Gen Z Terimpit: antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

Oleh. Dewi. R
(Kontributor MazayaPost.com)

Generasi Z atau Gen Z adalah kelompok demografis yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012. Mereka dikenal sebagai digital native karena tumbuh di tengah masifnya perkembangan teknologi internet dan media sosial sejak usia dini.

Pada faktanya, Gen Z lebih dari 48% menyatakan tidak merasa aman secara financial. Akar dari permasalahan itu sendiri adalah tekanan ekonomi yang meliputi biaya tempat tinggal dan kebutuhan pokok melonjak, sementara lapangan kerja semakin ketat dan tidak stabil. Lalu budaya hedonis, tren healing dan doom spending menjadi meningkat karena dianggap kebutuhan emosional bukan sekedar kemewahan.

Sistem kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang mengimpit Gen Z di mana biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Negara lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar sehingga generasi muda berjuang sendiri. Tekanan ekonomi dipengaruhi oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi hedonis sebagai solusi pelarian.

Media sosial juga terus mencekoki generasi dengan tren polular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. Di balik itu semua, ada krisis yang lebih dalam, yakni Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Sehingga kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari Ridha Allah dan kemuliaan Islam.

Negara Khilafah menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA dan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki sehingga rakyat, termasuk Gen Z, tidak berjuang sendiri. Selain itu, Islam menutup pintu gaya hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media dalam Khilafah akan disarankan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan.

Masa muda adalah masa membangun kapasitas, menuntut ilmu, bekerja, berkarya, berdakwah, dan memberikan kontribusi bagi umat. Inilah perbedaan mendasar antara paradigma kapitalisme dan Islam.

Kapitalisme menjadikan manusia sebagai konsumen dan pelaku ekonomi. Sementara Islam membentuk paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah. Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun generasi peradaban Islam.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi