Oleh. Ernita Setyorini, S.Pd.
(Kontributor MazayaPost.com| Pendidik)
Generasi Z merupakan generasi yang sejak kecil telah bersentuhan dengan internet baik dari media sosial dan berbagai platform digital lainnya. Dunia mereka juga dikenal dengan dunia yang responsif, serba instan dan bergerak secara cepat. Selain itu, generasi ini belum sepenuhnya mandiri secara financial yang bahkan sebagian kecilnya benar-benar ada diposisi independen penuh.
Hilmi Hafidlotus Saqofi, mahasiswa yang juga bekerja paruh waktu dengan mengembangkan bisnis online shop, mengaku selalu menyusun prioritas keuangan sebelum menggunakan penghasilannya. “Hal pertama yang saya lakukan adalah memastikan kebutuhan pokok, tabungan, serta modal usaha sudah terpenuhi. Setelah itu baru kalau masih ada sisa, saya alokasikan sebagian kecil untuk self-reward,” ujar Hilmi (Kompas.com, 22/8/2026)
Generasi Z atau yang sering disebut dengan Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Dimana fenomena yang sering muncul karena terhimpitnya kondisi ekonomi yang sering berubah-ubah dan belum adanya kesiapan individu dalam mengelola keuangan secara matang. Belum lagi dari tersudutnya ekspektasi sosial yang tinggi, tekanan digital, dan kepelikan terhadap pilihan hidup yang mengalami peningkatan.
Tanpa disadari, generasi Z membandingkan proses hidup mereka yang nyata dan penuh perjuangan dengan hasil akhir orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa.Perbandingan ini menciptakan tekanan batin yang tidak kecil. Banyak yang merasa tertinggal, tidak cukup baik, atau bahkan gagal padahal mereka masih berada di awal perjalanan hidup. Rasa cemas, overthinking, dan kehilangan motivasi menjadi dampak yang kerap muncul (Kompasiana.com, 22/8/2026).
Permasalahan ini bisa berujung pada masalah kesehatan mental seperti burnout, depresi, dan krisis identitas. Adanya krisis arah hidup berkaitan terhadap perubahan nilai yang terjadi di masyarakat. Padahal di tengah-tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z yang digunakan untuk self-reward, gaya hidup dan healing justru terus meningkat karena dianggap sebagai kebutuhan emosional bukan sekadar kemewahan.
Semua fenomena ini tidak akan mungkin terjadi dengan begitu saja melainkan adanya sistem kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi yang sangat mengimpit. Di mana ekonomi seharusnya sejahtera namun biaya hidup terus naik sementara gaji stagnan. Sementara itu, negara jutsru lepas tangan dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar sehingga generasi muda harus berjuang sendiri untuk memenuhi seluruh kebutuhannya.
Tekanan ekonomi ini makin diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang memisahkan agama dari kehidupan yang tanpa batas. Sehingga sistem yang diterapkan menjadikan healing, self-reward, dan konsumsi hedonis dijadikan sebagai “solusi” pelarian. Di mana Gen Z yang kini hidup di tengah bisingnya dunia digital namun sunyi secara emosional.
Gen Z yang aktif di media sosial seakan bahagia di layar gawai, ternyata kesepian dalam kehidupan. Padahal media sosial juga terus menanamkan kepada generasi dengan berbagai tren popular yang memicu FOMO dan budaya belanja impulsif. Mereka hidup berada di bawah tekanan “harus hadir sempurna” seolah-olah eksistensi bergantung kepada pandangan orang lain.
Di balik itu semua, kondisi yang dihadapi Gen Z ada krisis yang lebih dalam. Mereka tidak memahami tujuan hidupnya. Solusi krisis ini pastinya tidak bisa dipisahkan dari penerapan sistem yang baik dan sempurna yakni sistem Islam. Di mana kebahagiaan tidak diukur dari kenikmatan materi sesaat, tetapi dari ridha Allah dan kemuliaan Islam.
Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah. Islam memberikan solusi yang sudah jelas tentang ketenangan hakikatnya dari kedekatan kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, Gen Z harus menguatkan kembali hubungan spiritualnya dengan Allah baik melalui tadabur, zikir, dan amal saleh.
Dengan akidah yang kokoh, generasi akan menjadikan visi hidup sebagai pembangun peradaban Islam. Meskipun di dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk, iman akan menjadi jangkar kuat yang menjaga hati tetap kukuh menghadapi kenyataan. Krisis spiritual akan hilang dari akar yang terdalam apabila hubungan dengan Allah tetap terjaga.
Selain itu, dalam sistem Islam, negara berperan bukan sekadar regulator yang hadir saat permasalahan terjadi saja. Namun, negara akan menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA yang tidak semestinya dikuasai oleh segelintir pihak tetapi dikelola untuk kepentingan rakyat. Serta negara akan memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki sehingga rakyat termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri.
Siste Islam juga menutup segala pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media akan diarahkan untuk perkara edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat kepada Allah semata. Sehingga penggunaannya harus bijak seperti aktivitas yang bisa membangkitkan umat bukan justru tenggelam terhadap konkten yang nirfaedah. Dengan demikian adanya akal yang jernih dan hati bersih Gen Z seagai generasi produktif, kuat, dan mempunyai orientasi terhadap ridha Allah. Wallahualam bisawab
Views: 0
















