Oleh. Eka Hartati, S.Pd.
(Kontributor MazayaPost.com)
“Aku tahu harus menabung. Tapi hidup juga harus dinikmati.”
Kalimat ini akrab bagi banyak anak muda hari ini. Di satu sisi, lebih dari 48% Gen Z mengaku belum merasa aman secara finansial. Di sisi lain, di tengah tekanan ekonomi, pengeluaran untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru meningkat karena dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Gen Z sedang belajar menikmati hidup, atau mencari ketenangan dengan cara yang mahal?
Persoalan ini tidak sesederhana “boros versus hemat.” Di balik secangkir kopi, checkout barang incaran, atau liburan singkat, ada kebutuhan manusiawi untuk merasa bahagia. Namun, ketika uang digunakan untuk membeli ketenangan hari ini, muncul pertanyaan: siapa yang akan membayar kebutuhan kita di hari esok?
Bukan Sekadar Soal Boros
Jika dilihat dari permukaan, solusinya sederhana: Gen Z harus lebih pandai mengatur uang, mengurangi healing, dan memperbanyak tabungan. Namun, persoalannya lebih dalam. Generasi muda hidup dalam tekanan ekonomi ketika biaya kebutuhan terus meningkat, sementara penghasilan dan kesempatan memperoleh kehidupan layak tidak selalu sebanding.
Dalam sistem kapitalisme, individu cenderung didorong memenuhi kebutuhan melalui kemampuan masing-masing. Ketika tekanan meningkat, mereka pun dituntut bertahan sendiri. Tekanan itu bertemu dengan budaya sekuler-liberal yang menjadikan kebebasan dan kenikmatan sebagai bagian penting kehidupan. Self-reward, healing, dan konsumsi kemudian diposisikan sebagai cara memperoleh kebahagiaan sekaligus pelarian dari tekanan.
Media sosial memperkuatnya. Tren tentang tempat yang harus dikunjungi, makanan yang harus dicoba, barang yang harus dimiliki, hingga pengalaman yang layak dibagikan memicu FOMO (fear of missing out). Konsumsi pun bergeser dari “aku membutuhkan ini” menjadi “aku ingin merasakan apa yang orang lain rasakan.”
Lebih jauh, ada krisis yang sering luput: krisis makna hidup. Ketika tujuan hidup tidak jelas, kebahagiaan mudah diukur dari apa yang bisa dibeli dan dinikmati. Ketenangan dicari melalui konsumsi, kekecewaan diredakan dengan belanja, dan kekosongan ditutup dengan pengalaman baru.
Karena itu, persoalan Gen Z tidak cukup dijawab dengan, “Jangan boros!” Kita perlu bertanya: mengapa generasi muda merasa harus membeli kebahagiaan?
Islam Mengembalikan Makna Hidup
Jika persoalannya menyangkut sistem dan cara pandang, solusinya pun tidak cukup berupa nasihat mengatur keuangan. Dalam perspektif Islam, negara bertanggung jawab menjamin kesejahteraan rakyat. Negara Khilafah, melalui pengelolaan sumber daya alam sesuai syariat, menjamin kebutuhan dasar masyarakat serta menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap laki-laki memperoleh pekerjaan yang layak. Rakyat tidak dibiarkan menghadapi tekanan ekonomi sendirian.
Islam juga melindungi masyarakat dari gaya hidup hedonis dan budaya konsumtif. Media diarahkan untuk edukasi, membangun kesadaran, dan meningkatkan ketakwaan, bukan terus mendorong masyarakat mengejar tren dan kenikmatan material. Namun, hal yang paling mendasar adalah Islam membangun paradigma tentang tujuan hidup manusia.
Allah Swt. berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Dengan akidah yang kokoh, kebahagiaan tidak lagi diukur dari seberapa banyak yang dapat dibeli atau dinikmati. Materi menjadi sarana, bukan tujuan. Generasi muda memiliki visi yang lebih besar: meraih ridha Allah dan menjadi pembangun peradaban Islam.
Maka, menghadapi fenomena self-reward Gen Z, pertanyaannya bukan hanya “bagaimana agar mereka lebih hemat?” tetapi juga, “sistem seperti apa yang membentuk kehidupan mereka, dan nilai apa yang membentuk cara mereka mencari kebahagiaan?”
Sebab generasi yang kuat tidak lahir hanya dari kemampuan mengelola uang. Ia lahir dari sistem yang menjamin kehidupan, pendidikan yang membangun ketakwaan, dan visi hidup yang membuatnya tahu untuk apa ia hidup. Pada akhirnya, kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak yang kita nikmati, tetapi seberapa dekat kehidupan kita dengan ridha Allah.
Views: 0
















