Oleh. Puji
(Kontributor MazayaPost.com)
Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia berbahagia merayakan peringatan Maulid dengan pembacaan shalawat, tablig akbar bahkan pawai. Peringatan Maulid Nabi saw. itu merupakan bentuk rasa syukur dan cinta atas datangnya cahaya petunjuk yang mengandung makna kemenangan.
Sebagaimana firman Allah Swt., “Dialah Tuhan yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun kaum musyrik tidak suka.” (QS At-Taubah: 33)
Namun, peringatan Maulid Nabi saw. oleh kaum muslim itu substansinya kerap berhenti pada aspek ritual, seremonial, dan emosional semata. Selain itu, pembahasan tentang ittiba’ kepada Nabi saw. pada momentum Maulid masih dibatasi pada keteladanan akhlak belum menyentuh kesadaran mengubah sistem jahiliyah penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah Swt.
Maulid tereduksi menjadi ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Padahal cinta kepada Rasulullah saw. harus melahirkan keterikatan kepada risalah dan perjuangan Islam yang Beliau bawa. Kaum muslim kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik melalui kapitalisme dan liberalisme yang menjadikan dunia dan hawa nafsu sebagai orientasi hidup. Terlebih banyaknya generasi muda muslim yang terpengaruh pada budaya hedonisme maupun pergaulan bebas yang menimbulkan kerusakan karena bertentangan dengan Islam.
Rasulullah saw. adalah teladan sempurna (uswah hasanah) bagi setiap muslim dalam memperjuangkan tegaknya ajaran Islam dan Al-Qur’an. Selama lebih dari dua puluh tiga tahun, masa Kerasulan Nabi Muhammad saw. tidak pernah memperjuangkan kepentingan pribadi, suku, maupun kelompok. Beliau semata mata berjuang mendakwahkan risalah Islam dan tauhid agar menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.
Ketika kaum Quraisy menawarkan kepada beliau berupa harta, kekuasaan, dan kedudukan
agar Beliau menghentikan dakwah Islam, sungguh Rasulullah saw. menolak semua tawaran itu dengan keteguhan yang sangat luar biasa. Inilah sikap Rasulullah saw. yang perlu kita teladani dalam kehidupan ini.
Sungguh, sikap tegas dan keteguhan Rasulullah saw. dalam memperjuangkan Islam dan Al-Qur’an ini bisa kita teladani dalam rangka terikat dengan Islam dan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia. Mengembalikan makna ittiba’ sebagai keterikatan kepada syariat Islam dan metode perjuangan Rasulullah saw., bukan sekedar ritual. Di mana Islam dan Al-Qur’an harus dijadikan pedoman dan diterapkan dalam kehidupan agar bisa membawa keberkahan dan rahmat bagi semesta alam.
Views: 1
















