Tiga Tahun Taufan Al-Aqsa: Gaza Terus Dikhianati, Hanya Kh1lafah Satu-Satunya Solusi

Oktober tahun ini (2026) menandai genap tiga tahun Operasi Taufan Al-Aqsa, sebuah operasi yang telah membongkar kerapuhan entitas ilegal Yahudi dan meruntuhkan mitos kekuatan Yahudi. Selama tiga tahun, dunia menyaksikan kekejaman tanpa batas sebuah bangsa yang dilaknat Allah Swt., yang mengklaim dirinya sebagai bangsa terbaik pilihan Tuhan.

Selama tiga tahun ini pula, warga Gaza berdiri teguh di atas timbunan reruntuhan, mempersembahkan keimanan, ketakwaan, ketabahan, dan kesabaran yang luar biasa kepada Allah Swt. Selama tiga tahun, darah para syuhada terus mengalir di bumi Palestina, dan bumi para nabi itu menjadi kuburan terbesar bagi para syuhada yang kelak akan bangkit sebagai saksi yang adil di hadapan Allah Swt.

Namun, di balik keberanian luar biasa para mujahidin dan rakyat Palestina, realitas paling pahit yang harus ditelan oleh seluruh umat Islam bukanlah kekejaman luar biasa kaum Yahudi, melainkan pengkhianatan yang terus dilakukan oleh para penguasa mereka sendiri.

Selama tiga tahun Gaza dibantai tanpa sedikit pun belas kasihan, dibom tanpa henti siang dan malam, dan penduduknya diusir dari tanah air mereka sendiri. Namun, apa yang dilakukan oleh lebih dari 50 penguasa Muslim dari negara-negara Arab dan dunia Islam hanyalah berdiam diri. Mereka sekadar menjadi penonton dan penghitung jumlah korban. Lebih buruk lagi, sebagian dari mereka menjadi kaki tangan ‘Isr@el’ dalam kejahatan genosida paling kejam dalam sejarah kemanusiaan ini.

Selama tiga tahun, bahkan sebenarnya sudah lebih dari 70 tahun, jika ada di antara para penguasa ini yang bersuara, suara itu tidak lebih dari kecaman kosong dan retorika murahan untuk membungkam rakyat mereka agar tidak mengkritik mereka. Terkadang suara mereka terdengar keras dan pidato mereka berapi-api karena masing-masing sedang berlomba-lomba meraih penghargaan sebagai pahlawan terbaik di atas panggung sandiwara dunia.

Selama tiga tahun, bahkan sebenarnya sudah lebih dari 70 tahun, kita menyaksikan konferensi tingkat tinggi demi konferensi tingkat tinggi, baik melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Liga Arab, maupun berbagai pertemuan darurat lainnya yang mereka selenggarakan melalui beragam platform. Semuanya kosong dari tindakan nyata. Bahkan, itulah sebenarnya tujuan mereka: mengeluarkan resolusi tanpa aksi.

Puncak Pengkhianatan

Selama tiga tahun, bahkan sebenarnya sudah lebih dari 70 tahun, para penguasa Ruwaibidhah terus memenjarakan pasukan yang mereka miliki di dalam barak-barak, mengunci jet-jet tempur, merantai senjata-senjata canggih yang mereka beli dengan uang umat, dan menghalangi pasukan umat untuk menunaikan kewajiban syar’i dan suci mereka, yaitu jihad fi sabilillah.

Bayangkan kematian dan kehancuran yang telah menimpa Gaza. Namun hingga kini, tidak ada satu pun peluru yang ditembakkan oleh para penguasa tersebut kepada entitas Yahudi, kecuali peluru dari Iran yang dikirim dengan penuh ‘keramahan’. Itu pun hanya sebagai respons sesaat dan lemah setelah negaranya diserang berkali-kali dan para pemimpinnya dibunuh satu per satu oleh entitas Yahudi.

Sesungguhnya tidak ada pengkhianatan yang lebih besar daripada pengkhianatan yang dilakukan para penguasa Ruwaibidhah saat ini terhadap Palestina. Mereka membiarkan Tanah Isra dan Mi’raj itu terus dikuasai oleh Yahudi. Bahkan mereka membiarkan saudara-saudara mereka dibunuh sesuka hati oleh kaum yang dilaknat tersebut, tanpa sedikit pun pembelaan dari mereka, kecuali kecaman-kecaman kosong yang dibisikkan setan kepada mereka.

Para penguasa Arab mempertahankan batas-batas palsu Sykes-Picot yang diciptakan oleh kaum kafir penjajah. Sementara itu, para penguasa Muslim lainnya melakukan hal yang sama dengan mempertahankan batas-batas negara masing-masing yang digambar oleh penjajah, bahkan lebih daripada mereka mempertahankan nyawa mereka sendiri. Mereka rela mengorbankan nyawa saudara-saudara mereka asalkan batas-batas negaranya tetap aman. Pengkhianatan apakah yang lebih besar daripada ini?

Adapun tentara kaum Muslimin yang memiliki kekuatan untuk melepaskan diri dari para penguasa mereka, tetap memilih untuk menaati para penguasa Ruwaibidhah tersebut. Padahal, hal itulah yang menjadi sebab kehinaan mereka di dunia dan azab di akhirat karena meninggalkan jihad fi sabilillah, terlebih lagi ketika umat Islam sangat membutuhkan mereka.

Pada saat yang sama, umat Islam terus ditipu dengan apa yang disebut sebagai ‘penyelesaian internasional’. Sebagian umat Islam, bahkan gerakan-gerakan Islam sendiri, masih bergantung kepada PBB, Dewan Keamanan, atau Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Padahal, semua itu merupakan ilusi penyelesaian yang membutakan, yang telah terbukti tidak pernah menyelesaikan persoalan Palestina.

