Bulliying Merusak Masa Depan Generasi

Oleh. N. Istiqomah
(Kontributor MazayaPost.com)

Kembali terjadi perundungan pada seorang pelajar. Kasus meninggalnya siswa kelas 2 SD di Pemalang akibat perundungan oleh kakak kelasnya, menambah kasus bullying/kekerasan di kalangan pelajar. Mirisnya hal ini terjadi di Lingkungan Pendidikan yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi para peserta didik.

Dari berbagai kasus yang terjadi data pemantauan JPPI (Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia) menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus kekerasan disatuan pendidikan selama periode 2020–2025. Tercatat pada tahun 2020 terdapat 91 kasus, meningkat pada tahun 2021 menjadi 142 kasus dan 194 kasus pada tahun 2022. Jumlah kasus masih terus bertambah menjadi 285 kasus pada tahun 2023.

Peningkatan yang lebih tajam terlihat pada tahun 2024 dengan 573 kasus, dan kembali meningkat pada tahun 2025 menjadi 614 kasus. Secara keseluruhan, data memperlihatkan tren kenaikan jumlah kasus dari tahun ke tahun dalam periode pemantauan tersebut.

Potret buram generasi saat ini tidak terlepas dari penerapan sistem pendidikan yang diterapkan. Sistem sekuler kapitalistik yang digunakan hari ini menjadi asas pendidikan yang terbukti gagal melahirkan generasi berkualitas, karena sejak awal memang tidak didesain untuk itu.

Sistem sekuler memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, pendidikan hanya berorientasi pada aspek materi dan keterampilan duniawi, sementara aspek ruhiyah, akhlak, dan tujuan penciptaan manusia dikesampingkan. Lahirlah generasi yang pintar secara kognitif namun miskin adab, cerdas secara teknologi namun rapuh mental, berprestasi akademik namun melakukan bullying, tawuran, seks bebas, hingga bunuh diri. Inilah bukti nyata generasi yang cacat karena kehilangan prinsip, nilai dan pedoman hidup.

Di sisi lain, watak kapitalistik menjadikan pendidikan sebagai komoditas bisnis, bukan membentuk generasi cerdas dan berkepribadian. Kurikulum pun disetir oleh kepentingan pasar dan korporasi, bukan untuk membentuk kepribadian unggul, melainkan untuk mencetak tenaga kerja murah dan konsumen setia bagi industri kapitalis. Dan peserta didik hanya diajarkan untuk menghafal demi nilai dan ijazah demi kerja, bukan untuk memahami hakikat kehidupan dan memecahkan persoalan umat.

Kondisi yang terjadi secara sistemis ini tentu butuh peran negara. Di mana saat ini negara abai terhadap kasus bullying, dan tidak serius dalam menangani kasus ini. Terbukti dengan makin meningkatnya kasus bullying yang terjadi di lingkungan pendidikan.

Islam mempunyai seperangkat aturan yang komprehensif dalam mewujudkan generasi yang berkualitas, yaitu dengan penerapan sistem pendidikan Islam berbasis akidah Islam. Negara bertanggung jawab atas keberlangsungan pendidikan, mulai dari penyediaan fasilitas pendidikan, guru yang kompeten serta kurikulum yang mampu mewujudkan generasi bersyakhsiyah Islam

Selain peran negara, diperlukan pula kontrol keluarga sebagai benteng pertama. Keluarga wajib menanamkan akidah yang kuat, adab, dan empati sejak dini. Orang tua tidak boleh abai terhadap perilaku anak, baik sebagai pelaku maupun korban. Pengawasan terhadap gadget, pergaulan, dan pembentukan karakter di rumah akan mencegah benih-benih perilaku merundung.

Disatu sisi, diperlukan pula kontrol masyarakat sebagai lingkungan yang tidak mentolerir kekerasan. Sekolah, teman sebaya, dan lingkungan sekitar harus memiliki budaya amar makruf nahi mungkar, berani menegur, melaporkan, dan tidak membiarkan praktik perundungan dianggap sebagai candaan.

Namun, semua itu tidak akan efektif tanpa peran negara dengan aturan yang tegas. Harus ada sanksi yang menjerakan bagi pelaku perundungan. Negara dalam Islam berkewajiban menghadirkan sistem pendidikan yang dapat membentuk kepribadian Islam dan mampu menghadirkan sistem sanksi yang adil. Dengan demikian, peran negara sangat dibutuhkan dalam membentuk generasi berilmu, bersyahsiyah dan mampu membawa pada kebangkitan hakiki. Wallahualam.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi