Oleh. Asyrofah
(Kontributor MazayaPost.com)
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan lonjakan drastis kekerasan yang dilakukan oleh pemukim ilegal Israel di Tepi Barat sepanjang tahun 2026. Data menunjukkan adanya rata-rata 190 serangan per bulan, dengan proyeksi mencapai 2.000 kasus hingga akhir tahun. Lonjakan ini bukan sekadar kriminalitas biasa.
Menteri Luar Negeri Otoritas Palestina, Varsen Aghabekian Shahin, menegaskan bahwa serangan para pemukim Yahudi ilegal ini dikoordinasi, dipandu, dan dilindungi secara langsung oleh pemerintah serta militer Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu.
Aksi teror ini telah merenggut sedikitnya 20 nyawa warga Palestina hingga awal Agustus 2026. Sementara itu, Otoritas Palestina sendiri mengaku tidak berdaya untuk memberikan perlindungan fisik secara langsung kepada rakyatnya dan hanya mampu bergantung pada jalur diplomasi internasional yang mandul.
Meningkatnya aneksasi wilayah di Tepi Barat melalui ribuan serangan, ancaman, teror pemukim ilegal, hingga penghancuran puluhan masjid merupakan bukti nyata bahwa zionis Israel tidak pernah berniat menghentikan agresinya.
Agenda ini semakin dipertegas dengan rencana pembangunan 2.300 unit perumahan baru bagi pemukim ilegal zionis. Tindakan sepihak ini membuktikan secara gamblang bahwa zionis Israel akan terus melakukan perluasan wilayah demi mewujudkan cita-cita politik mereka, yaitu mendirikan “Israel Raya” (The Greater Israel).
Fakta ini sekaligus menelanjangi ilusi diplomasi internasional. Aneksasi dan kekerasan terus berjalan masif sekalipun PBB dan mayoritas negara di dunia melayangkan kecaman internasional.
Bagi zionis, kemerdekaan sejati bagi bangsa Palestina adalah hal yang mustahil diberikan karena bertentangan secara diametral dengan proyek Israel Raya. Oleh karena itu, konsep “Solusi Dua Negara” (Two-State Solution) yang selama ini dijajakan oleh Barat dan diadopsi oleh para pemimpin dunia muslim hanyalah sebuah utopia yang mustahil disepakati oleh entitas zionis.
Di sisi lain, konflik ini terus dipelihara sebagai ladang bisnis geopolitik bagi Amerika Serikat (AS). Melalui strategi Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, proyek “New Gaza” mulai digulirkan secara masif. Alih-alih menghentikan penjajahan, keterlibatan dewan keamanan internasional ini justru menjadi kedok baru bagi AS untuk menancapkan pengaruh bisnis dan kekuasaan ekonominya di tanah Palestina, sembari melucuti potensi perlawanan fisik umat Islam.
Solusi Islam
Menghadapi kenyataan bahwa jalur diplomasi internasional dan kecaman PBB selalu menemui jalan buntu, umat Islam harus melihat persoalan Palestina dengan kacamata ideologis yang jernih melalui langkah strategis berikut:
1. Umat harus dipahamkan bahwa entitas zionis Israel secara alamiah mustahil diajak berdamai.
2. Mengharapkan perdamaian dari penjajah adalah bentuk kenaifan politik. Kata kunci untuk membebaskan tanah Palestina secara total hanyalah melalui jihad dan persatuan militer negeri-negeri muslim secara nyata.
2. Membongkar Topeng Dewan Perdamaian (BoP):
Narasi-narasi perdamaian yang disuarakan oleh BoP harus dibongkar di hadapan umat. Umat tidak boleh tertipu atau memberikan dukungan kepada penguasa mereka untuk bergabung dengan badan tersebut. Menyerahkan urusan Palestina kepada BoP yang disetir AS adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap perjuangan kaum muslimin.
3.Mengglorifikasi Dakwah Politis bagi Khilafah:
Persatuan negeri-negeri muslim tidak akan pernah terwujud selama sekat-sekat nasionalisme sekuler masih diadopsi. Oleh karena itu, perjuangan untuk menyatukan seluruh potensi politik dan militer kaum muslimin di bawah satu kepemimpinan umum—yaitu sistem Khilafah Islamiah—harus semakin masif disuarakan melalui dakwah politis yang terstruktur di tengah-tengah umat.
Hanya dengan institusi politik global yang independen dan berdaulat inilah, kekuatan militer kaum muslimin dapat dikonsolidasikan secara resmi untuk mengusir penjajah zionis dari tanah Tepi Barat dan seluruh bumi Palestina.
Views: 0
















