Wibawa Guru Tergerus, Dampak Sistem Kapitalisme

Oleh. Yusairoh

(Kontributor MazayaPost.com| Ideologis Pemerhati Umat)

 

Video siswa acungkan jari tengah ke guru di Purwakarta kembali menampar wajah pendidikan kita. Dilansir dari Detik Jabar (18/4/2026), sejumlah siswa SMAN 1 Purwakarta menunjukkan sikap tidak pantas mengejek hingga mengacungkan jari tengah ke guru saat KBM berlangsung. Peristiwa tersebutpun menuai banyak hujatan dari para warganet, karna dianggap mencerminkan sikap krisis etika dan penghormatan kepada guru.

 

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi langsung merespons kejadian tersebut. “Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut dan kronologinya saya sudah mendengarkan paparan dari Dinas Pendidikan,” kata Dedi dalam keterangannya, Sabtu (18/4/2026). Dalam menindak lanjuti kejadian ini Dedi mulyadi menuturkan bahwa orang tua dari siswa telah di panggil ke sekolah, pihak sekolah pun telah memberi sanksi berupa 19 hari skorsing kepada siswa. Namun sanksi ini dinilai belum mencapai akar masalah sikap sifat siswa, ada dorongan untuk hukuman yang edukatif dan berefek jera.

 

Krisis Adab di Sistem Sekuler

Pelecehan guru bukan sekadar kenakalan remaja. Ini gejala sistem pendidikan sekuler liberal yang memisahkan ilmu dari adab. Guru diposisikan sebagai penyedia jasa bukan pendidik ruhani, sehingga wibawanya mudah runtuh.

 

Banyak tindakan siswa yang menunjukan sikap sikap yang tidak senonoh terhadap gurunya, semua itu di buat hanya demi konten belaka untuk mengejar pengakuan di media sosial. Mereka menganggap standart keren bergeser ketika berani melawan guru adalah hal yang hebat, bukan memuliakan ilmu. Hal ini muncul pertanyaan bagi kita semua, kenapa siswa berani melakukan hal tersebut?

 

Jika dilihat dari peristiwa ini siswa selalu berani melakukan sikap yang tak senonoh kepada guru karna setiap hukuman yang di berikan berupa hukuman yang lembek, tidak menjerakan. Tak hanya itu guru menjadi serba salah dalam kejadian seperti ini, menegur keras berisiko di tuntut, diam berarti pembiaran. Sistem hukum yang sekuler membuat guru tak berdaya mendisiplinkan murid.

Kasus ini bukti buah dari sistem pendidikan sekuler liberal. Membentuk sikap siswa yang tidak beretika, bahkan tidak ada rasa khidmat kepada guru. Padahal seharusnya sekolah adalah tempat yang membentuk karakteristik siswa agar selalu berakhlak mulia dalam berbuat, namun ini malah sebaliknya.

 

Hal ini juga di karenakan tidak adanya landasan akidah yang mengikat, menjadikan siswa seenaknya dalam bertindak tanpa ada standart baik atau buruk. Ketika akidah telah menjadi dasar dan terikat maka segala perilaku seseorang akan lebih berhati hati, karna mereka bersikap akan sesuai dengan akidah tersebut.

 

Solusi Islam untuk Mengembalikan Wibawa Guru

solusi yang hakiki dalam kejadian ini maka pendidikan harus membentuk Syakhshiyah Islamiyyah, pola pikir dan pola sikap sesuai syariat. Adab kepada guru diajarkan sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah, bukan sekadar etika sosial. Tak hanya itu saja, tayangan yang menormalisasi pembangkangan, pelecehan, dan kekerasan terhadap guru harus dibersihkan dari ruang digital.

 

Negara wajib menjaga atmosfer yang memuliakan ilmu dan ulama. Segala hukuman yang di berikan saat ini pun tidak cukup membuat jera. Dalam Islam, sanksi berfungsi sebagai penebus dosa bagi pelaku dan pencegah bagi yang lain. Efeknya nyata, adil, dan mendidik, bukan sekadar skorsing yang bisa dirayakan. Karena Islam memilik hukuman yang menjerakan berupa jawabir dan zawabir.
Islam memosisikan guru sebagai pewaris nabi. Negara wajib menjamin kesejahteraan dan kedudukan tinggi bagi guru. Ketika guru dihargai negara, murid dan masyarakat otomatis menaruh hormat.

 

Kasus Purwakarta bukan aib satu sekolah. Ini alarm bahwa sistem sekuler kapitalistik telah gagal menjaga muru’ah guru. Selama pendidikan dicabut dari akidah dan hanya jadi komoditas, wibawa guru akan terus direndahkan. Solusinya bukan tambal sulam kurikulum, tetapi rombak total dengan asas Islam.

 

“Hendaklah kamu semua memuliakan para ulama karena mereka itu adalah pewaris para nabi. Maka, siapa memuliakan mereka, berarti memuliakan Allah dan rasul-Nya.” (HR Al Khatib Al Baghdadi dari Jabir ra, Kitab Tanqihul Qaul)

 

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi