Siasat AS di Balik Pelucutan Hamas di Gaza

Oleh. Sahnita Ningsih
(Kontributor MazayaPost.com|Pemerhati Sosial dan Politik-Deli Serdang)

Pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhir Juli 2026 mengenai kesepakatan pelucutan senjata Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya di Jalur Gaza menyedot perhatian dunia internasional. Narasi yang dibingkai oleh Washington dan sekutunya menggambarkan langkah tersebut sebagai “terobosan bersejarah” dan “pijakan monumental menuju perdamaian dan keamanan yang langgeng” di bawah kerangka kerja Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian.

Pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata di Gaza patut dilihat sebagai bagian dari siasat Amerika Serikat dan Zionis Israel untuk melemahkan perjuangan rakyat Palestina. Ketika Hamas dan kelompok bersenjata diminta menyerahkan senjata, sementara Israel tetap memiliki kekuatan militer dan bahkan masih melakukan serangan, maka keseimbangan kekuatan menjadi semakin timpang. Gaza seolah diarahkan untuk menerima sebuah tatanan baru dengan mengurangi kemampuan rakyat Palestina untuk mempertahankan diri.

Di sinilah umat Islam perlu kembali mengingat mengapa sejak awal banyak pihak menolak skema BoP. Jangan sampai karena kata “perdamaian”, “rekonstruksi”, dan “stabilitas” terdengar begitu indah, umat lupa melihat siapa yang berada di balik kendali skema tersebut. Bergabung dalam BoP tanpa melihat kepentingan di baliknya berisiko menyerahkan Gaza ke dalam mulut harimau. Zionis Israel dan Amerika Serikat tetap memiliki pengaruh besar, sementara kelompok-kelompok yang selama ini melakukan perlawanan justru diminta kehilangan kekuatannya. Karena itu, penolakan terhadap BoP tidak semestinya hilang hanya karena hari ini ia dibungkus dengan bahasa perdamaian (AFP, 31/7/26).

Pelucutan senjata tanpa penyelesaian akar masalah berpotensi menjadi mekanisme pelemahan. Sebab, senjata bukanlah akar persoalan palestina. Akar persoalannya berkaitan dengan perebutan tanah, pendudukan, blokade, pengusiran, serta ketimpangan kekuasaan yang berlangsung puluhan tahun. Maka narasi damai melalui pelucutan perlu dikritisi, perdamaian yang menghilang kan kemampuan satu pihak untuk mempertahankan diri, tetapi tidak menyelesaikan sumber penindasan, berisiko hanya menjadi jeda sebelum ketidakadilan berikutnya.

Umat harus berani bertanya: Apakah dukungan terhadap agenda BoP benar-benar membebaskan Palestina, atau justru menjadikan negeri-negeri Muslim sebagai bagian dari skenario politik Amerika? Apakah keterlibatan tersebut memperkuat posisi umat, atau malah memperkuat mekanisme yang dapat melemahkan Palestina?

Terbukti bahwa pelucutan senjata bukan solusi bagi perdamaian, keamanan dan pembebasan Gaza. Penjajahan, perampasan tanah dan genosida atas Gaza akan terus dilakukan oleh Zionis Israel selama rakyat Palestina masih mempertahankan wilayahnya. Fakta yang terjadi, proyek pembangunan New Gaza terus berlanjut menggunakan aktor lokal agar dapat diterima. Penjajah begitu liciknya menggunakan tangan-tangan anteknya untuk melanggengkan penjajahan. Bahkan propaganda yang disuarakan “demi penyelamatan penduduk Gaza.”

Kenapa tidak dari dahulu? Kehadiran pasukan stabilitas Internasional tidak ditujukan untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Zionis Israel dan sekutunya, melainkan untuk memeperkuat posisinya diwilayah Gaza. Tidak pernah ada satupun negosisasi yang berjalan dengan adil, tidak ada satupun gencatan senjata yang ditaati penjajah dan berlangsung aman selama ini.

Sekarang, apakah umat mau mengulangi kesalahan yang sama dengan mengikuti kemauan penjajah melakukan pelucutan senjatan dengan janji kesepakatan damai? Baru berselang sehari serangan demi serangan dilancarkan dengan dalih kebohongan dan fitnah keji. Hal ini juga yang mereka lakukan terhadap negeri-negeri lain yang ingin mereka kuasai.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyampaikan sifat kaum Yahudi, salah satunya suka ingkar janji, ini yang seharusnya diwaspadai. Umat harus disadarkan akan bahaya AS dan zionis Israel yang terus membuat siasat licik untuk melanggengkan penjajahan atas Palestina. Allah Swt. berfirman, “Engkau pasti akan mendapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS Al-Maidah : 82)

Mereka akan melakukan segala cara untuk menguasai seluruh negeri-negeri Muslim, terutama Palestina tempat kiblat pertama umat Islam dan kota suci para Nabi. Tujuan ini telah lama menjadi agenda besar mereka yang selalu terhalang oleh tentara Hamas dan pasukan-pasukan lain yang terus mempertahankan wilayahnya.

Sejatinya, cara berpikir yang menyerukan kompromi dengan penjajah tidak akan melahirkan apa pun selain kehinaan, perpecahan, hilangnya negeri-negeri Islam, dan makin kokohnya dominasi kolonialisme. Sudah saatnya umat Islam bangkit, menyatukan barisan, dan mengemban tanggung jawab syar’i untuk membebaskan Palestina serta mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum muslim. Wallahualam bisawab.

Views: 1

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi