Oleh. Noor Fadhilah
(Kontributor MazayaPost.com| Aktivis Muslimah-Deli Serdang)
Kasus percobaaan bunuh diri kembali terjadi baru-baru ini, pada Kamis, 10 September 2026. Seorang mahasiswa Fakultas Universitas Brawijaya (UB) berinisial RR (19) diduga mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai enam gedung kampus. Beberapa hari sebelumnya juga terjadi hal serupa di kawasan GBK, Jakarta Pusat. Seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dengan dugaan bunuh diri. Sebelum kejadian, ia sempat mengunggah pesan perpisahan dan menyumbangkan uang sebesar Rp40 juta kepada komunitas yang bergerak di bidang kesehatan mental (Kompas.id, September 2026).
Berdasarkan data layanan hotline pencegahan bunuh diri Healing119.id, dalam kurun waktu setahun tercatat 3.000 lebih pengakses dengan indikasi keinginan mengakhiri hidup dan sebanyak 7.000 lebih orang dan sebanyak 7.000 lebih orang yang melakukan konseling. Dan mayoritas berasal dari kelompok berusia 21-30 tahun dengan 54,08 persen, dan 11-20 tahun sebesar 33,04 persen (CNA.id, 11/9/2026).
Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa krisis mental sedang menggerogoti generasi muda saat ini. Kondisi ini terjadi dikarenakan akidah yang tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekularisme benar-benar memisahkan peran akidah dari seluruh lini kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Agama hanya diajarkan sebagai mata pelajaran, bukan sebagai sandaran kehidupan. Maka dari itu, saat tekanan dari segala tuntutan datang, mereka tidak memiliki tumpuan untuk berpegang. Tanpa iman sebagai benteng, masalah terus terasa tak ada habisnya dan berujung putus asa.
Kondisi teraebut diperparah oleh kapitalisme. Di saat akidah dan keimanan tidak lagi menjadi landasan, materi dan prestasi pribadi yang menjadi tolak ukur perbuatan. Segala tuntutan harus mencapai kesuksesan, sedangkan kegagalan dianggap sebagai aib yang harus disembunyikan. Selain itu, kapitalisme membentuk masyarakat yang individualistik. Pada akhirnya, setiap orang harus berjuang sendiri dalam situasi lemahnya ikatan sosial yang terjalin diantara masyarakat, dan kesepian makin merajalela.
Inilah buah dari negara yang menerapkan sekulerisme-kapitalisme, akibatnya terbentuk individu yang rapuh dan masyarakat yang individualistik. Di saat krisis datang, pertolongan pun sangat terbatas. Tidak ada pegangan, tidak ada teman, yang ada hanya kesepian dan keputusasaan.
Penanganan atas rapuhnya mental generasi muda harus dimulai dari dasar, melalui penguatan akidah. Pasalnya, akidah merupakan pemikiran mendasar dan menyeluruh yang berfungsi sebagai satu-satunya landasan berfikir (qa’idah fikriyah), yang membentuk pola pikir (‘aqliyyah islamiyah), dan mengarahkan pola sikap (nafsiyyyah islamiyah) seorang muslim dalam seluruh aspek kehidupan. Melalui pembentukan aqidah yang kokoh sejak dini, seorang muslim dituntun untuk memandang dan menjalani hidup secara benar.
Seorang muslim menyadari bahwa Allah tidak akan pernah memberi ujian melewati batas kemampuan hambanya,
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah: 286)
Dan memahami bahwa bunuh diri haram hukumnya,
وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An-Nisa: 29)
Keyakinan inilah benteng terkuat untuk melawan keputusasaan, dan inilah yang tidak dimiliki generasi pada saat ini. Jika akidah Islam sudah tertanam dalam setiap individu, maka akan terciptalah masyarakat yang disatukan oleh pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama. Akidah akan menjadi pengikat yang kuat, menjadikan masyarakat yang saling peduli, memahami dan merangkul. Tidak ada yang dibiarkan menganggung beban sendirian dengan rasa kesepian.
Semua itu akan kita dapatkan ketika negara menerapkan syariat Islam secara kaffah, karena dalam sistem Islam negara akan menjamin kebutuhan primer setiap individu serta penyediaan fasilitas publik. Termasuk menetapkan kurikulum pendidikan berdasarkan akidah Islam. Sinergi antara sistem pendidikan dan jaminan kesejahteraan ini pada akhirnya melahirkan ketahanan mental generasi serta masyarakat yang saling peduli, bukan generasi yang rapuh dan terisolasi. Wallahualam bisawab.
Views: 1
















