Oleh. Afiyah Rasyad
(Tim MazayaPost.com)
Setiap tahun di tanggal 22 Oktober, negeri ini melaksanakan peringatan Hari Santri Nasional. Setiap tahun tema yang diusung berbeda. Peringatan Hari Santri Nasional yang digelar sejak 22 Oktober 2015 ini tentu perlu diapresiasi. Apalagi jumlah santri di negeri ini sangatlah besar.
Data Kementerian Agama RI per Oktober 2026 mencatat jumlah santri terverifikasi By Name By Address (BNBA) mencapai 4.634.406 santri. Empat koma enam juta jiwa. Mereka tersebar di puluhan ribu pondok pesantren dari Sabang sampai Merauke (kompas.com, 4/10/2026). Kondisi ini adalah potensi umat yang sangat luar biasa. Jumlah sebanyak itu bisa menjadi modal kekuatan peradaban yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.
Namun demikjan, ada pertanyaan tebersit,a kan dibawa ke mana potensi 4,6 juta santri ini? Untuk tujuan apa mereka dididik di pesantren bertahun-tahun?
Tema resmi Hari Santri Nasional 2026 dari Kementerian Agama RI adalah “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Sementara Nahdlatul Ulama (NU) mengangkat tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri.” Narasi resmi yang diarahkan adalah santri harus berperan aktif dalam pembangunan Indonesia, menjadi generasi berkarakter, produktif, kreatif, adaptif, menguasai iptek, memiliki kemandirian ekonomi, dan mengamalkan nilai agama dan kebangsaan (detik.com, 19/10/2026).
Mungkinkah Mencetak Santri Berideologi Islam dalam Sistem Kapitalisme?
Arah kebijakan Hari Santri 2026 memang bagus, yakni mendorong santri untuk berperan langsunh ke semua bidang pembangunan. Santri didorong menjadi entrepreneur, menjadi content creator, menjadi pekerja kreatif, pun menjadi teknokrat. Hal itu tentu sangatlah bagus, tak ada yang keliru ketika santri menguasai ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki kemandirian ekonomi. Namun demikian, apakah satu dekade peringatan Hari Santri Nasional telah nyata mencetak kader ulama?
Tak bisa dinafikkan, negara yang mayoritas penduduknya muslim dengan jumlah santri yang sangat banyak ini menganut ideologi kapitalisme. Akidah sekularisme mencengkeram setiap sendi kehidupan, termasuk di ranah pesantren. Adapun sekularisme jelas memisahkan agama dari ranah kehidupan dunia.
Santri didorong untuk berperan aktif dalam pembangunan versi sekuler-kapitalistik, yaitu pembangunan ekonomi dan industri. Akibatnya, peran utamanya sebagai kader ulama masa depan justru bergeser bahkan mungkin terpinggirkan. Sejatinha, pesantren didirikan bukan untuk mencetak tenaga kerja bagi korporasi. Pesantren didirikan untuk tafaqquh fiddin, mencetak ulama pewaris para Nabi.
Imam Al-Ghazali, Imam Syafi’i, Sultan Muhammad Al-Fatih, semua adalah produk dari sistem pendidikan Islam yang fokus melahirkan ulama dan pemimpin. Namun fakta saat ini, sebagian besar santri juga tak lepas dari perburuhan dengan dalih produktif dalam roda ekonomi.
Jika 4,6 juta santri ini hanya didorong untuk menjadi pelaku UMKM atau pekerja kreatif, siapa yang akan menjadi ulama yang membimbing umat di masa mendatang? Siapa yang akan menjadi mujtahid yang menggali hukum dari Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menjawab persoalan umat hari ini? Jika peran ini diabaikan, bisa jadi umat akan kehilangan mercusuarnya.
Dalam kaca mata kapitalisme, Hari Santri tampak seperti acara seremonial yang gegap gempita dengan dampak yang belum nyata. Setiap perayaan Hari Santri, festival, perlombaan, dan pameran digelar. Ada lomba hadrah, lomba pidato, kompetisi seni, olahraga, dan keterampilan, bahkan pernah makan bersama dan meraih rekor Muri. Semua itu memang meriah dan bagus untuk syiar. Akan tetapi, apakah esensi Hari Santri hanya sebatas perayaan?
Dalam kapitalisme, manusia dibuat menyukai hiburan dan perayaan tanpa paham esensi apa yang dillrayakan.
Jika peringatan Hari Santri hanya berhenti menjadi ajang seremonial tahunan, lomba-lomba, upacara, dan pembagian hadiah, maka hal itu bisa berakibat dunia santri kehilangan ruh dan cahaya perjuangan Resolusi Jihad yang dicita-citakan itu.
Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 bukan sekadar seruan untuk lomba. Spirit beliau adalah seruan untuk mengorbankan jiwa dan raga melawan penjajahan dan menegakkan agama Allah. Semangat itu seharusnya tidak diartikan dengan kompetisi seni semata, tetapi dengan kompetisi siapa yang paling berjuang membangkitkan kembali kejayaan Islam.
Peringatan Hari Santri jangan sampai terperangkap dalam jebakan nasionalisme spiritual yang sempit. Kapitalisme jelas mendewakan nasionalisme atau negara bangsa dalam kehidupan umat manusia, termasuk kaum muslim. Dalam narasi resmi disebutkan bahwa santri harus mengamalkan “nilai agama dan kebangsaan.” Pengamalan nilai agama dan kebangsaan ini kerap diarahkan pada nasionalisme spiritual yang sempit.
