Telaah Kitab Nizhamul Iqtishadi fil Islam, Pengantar Sistem Ekonomi Islam Part 1

Bayangkan sebuah bangsa. Suatu pagi mereka bangun dan menemukan harta benda mereka telah diluluhlantakkan, pabrik-pabrik terbakar, ladang-ladang gersang, emas dan perak lenyap. Namun di dada mereka masih tersimpan sesuatu yang utuh. Dalam hitungan tahun, bahkan lebih cepat, mereka bangkit kembali. Mengapa? Karena yang mereka jaga bukan emas, melainkan cara mereka berpikir.

Sebaliknya, bayangkan bangsa lain. Gedung-gedung mereka menjulang, mesin-mesin berputar, pasar mereka ramai. Namun pemikiran mereka telah mati. Mereka hanya meniru, hanya mengonsumsi, hanya mengikuti. Perlahan, tanpa mereka sadari kekayaan itu menguap. Mereka menjadi miskin di tengah kemewahan.

Inilah kebenaran mendasar yang pernah diungkapkan dengan sangat jernih oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam karya fenomenalnya, Kitab Nizhamul Iqtishadi fil Islam.

Pemikiran bagi umat manapun adalah kekayaan terbesar yang mereka miliki. Ia adalah peninggalan paling berharga yang akan diwarisi oleh generasi penerus, jika umat itu ingin memiliki identitas yang cemerlang.

Adapun kekayaan material, berbagai penemuan ilmiah, ragam rekayasa industri dan hal-hal lainnya, sesungguhnya masih jauh kedudukannya dibandingkan dengan pemikiran. Bahkan pencapaian semua kekayaan material tersebut bergantung pada pemikiran dan pelestariannya pun bergantung pada pemikiran. Pasalnya, jika kekayaan material sebuah bangsa hancur, maka dengan cepat mereka akan mampu memulihkannya kembali selama mereka mampu memelihara kekayaan pemikiran mereka. Sebaliknya, jika kekayaan pemikiran sebuah bangsa telah diabaikan, meski mereka mampu melestarikan kekayaan materialnya, maka kekayaan itu akan segera lenyap dan mereka akan kembali menjadi miskin.

Bukan mesin yang menyelamatkan sebuah umat dan bukan uang. Yang menyelamatkan adalah metode berpikir yang produktif. Jika metode itu hilang, maka segala penemuan akan musnah dan umat itu akan mundur ke belakang, meski dulu mereka pernah berdiri di puncak.

Yang dimaksud dengan pemikiran di sini adalah adanya aktivitas berpikir pada diri umat tentang realitas kehidupan yang mereka hadapi. Maknanya, mereka masing-masing secara keseluruhan selalu menggunakan informasi (pengetahuan) yang mereka miliki ketika mengindera berbagai fakta yang ada untuk menilai fakta tersebut. Dengan kata lain, mereka selalu memiliki pemikiran yang bisa mereka gunakan dalam kehidupan mereka. Dengan seringnya mereka menggunakan pemikiran tersebut, akan muncul pada diri mereka metode berpikir yang produktif.

Umat Islam pernah hampir kehilangan metode berpikir ini. Kita sempat lumpuh. Kita sempat hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Namun alhamdulillah, sejak beberapa tahun terakhir, cahaya itu mulai kembali menyala. Dakwah Islam yang berorientasi pada upaya melanjutkan kehidupan Islam melalui penegakan kembali Daulah Khilafah ar-Rasyidah telah berhasil mengarahkan kaum Muslim kepada agamanya. Mereka mulai percaya lagi kepada pemikiran Islam dan hukum-hukumnya.

Memang, pemikiran-pemikiran kapitalistik maupun sosialistik yang mendominasi di negeri-negeri kaum Muslim telah terbongkar aib dan kerusakannya. Namun kenyataan pahitnya umat Islam masih berada dalam dominasi orang-orang kafir dan para antek mereka. Mereka bekerja dengan memanfaatkan segala macam sarana yang busuk serta beragam cara yang menyesatkan untuk menutupi pemikiran-pemikiran mereka yang bobrok sekaligus menyebarluaskannya ke negeri-negeri kaum Muslim, khususnya yang terkait dengan berbagai solusi ekonomi.

Maka pertanyaannya, Apa yang sedang kita jaga dengan segenap jiwa?
Apakah kita sibuk mempertahankan bangunan material yang suatu hari bisa runtuh ataukah kita sedang memelihara pemikiran yang mampu membangun kembali segala sesuatu yang runtuh?

Pemikiran Islam yang utuh, yang bersumber dari aqidah yang lurus, yang melahirkan sistem ekonomi yang adil, itulah warisan terbesar yang harus kita serahkan kepada anak-anak kita. Bukan sekadar rekening bank atau ijazah. Melainkan cara mereka memandang dunia, menilai fakta dan mengambil keputusan berdasarkan cahaya wahyu.

Jagalah pemikiran, karena di atas dasar pemikiran yang produktif itulah kekayaan material akan diraih, penemuan ilmiah akan lahir dan peradaban akan berdiri tegak.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi