Di tengah hiruk-pikuk harga bahan pokok yang mencekik dan tumpukan kasus mega korupsi yang tak kunjung usai, pemerintah kita justru melahirkan sebuah kebijakan yang memantik tanda tanya besar.
Baru-baru ini, terbit Perpres Nomor 8 Tahun 2026-2029 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan atau yang biasa disingkat RAN PE. Pertanyaannya, Benarkah ini yang sedang paling kita butuhkan?
Menanggapi hal ini, Cendekiawan Muslim, Ustadz Muhammad Ismail Yusanto atau yang akrab kita sapa UIY, mengangkat sebuah kritik tajam yang sangat mewakili keresahan publik. Di kanal YouTube UIY Official dalam tayangan berjudul “Tudingan Radikalisme, Proyek Siapa?”, beliau dengan sangat jernih mempertanyakan urgensi Perpres ini.
Berikut kutipan pernyataan beliau, “Betulkah persoalan nyata kita ini hari adalah soal ekstremisme? Saya kira publik melihat dengan sangat jelas bahwa persoalan yang nyata ini hari itu tak pernah keluar dari soal korupsi.”
Korupsi di negeri ini sudah bukan lagi penyakit kulit, melainkan kanker stadium akhir. Dari level bawah hingga para pembuat kebijakan, gurita korupsi terus menghisap darah rakyat. Namun, di saat yang sama, energi, dana dan narasi negara justru diarahkan besar-besaran untuk sebuah program “Pencegahan Ekstremisme”.
UIY mengingatkan kita bahwa Perpres RAN PE ini tidak jatuh dari ruang hampa. Ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari agenda global War on Terrorism dan War on Radicalism, yang rekam jejaknya sangat jelas, sering kali menjadikan umat Islam sebagai kambing hitam dan sasaran stigma.
Lebih jauh negara-negara Barat tidak akan pernah membiarkan kebangkitan Islam terjadi. Salah satu cara paling efektif untuk mencegah kebangkitan itu adalah dengan menciptakan “musuh imajiner” atau mendistorsi istilah-istilah agar umat Islam takut pada ajarannya sendiri.
Kebijakan-kebijakan di negeri-negeri Muslim hari ini sering kali bukanlah kebijakan yang lahir dari rahim kebutuhan rakyatnya, melainkan dikte dari kepentingan kapitalisme global.
Narasi War on Radicalism atau “ekstremisme” ini adalah alat. Alat untuk membungkam daya kritis umat yang menginginkan perubahan sistemis.
Ketika rakyat mulai sadar bahwa sistem demokrasi-kapitalis inilah yang memfasilitasi korupsi gila-gilaan, seperti yang disoroti oleh Ustadz Ismail Yusanto, maka oligarki dan kekuatan global butuh pengalih perhatian. Mereka butuh smokescreen atau tabir asap. Dan tabir asap yang paling laku dijual ke dunia internasional hari ini adalah isu “ekstremisme Islam”.
Maka, ketika ada regulasi seperti Perpres RAN PE 2026-2029 ini, umat Islam tidak boleh hanya melihat teks hukumnya saja. Kita harus melihat konteks globalnya. Siapa yang untung? Siapa yang dirugikan? Yang untung adalah para koruptor yang kejahatannya terabaikan karena aparat sibuk mengurus “radikalisme”. Yang dirugikan? Tentu saja umat Islam, yang dakwahnya diawasi, aktivitasnya dicurigai dan ajarannya distigmatisasi.
Persoalan utama kita hari ini bukanlah ekstremisme. Persoalan utama kita adalah ketiadaan penerapan syariat Islam secara kaffah yang digantikan oleh sistem kapitalisme yang secara bawaan memproduksi ketidakadilan, kemiskinan dan korupsi yang menggurita.
Jangan biarkan pikiran kita dijajah oleh narasi ketakutan yang dibuat-buat. Seperti yang dikhawatirkan oleh UIY, jangan sampai umat ini terus-menerus menjadi korban stigma.
Mari kita bangun kesadaran politik kita. Korupsi adalah musuh nyata di depan mata yang merampas hak-hak rakyat, sementara narasi ekstremisme adalah senjata politik untuk mengebiri kebangkitan umat. Teruslah berdakwah, teruslah mencerdaskan masyarakat dan jangan pernah takut menyuarakan kebenaran Islam.(fjn)
Sumber: https://www.facebook.com/profile.php?id=61594669986165
Views: 0
















