Ada Apa dengan Pendidikan Kita?

Oleh. Sahnita Ningsih
(Kontributor MazayaPost.com| Pemerhati Sosial Politik-Deli Serdang)

Minimnya jumlah murid baru di sejumlah sekolah dasar negeri pada tahun ajaran 2026/2027 menjadi perhatian publik. Di berbagai daerah, terdapat SD Negeri yang hanya menerima beberapa murid, bahkan ada yang sama sekali tidak memperoleh peserta didik baru. Fenomena ini sebagaimana diberitakan dalam liputan Metro TV pada 28 Juli 2026.

Fenomena kekurangan murid di sejumlah sekolah dasar tidak sepatutnya dianggap sebagai persoalan biasa. Bangku-bangku kosong di ruang kelas dapat menjadi sinyal adanya perubahan demografi, pergeseran pilihan masyarakat, maupun persoalan kepercayaan terhadap lembaga pendidikan.

Memang, menurunnya jumlah anak usia sekolah di suatu wilayah dapat menjadi salah satu faktor. Namun, jika pada saat yang sama sebagian masyarakat justru memilih lembaga pendidikan lain, persoalan tersebut patut dilihat lebih jauh. Artinya, sepinya sekolah negeri tidak selalu dapat dijelaskan hanya dari sisi jumlah penduduk, tetapi juga perlu dikaitkan dengan bagaimana masyarakat menilai kualitas dan arah pendidikan yang ditawarkan.

Kasus minimnya murid di sejumlah SD Negeri bukan sekadar persoalan administratif sekolah. Di dalamnya terdapat persoalan demografi, preferensi sosial, kemampuan ekonomi, hingga kekhawatiran orang tua terhadap masa depan anak.

Di tengah persoalan tersebut, sebagian orang tua memilih sekolah berbasis agama karena berharap anak tidak hanya memperoleh kemampuan akademik, tetapi juga mendapatkan pembinaan moral dan keagamaan. Maraknya kenakalan remaja, perundungan, penyalahgunaan narkoba, serta berbagai bentuk kekerasan yang melibatkan anak dan remaja menjadi kekhawatiran tersendiri bagi keluarga.

Sekolah yang memberikan perhatian lebih besar terhadap pendidikan agama kemudian dipandang mampu memberikan lingkungan pendidikan yang lebih mendukung pembentukan karakter. Rutinitas ibadah, pembelajaran akhlak, dan penguatan nilai-nilai agama menjadi daya tarik bagi orang tua yang menginginkan pendidikan anak tidak berhenti pada kemampuan literasi dan numerasi.

Perubahan kurikulum yang berulang dan kebijakan pendidikan yang dinilai belum konsisten juga dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat. Orang tua tentu mengharapkan sistem pendidikan yang memiliki arah jelas dan mampu menjawab kebutuhan anak, bukan sekadar mengalami pergantian kebijakan secara berkala.

Persoalannya, pendidikan tidak hanya berbicara tentang bagaimana seorang anak memperoleh nilai akademik yang baik. Pendidikan juga berkaitan dengan pembentukan kepribadian, sikap, dan nilai yang akan menjadi bekal anak dalam menjalani kehidupan.

Di sinilah persoalan pendidikan perlu dilihat lebih mendalam. Jika sekolah hanya ditekankan untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kemampuan akademik, sementara pembentukan kepribadian dan moral kurang mendapatkan perhatian, maka pendidikan berpotensi kehilangan salah satu fungsi pentingnya.

Dalam perspektif Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus tanggung jawab negara. Negara berkewajiban menyediakan pendidikan yang berkualitas, merata, dan dapat diakses oleh seluruh rakyat tanpa membedakan latar belakang ekonomi maupun tempat tinggal.

Pendidikan dalam Islam tidak hanya bertujuan menghasilkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan juga diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam yang kokoh, sehingga ilmu yang dimiliki tidak terlepas dari ketakwaan dan akhlak.
Karena itu, negara tidak cukup hanya membangun gedung sekolah atau memperbaiki administrasi pendidikan.

Negara harus memastikan bahwa kurikulum, tenaga pendidik, lingkungan pendidikan, serta tujuan pembelajaran benar-benar diarahkan untuk membentuk generasi yang berkualitas secara intelektual sekaligus memiliki kepribadian yang baik. Negara juga harus menjamin pemerataan pendidikan. Di mana pun masyarakat tinggal, mereka harus dapat menjangkau lembaga pendidikan dengan mudah dan memperoleh pendidikan dengan kualitas terbaik.Jangan sampai kualitas pendidikan ditentukan oleh kemampuan ekonomi orang tua atau lokasi tempat tinggal.

Dengan demikian, persoalan minimnya murid di sejumlah SD Negeri tidak cukup diselesaikan hanya dengan menggabungkan sekolah, memindahkan peserta didik, atau memperbaiki tata kelola administratif. Yang lebih penting adalah melakukan evaluasi terhadap arah dan tujuan sistem pendidikan secara menyeluruh.

Masyarakat membutuhkan pendidikan yang mampu mencerdaskan sekaligus membentuk kepribadian anak. Ketika negara mampu menghadirkan pendidikan yang berkualitas, merata, terjangkau, dan selaras dengan kebutuhan pembentukan karakter, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan akan tumbuh kembali.

Bangku-bangku kosong di sejumlah sekolah negeri semestinya tidak hanya dipandang sebagai angka dalam laporan penerimaan peserta didik baru. Ia adalah pesan bahwa masyarakat sedang menunjukkan pilihan dan harapannya terhadap masa depan pendidikan anak-anak mereka. Negara perlu membaca pesan tersebut dengan serius dan menjadikannya sebagai momentum untuk melakukan perbaikan pendidikan secara mendasar. Wallahualam bisawab.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi