bahwasannya umat muslim seperti buih di lautan. Jumlahnya banyak, tetapi lemah. AS dan hegemoni kapitalisme serta politik demokrasinya telah merusak dunia dan kehidupan. Umat Islam dan penguasa muslim hanya menjadi korban adu domba demi kepentingan AS dan sekutunya. Oleh sebab itulah, kaum muslim sejatinya tidak boleh mengharapkan solusi kepada siapa pun di luar Islam.

 

Kaum muslim semestinya sadar untuk mengembalikan pengaturan kehidupan pada Al-Quran dan Hadits sebagai sumber hukum tertinggi. Kaum muslim harus paham bahwa politik merupakan bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam untuk mengatur urusan umat (ri’ayah syu’unil ummah). Islam memiliki konsep sistem berlandaskan prinsip-prinsip syariah sehingga mewujudkan pemerintahan yang berkeadilan dan mengutamakan kemaslahatan umat, yaitu Khilafah Islamiyah.

 

Hanya Khilafah yang mampu mempersatukan kaum muslim di seluruh dunia. Khilafah juga yang sanggup melindungi seluruh negeri muslim beserta seluruh sumber daya alam mereka yang kaya dari kejahatan kaum kafir penjajah. Persatuan umat Islam di bawah Khilafah seharusnya menjadi harapan satu-satunya bagi kaum muslim di seluruh dunia, agar dapat mewujudkan kehidupan mulia dan kuat (al-‘izzah).

 

Lalu mengapa kita masih terkungkung dalam sistem zalim dan tidak mau bergerak untuk menyatukan diri? Jika 8 juta warga AS saja mampu bergerak bersama, mengapa umat muslim tidak bisa bersatu? Mengapa kita tidak bersegera menegakkan kembali Khilafah Islamiyah? Mari mewujudkan tuntutan syariah Islam yang agung, meskipun orang-orang kafir membencinya. Wallahualam bisawab.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi