Oleh. Afiyah Rasyad
(Tim MazayaPost.com)
Denting jarum jam berdetak maju
Mengiringi embusan napas yang menderu
Rangkaian harapan terajut dalam pilu
Nyawa mengantre dalam panjangnya waktu
Jemari menari di antara lemahnya diri
Menanti dalam ramai tanpa empati
Curahan hati berbuah komentar sengit berapi-api
Di tengah sekarat seakan tak ada empati
Riuh suara tak mampu menabur suka
Dunia maya turut mengubur bahagia
Penantian saat bertaruh nyawa
Ada kalkulasi kelas yang jelas menganga
Perintah masuk ke ruang kosong
Bak petir menyambar di siang bolong
Berharap ditolong
Hujatan lantang melolong
Kabar duka datang
Permohonan maaf turut hadir usai meradang
Tak dipikir saat lisan menjadi pedang
Berapa hati retak dan terluka hingga nyawa melayang
Yusrizal bukan satu-satunya
Pelayanan seakan hanya bagi orang kaya
Empati raib entah ke mana
Kala kebijakan tak datang dari Sang Pemilik nyawa
Views: 0
















