Oleh. Vita Sari, A.Md.Ak.
(Kontributor MazayaPost.com| Pemerhati Sosial dan Politik-Deli Serdang)
Zionis Yahudi diam-diam membangun tembok tanah raksasa yang membelah lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza. Keberadaan penghalang ini terungkap melalui citra satelit, yang menunjukkan pembangunannya berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Dilansir dari Associated Pers, Selasa (21/7/2026), proyek tersebut dinilai semakin memperdalam pemisahan wilayah di Jalur Gaza, yang dihuni lebih dari dua juta penduduk. Sejauh ini, tembok yang dibangun Israel itu memanjang sejauh 23 kilometer, melintasi sejumlah permukiman Palestina yang telah hancur dibombardir Zioniz Israel.
Tembok ini memotong dan mengisolasi lebih dari 50% hingga 70% wilayah Gaza. Akibatnya, warga Gaza semakin terdesak dan menumpuk di koridor pesisir yang sempit. Area sekitar tembok telah berubah menjadi batas internal (buffer zona atau garis kuning) yang membawa dampak kemanusiaan yang sangat fatal, dimana warga sipil Palestina langsung ditembak atau dibunuh tanpa pandang bulu bila mendekat (KOMPAS com, 26/7/2026)
Pembangunan fisik seperti tembok pemisah, pagar pembatas, atau pos pemeriksaan oleh Israel di jalur Gaza merupakan siasat licik dari penjajahan. Masalah utamanya bukan tentang di mana tembok tersebut dibangun, melainkan hak eksistensi entitas Zionis Yahudi. Fakta ini menambah rentetan panjang penderitaan saudara kita di Gaza.
Perluasan kendali fisik Zionis Israel melalui tembok ini mempersempit ruang gerak bagi para pekerja kemanusiaan. Jalur logistik yang terputus mempersulit pengiriman makanan, obat-obatan, dan air bersih. Keadaan tersebut juga memperparah kondisi sanitasi buruk di mana 84% rumah tangga di Gaza mengalami krisis air parah. Hal ini terjadi karena kita masih terlena dengan fatamorgana dunia. Tidak ada lagi rasa simpati dan empati terhadap saudara seiman kita.
Begitu pula para pemimpin negeri muslim. Selama bukan negara yang mereka pimpin menjadi sasaran para Zionis, mereka tetap diam karena wilayahnya cukup aman. Terbukti, sikap dan respons para pemimpin negeri muslim terhadap tindakan militer Zionis Israel di Gaza, termasuk pembangunan tembok pemisah. Secara umum terbagi ke dalam dua wajah yakni, retorika kecaman keras dipanggung diplomasi dan realitas pragmatisme politik serta ekonomi dibalik layar.
Dalam sistem politik modern, sebagian besar pemimpin negeri muslim beroperasi dalam sistem sekuler atau nasionalis, di mana kepentingan nasional dan stabilitas ekonomi domestik sering kali lebih diutamakan dari pada solidaritas keagamaan total. Para pemimpin negeri muslim saat ini umumnya terjebak di antara dua dunia. Secara moral dan keagamaan, mereka wajib membela Palestina dan mengutuk fragmentasi wilayah Gaza. Namun secara sistem sekuler global, mereka bertindak sebagai kepala negara yang harus menghitung kalkulasi ekonomi, bantuan militer, hubungan dengan Amerika Serikat, dan stabilitas kekuasaan mereka sendiri.
Sungguh kezaliman terstruktur ini tidak bisa dihapuskan dari muka bumi. Selama yang berkibar bendera sekuler. Solusi hakiki untuk memberantas kezaliman ini kita harus kembali pada hukum syariat Islam. Sebab, solusi untuk kemerdekaan Palestina tidak akan pernah diraih jika masih mengikuti solusi dari Barat, yang merupakan musuh kaum muslim.
Solusi dua negara (two state solution) ataupun negosiasi batas wilayah. Tanah Palestina harus dikembalikan sepenuhnya kepada kaum muslim. Sementara eksistensi Zionis Yahudi, Israel, harus dihilangkan dari bumi Palestina.
Hukum Internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah terbukti mandul dalam menghentikan kebrutalan Zionis Israel. Segala bentuk resolusi dan kecaman dunia atas pembangunan tembok, maupun blokade Gaza, terbukti tidak berpengaruh bagi Zionis Israel.
Adapun Islam sangat menjunjung tinggi keadilan, kedamaian, dan perlindungan terhadap hak hidup serta ruang gerak manusia. Syariat hadir untuk menjaga Lima hal pokok yakni, agama, jiwa, akal, keturunan,dan harta. Selain itu, Islam menegaskan bahwa seluruh umat Islam adalah satu tubuh. Jika satu bagian tersakiti, maka bagian yang lain ikut merasakan sakit dan bergerak menolong.
Adapun pemimpin dalam Islam akan memprioritaskan keselamatan saudaranya diatas kepentingan materi atau hubungan bilateral dengan pihak yang menzalimi umat Islam. Sebab, pemimpin Islam berfungsi sebagai perisai diplomasi, ekonomi, maupun militer untuk melindungi kehormatan dan darah umat Islam dari kezaliman pihak luar. Islam memandang akar masalah Palestina adalah perampasan wilayah secara ilegal, sehingga solusinya harus menyentuh akar tersebut secara sistematis, syar’i dan strategis. Di bawah kepemimpinan Islam dengan menggunakan kekuatan militer atau paksaan politik internasional untuk meruntuhkan tembok pembatas, menghentikan blokade dan mengusir kekuatan penjajah dari bumi Palestina. Wallahualam bisawab.
Views: 2
