Santri diseru untuk berjuang di lingkup Indonesia semata. Seolah-olah batas perjuangannya adalah batas negara-bangsa (nation-state). Padahal sesama muslim bersaudar, wujud ukhuwah islamiyah sifatnya universal, bukam ukhuwah kebangsaan. Islam adalah risalah agung nan mulia yang datang untuk menyatukan umat melampaui batas negara bangsa atau nasionalisme.
Wajib diketahui, nasionalisme adalah konsep yang dibidani kafir penjajah Barat untuk memecah belah umat Islam menjadi lebih dari 50 negara kecil yang saling bertikai atau mengusung spirit kebangsaan sesuai batas teritprial. Padahal sebelumnya, umat Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam, sejak Rasulullah hijrah ke Madinah hingga runtuhnya Khilafah Utsmaniah tahun 1924.
Apabila santri hanya diajarkan spirit nasionalisme yang sempit, bagaimana nasib 20 ribu pelajar yang gugur di Palestina? Bagaimana nasib kaum muslim di Rohingya, Uighur, Kashmir? Bagaimana pula nasib santri di Yaman, Sudan, dan wilayah Timur Tengah yang tertimbah bencana kemanusiaan atau penjajahan? Apakah putus persaudaraan dengan mereka karena beda negara? Tentu tidak.
Mengembalikan Peran Hakiki Santri
Santri adalah amanah khusus bagi generasi muslim yang harus menempa diri dalam dunia pesantren. Di dalamnya mereka berkhidmat pada tsaqofah Islam untuk diamalkan, diterapkan, dan diperjuangkan penerapannya dalam kehidupan individu, masyarakat dan juga negara. Santri, wali santri, para pengajar dan pengasuh pesantren, serta masyarakat luas harus memahami peran hakiki santri senagai kader ulama dan calon pemimpin peradaban mulia.
Peran utama dan pertama seorang santri adalah menjadi kader ulama. Ulama adalah pewaris para Nabi (waratsatul anbiya). Ulama adalah penjaga agama, penunjuk jalan bagi umat, dan pemberi peringatan bagi penguasa yang zalim.
Angka 4,6 juta santri ini harus dipersiapkan dengan kurikulum yang benar sesuai amanat Ilahiaj untuk menjadi ulama. Santri diarahkan untuk bisa menguasai Bahasa Arab, Ushul Fiqih, Fiqih, Tafsir, Hadits, Sirah, dan juga menguasai tsaqofah umum berupa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab tantangan zaman, bukan sebatas diajari keterampilan vokasional semata. Pesantren harus kembali menjadi mercusuar pencetak ulama yang mujtahid, bukan sekadar pencetak tenaga kerja.
Santri seharusnya tidak hanya dipersiapkan untuk “menguatkan negeri menuju Indonesia Emas,” tetapi dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dan pejuang yang membangun kembali peradaban Islam yang di seluruh penjuru dunia.
Tinta emas sejarah membuktikan, peradaban Islam adalah peradaban yang gemilang selama 13 abad lebih. Peradaban Islam banyak ulama seperti Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Al-Ghazali, dll. Peradaban Islam juga melahirkan ilmuwan yang kokoh keimanannya seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Jazari, Ibnu Firnas, dll.
Seluruh kaum muslim wajib membangun kembali peradaban Islam yang mulia, terutama kalangan santei. Keikhlasan, kegigihan, kesederhanaan, ketekunan, dan keilmuan santri adalah modal paling berharga untuk membangun peradaban mulia. Santri harus disadarkan bahwa perannya bukan sekadar membangun Indonesia, tetapi membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin untuk seluruh dunia.
Santri dan seluruh kaum muslim wajib memahami bahwa datangnya Islam telah menyatukan umat melampaui batas nasionalisme. Umat Islam adalah satu tubuh. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Perumpamaan kaum mukmin dalam kasih sayang dan cinta mereka seperti satu tubuh, jika satu anggota sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)
Persatuan ini tidak akan terwujud hanya dengan seremonial dan doa bersama. Persatuan Islam membutuhkan institusi politik yang menyatukan, butuh satu kepemimpinan umat. Telah ditetapkan dengan sangat jelas dalam ajaran Islam yang benar bahwa satu kepemimpinan itu adalah kepemimpinan seorang khalifa dan satu institusi pemersatu umat adalah Khilafah.
Khilafah akan mampu mengakomodir potensi besar santri, pun mampu menyatukan 4,6 juta santri di Indonesia dengan jutaan santri dan pemuda Islam di berbagai wilayah lainnya seperti Mesir, Turki, Palestina, Pakistan, dll. Khilafah yang akan mengerahkan seluruh potensi umat, santri untuk berjuang melanjutkan kehidupan Islam dalam satu kepemimpinan sehingga terwujud peradaban mulia. Khilafah juga akan mengembalikan pesantren kepada peran aslinya sebagai pusat peradaban, pusat pencetak ulama dan pemimpin dunia, bukan pengekor kebijakan kapitalisme Barat.
Khatimah
Hari Santri 2026 seharusnya menjadi momentum muhasabah bersama. Dengan 4.634.406 santri, kaum muslim punya kekuatan besar. Kurang tepat jika potensi besar santri hanya diarahkan pada spirit perjuangan nasionalisme atau kebangsaan. Kurang tepat pula apabila para santri dibuai dengan berbagai perlombaan, festival, dan euforia perayaan seremonial semata. Saatnya santri bangkit berkhidmat pada ilmu untuk berjuang membangun peradaban mulia dalam naungan institusi Islam. Wallahualam bisawab.
Views: 0
