Institusi-institusi tersebut pada hakikatnya merupakan alat hegemoni Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Baratnya—kekuatan yang sama yang memasok senjata, dana, dan perlindungan melalui hak veto sehingga entitas Yahudi dapat terus membantai umat Islam di Gaza.

Umat Islam seharusnya menyadari bahwa mengharapkan keadilan atau penyelesaian dari Barat, institusi-institusi, dan hukum internasional yang mereka ciptakan, ibarat menyerahkan nasib sekawanan domba kepada serigala yang sedang kelaparan.

Satu-Satunya Penyelesaian yang Tersisa

Sudah lama kita menyaksikan, sejak dimulainya persoalan Palestina lebih dari 70 tahun yang lalu, berbagai bantuan kemanusiaan telah dikirimkan, berbagai konferensi telah diselenggarakan, berbagai resolusi telah disahkan, berbagai pernyataan dan kecaman telah dikeluarkan, banyak demonstrasi dilakukan di seluruh dunia, banyak salat hajat dan doa dipanjatkan, berbagai kampanye dan aksi boikot digerakkan, serta miliaran dana telah dikumpulkan. Namun, ternyata persoalan Palestina belum juga terselesaikan. Mengapa?

Jawabannya adalah karena seluruh solusi tersebut hanya berfokus kepada korban, sementara pihak yang dianggap sebagai pelaku terus dibiarkan. Menurut pandangan tulisan ini, satu-satunya solusi yang belum diambil adalah menghapuskan pihak yang disebut sebagai pemangsa, yaitu Yahudi, dan satu-satunya cara yang disebutkan adalah jihad fi sabilillah. Sayangnya, solusi ini tidak pernah diambil dan tidak ada tanda-tanda akan diambil oleh para penguasa yang dianggap berkhianat saat ini.

Atas dasar itu, satu-satunya harapan dan solusi yang tersisa adalah tegaknya Kh1lafah. Inilah yang sedang diupayakan oleh Hizb ut T@hr1r di seluruh dunia—berjuang untuk mengembalikan Daulah al-Kh1lafah ar-Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah, sebuah institusi politik umat Islam yang akan mempersatukan seluruh negeri kaum Muslimin, meruntuhkan batas-batas palsu nasionalisme, dan memobilisasi pasukan umat Islam dari Mesir, Yordania, Turki, Pakistan, Indonesia, Malaysia dan negeri-negeri lainnya di bawah satu panji—panji “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah”.

Kh1lafah yang akan menghadapi agresi Yahudi sekaligus membebaskan Tanah Palestina yang diberkahi dan mengembalikannya kepada umat Islam sebagai pemiliknya yang sah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Sesungguhnya imam (khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.”

[HR. Muslim]

Hari ini umat Islam sedang dibantai di Gaza, bahkan di berbagai penjuru dunia, karena perisai tersebut telah hilang seiring runtuhnya Kh1lafah di Istanbul pada tahun 1924. Tanpa perisai, darah umat Islam begitu mudah ditumpahkan. Tanpa perisai, umat Islam hidup tanpa pembela. Tanpa perisai, umat Islam ibarat anak ayam kehilangan induknya. Tanpa perisai, telah terbukti bahwa musuh sangat mudah menyerang umat Islam dari berbagai penjuru dengan berbagai cara.

Sesungguhnya Yahudi merupakan bangsa yang tidak mengenal bahasa apa pun di dunia selain bahasa perang. Inilah satu-satunya bahasa yang dipahami oleh kaum penjajah dan perampas tanah orang lain. Sayangnya, bahasa ini tidak pernah diajarkan oleh para penguasa yang berkhianat. Namun, insya Allah, bahasa inilah yang akan diajarkan oleh Kh1lafah kepada Yahudi ketika Kh1lafah berdiri dalam waktu yang tidak lama lagi.

Kita telah mengetahui bahwa menegakkan kembali Kh1lafah bukanlah perkara mudah dan membutuhkan usaha dari setiap Muslim di seluruh dunia. Atas dasar itulah Hizb ut T@hr1r senantiasa menyeru umat Islam, tanpa jemu, tanpa lelah dan tanpa berputus asa, untuk bergabung dalam barisannya demi merealisasikan kewajiban tersebut, sekaligus mewujudkan apa yang disebut tulisan ini sebagai mimpi buruk bagi Yahudi dan sekutunya.

Hizb ut T@hr1r juga senantiasa menyeru Ahlul Quwwah wal Man’ah (golongan yang memiliki kekuatan dan perlindungan) agar memberikan Nusrah (pertolongan) untuk menegakkan kembali Kh1lafah. Menurut tulisan ini, hanya dengan Kh1lafah Gaza, Masjidil Aqsa, bahkan seluruh Tanah Palestina yang diberkahi dapat dibebaskan. Dengan izin Allah, Nusrah akan segera datang dalam waktu yang tidak lama lagi.

Kesimpulan

Sesungguhnya berdirinya kembali Daulah al-Kh1lafah ar-Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah untuk kedua kalinya telah dijanjikan oleh Allah Swt. melalui lisan Rasul-Nya ﷺ, dan janji tersebut pasti akan terjadi dengan izin-Nya.

Pada saat itu, musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi akan benar-benar dilanda taufan yang akan melenyapkan mereka dari muka bumi ini, sehingga bumi kembali aman dari kaum perusak tersebut, kembali adil dengan diterapkannya hukum Allah Swt. secara kaffah dan kembali bercahaya dengan nur serta rahmat-Nya yang tercurah tanpa henti, insya Allah.

Wallahu a’lam.
Juru Bicara Hizb ut T@hr1r Malaysia

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi