Oleh. Rahma Wati
(Kontributor MazayaPost.com| Pemerhati Sosial dan Politik-Deli Serdang)
Sedih bercampur miris. Saudara-saudara kita di Palestina sampai saat ini tidak bisa hidup dengan nyaman dan aman. Dikutip Republik.co.id, Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, menyampaikan peringatan soal potensi ledakan konflik menyusul aksi brutal tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat belakangan. Serangan-serangan itu terang-terangan dilakukan di wilayah yang diakui komunitas internasional sebagai wilayah Palestina.
Dalam pidatonya pada Selasa waktu setempat di hadapan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai Timur Tengah, termasuk isu Palestina, Alakbarov menyatakan bahwa hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 76 warga Palestina syahid di Tepi Barat sepanjang tahun 2026, termasuk 18 anak di bawah umur. Ia menambahkan bahwa pada tahun 2026 saja, 3.800 warga Palestina—yang hampir separuhnya adalah anak-anak—telah kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan oleh pemukim, pembongkaran bangunan, dan penggusuran (12/8/2026).
Kejahatan Zionis Israel terhadap anak-anak Palestina sampai saat ini terbukti sangat biadab dan menjijikkan. Zionis Israel masih terus menggencarkan niat jahatnya dengan cara meningkatkan teror, ribuan serangan, pengusiran, perampasan dan genosida dalam senyap untuk menguasai Tepi Barat sebagaimana mereka berhasil menguasai Gaza. Aksi brutal mereka menimbulkan trauma, penderitaan, dan kerusakan nyata bagi anak-anak Palestina.
Ironisnya, perhatian masyarakat saat ini tampaknya makin berkurang bahkan umat nyaris bungkam. Ditambah lagi hadirnya persoalan-persoalan dalam negeri semakin membuat umat saat ini tersibukkan serta teralihkan dari isu Palestina dengan status urgensinya. Umat tertekan akan kondisi ekonomi, pendidikan, tindakan kriminal, serta situasi politik yang carut marut. Belum lagi tambahan hiburan berupa entertaint media sosial yang dijadikan sumber peralihan dari sekelumit masalah. Sehingga, kesadaran umat akan situasi Palestina kembali terkubur dan tak terdengar lagi.
Rupa-rupa derasnya arus liberalisme Barat telah menorehkan keberhasilan untuk membuat pribadi umat berubah individualis, hanya memikirkan diri sendiri dan keluarganya saja. Bagi mereka, apa yang ada di luar dari itu bukanlah urusan yang harus apalagi wajib diperhatikan. Belum lagi dengan adanya sekat-sekat nasionalisme yang kian melekatkan pemahaman bahwa setiap negara hanya harus memikirkan negara ataupun bangsa mereka sendiri. Sungguh, nasionalisme telah mematikan hati nurani umat.
Sejatinya, nasionalisme tidak berasal dari Islam dan bertentangan dengan Islam. Rasulullah saw. bersabda, “Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada asabiah (nasionalisme/sukuisme), orang yang berperang karena asabiah, dan orang-orang yang mati karena asabiah.” (HR Abu Dawud).
Oleh karenanya, umat Islam harus berlepas diri dari ide nasionalisme dan memandang persoalan Palestina sebagai persoalan bersama umat Islam. Sebab, kejahatan Zionis pada anak-anak Palestina harus dilawan, sayangnya dunia dan para penguasa di negeri muslim justru bungkam dan tak berani memerangi Zionis Israel. Ikatan akidah dan ukhuwah islamiyyah mestinya menjadi pendorong terkuat para penguasa muslim mengirim tentara militer untuk menolong saudaranya di Palestina, tetapi mereka tidak melakukan itu.
Sesungguhnya Palestina butuh negara yang menjadi perisai dan menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman Zionis Israel. Palestina butuh dukungan negara dan militer yang kuat. Sebab, sejak awal pendudukan Palestina hingga saat ini, nasib Palestina mengenaskan. Oleh karena itu, satu-satunya sistem yang mampu menghentikan serangan brutal dari zionis Israel hanyalah sistem Islam.
Sistem Islam memiliki kepemimpinan yang satu dan mampu mengkomandoi serta melawan siapa saja yang mengancam jiwa dari kaum muslim. Satu nyawa saja dari kaum muslimin terbunuh berati telah membunuh seluruhnya. Sebagaimana firman Allah Swt., “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS. Al-Maaidah: 32)
Dari Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR.Muttafaq ‘alaih)
Kebutuhan akan perisai oleh kaum muslim adalah perkara yang paling mendesak. Sehingga tidak ada jalan lain selain berjuang untuk menghadirkannya. Menghendaki kehadiran pemimpin kaum muslim hanya akan diraih dengan persatuan dalam naungan Daulah Islamiyyah. Maka niscaya Islam akan menjadi negeri Adidaya yang akan menjamin kesejahteraan seluruh umat, termasuk menghentikan penderitaan Palestina dan negeri muslim lainnya. Wallahualam basawab
Views: 0
















