Mari kita duduk sejenak. Biarkan dunia sedikit melambat. Sebab kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban yang cepat, melainkan hati yang jernih untuk melihat ironi di sekitar kita.
Hari ini mata dunia tertuju ke Barat. Di sana, di negara-negara kapitalis yang kita kenal makmur, rakyat justru turun ke jalan. Mereka berdemonstrasi. Mereka memprotes kebijakan-kebijakan kapitalisme yang terasa kejam, yang menekan kehidupan mereka. Prancis adalah contoh terdekat yang muncul di layar berita, unjuk rasa jalanan penuh massa dan kemarahan yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Tetapi, Ironinya ada di negeri kita. Di saat rakyat di negara kapitalis bangkit melawan sistem yang menindas mereka, para pendatang baru dalam kancah politik di negeri kita, yang masih mengaku sebagai kaum reformis, justru berharap kebangkitan ekonomi dengan bertumpu pada sistem kapitalisme itu sendiri. Pada investasi Barat yang sama, pada resep yang sama, pada jalan yang sama.
Padahal, sejarah sudah terlalu sering memberi kita pelajaran. Sistem yang menindas rakyatnya sendiri tidak akan tiba-tiba menjadi penyelamat ketika dibawa ke negeri kita. Kapitalisme yang kejam di Paris tidak akan menjadi kapitalisme yang ramah di Jakarta, Bandung atau di kota-kota lain di negeri kita. Ia tetap memiliki wajah yang sama, mengejar untung, menekan yang lemah dan sering melupakan manusia.
Dan di titik ini, ada satu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang seharusnya membuat kita berhenti dan merenung. Allah berfirman:
أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
“Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi mereka? Sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah.”
(QS. An-Nisa’: 139)
Maka pertanyaannya sederhananya adalah kepada siapa kita mencari kemuliaan? Kepada modal asing? Kepada investor yang datang dengan kalkulator, bukan dengan kasih sayang? Kepada sistem yang di negeri asalnya sendiri sedang dilawan rakyatnya? Atau kepada Allah, pemilik segala kemuliaan?
Kemuliaan sebuah bangsa tidak dibeli dengan investasi. Kemuliaan tidak diimpor. Kemuliaan lahir dari keadilan, dari keberpihakan pada rakyat kecil, dari keberanian mengatakan “tidak” pada sistem yang zalim.
Mari kita bertanya pada diri sendiri. Ketika kita melihat Prancis terbakar oleh protes, apakah kita hanya menonton? Ataukah kita belajar? Ketika para politisi baru di negeri kita mengaku reformis, apakah kita masih percaya pada kata-kata? Atau kita mulai menuntut bukti kebijakan yang berpihak pada rakyat, bukan pada pemodal yang sama-sama kita kenal?
Sebab ironi yang paling memalukan bukanlah ketika rakyat Barat melawan kapitalisme. Ironi yang paling memalukan adalah ketika kita, yang mengaku beriman dan merdeka, justru menaruh harapan pada sistem yang sama. Pada kekuatan yang sama. Pada kemuliaan yang bukan miliknya.
Maka, jangan cari kemuliaan di tempat yang salah. Jangan gantungkan masa depan bangsa pada sistem yang sudah terbukti melukai rakyatnya sendiri. Kembalilah pada keadilan. Kembalilah pada keberpihakan pada manusia. Dan ingatlah, semua kemuliaan itu milik Allah melalui penerapan Syariah secara Kaffah dalam bingkai Khilafah.
Views: 1
















