Oleh. Intan
(Reporter Tim MazayaPost.com)
Ustazah Aliya dalam majelis rutin Liqo Gawiqu mengangkat tema “Muhasabah Cinta.” Mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar perasaan, ucapan, atau banyaknya shalawat yang kita lantunkan. Cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah kewajiban, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 24, “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”
Apa sebenarnya makna cinta?
Cinta adalah kesediaan untuk menaati dan kesediaan untuk berkorban.
Sebagaimana kecintaan Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Rasulullah ﷺ. Umar bin Khattab pernah mengatakan bahwa satu malam Abu Bakar lebih baik daripada keluarga Umar. Malam yang dimaksud adalah malam perjalanan hijrah saat Abu Bakar menemani Rasulullah ﷺ bersembunyi di Gua Tsur dari kejaran kaum kafir Quraisy. Abu Bakar berjalan bergantian di depan dan di belakang Rasul karena sangat khawatir ada musuh atau pengintai yang datang menyerang Rasulullah ﷺ.
Kecintaan Abu Bakar bukan sekadar ucapan. Ia rela meninggalkan kenyamanan, mempertaruhkan keselamatan, bahkan mengorbankan dirinya demi Rasulullah ﷺ.
Maka, jika kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, bagaimana bentuk cinta kita hari ini?
Salah satu bentuk cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah membela dan memperjuangkan risalah yang beliau ajarkan serta apa yang beliau tinggalkan untuk umatnya. Lalu, apa yang Rasulullah ﷺ tinggalkan?
1. Al-Qur’an dan As-Sunnah
Rasulullah ﷺ meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman bagi umat.
“Aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik)
Namun, bagaimana keadaan Al-Qur’an dan As-Sunnah di tengah kehidupan umat hari ini?
Bukankah banyak di antara kita yang hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang dibaca, tetapi belum menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan?
Allah Swt. menggambarkan keluhan Rasulullah ﷺ dalam QS. Al-Furqan ayat 30, “Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.’
Al-Qur’an memang dibaca. Tetapi fungsi Al-Qur’an tidak berhenti sebagai bacaan.
Al-Qur’an adalah hudan (petunjuk), tibyan (penjelas), syifa (penyembuh), busyra (kabar gembira), nadhir (peringatan), dan rahmat bagi manusia.
Karena itu, interaksi kita dengan Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti pada membaca. Kita perlu membaca, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan.
Sebab, jika kita benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, tentu kita tidak ingin risalah yang beliau bawa berhenti pada diri kita sendiri. Kita ingin ajaran tersebut dipahami, diamalkan, dan disampaikan kepada orang lain.
2. Kepedulian terhadap Umat
Rasulullah ﷺ juga meninggalkan umat.
Maka, mencintai Rasulullah ﷺ berarti memiliki kepedulian terhadap umat yang beliau cintai.
Apakah kita merasakan duka dan kegelisahan Rasulullah ﷺ terhadap umatnya?
Apakah kita peduli ketika umat jauh dari ajaran Islam?
Apakah kita merasa sedih ketika Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak dijadikan pedoman dalam kehidupan?
Hari ini, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ sering kali ditunjukkan melalui shalawat, pujian, dan berbagai bentuk ekspresi kecintaan. Semua itu baik. Namun, cinta tidak cukup hanya diungkapkan dengan lisan.
Cinta harus dibuktikan dengan tindakan.
Jika kita mencintai Rasulullah ﷺ, maka kita harus peduli terhadap risalah yang beliau bawa dan peduli terhadap umat yang beliau cintai.
Jadi, Apa Bukti Cinta Kita kepada Rasulullah ﷺ?
Bukti cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya dengan mengatakan, “Aku mencintai Rasulullah.”
Tetapi dengan:
1. Menjalankan perintahnya.
2. Meninggalkan apa yang dilarangnya.
3. Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
4. Mengamalkan ajaran yang beliau bawa dalam kehidupan.
5. Mendakwahkan risalah Islam kepada orang lain.
6. Peduli terhadap kondisi umat dan berusaha memperbaiki keadaan mereka.
Abu Bakar telah menunjukkan bahwa cintanya kepada Rasulullah ﷺ membuatnya rela meninggalkan kenyamanan dan mempertaruhkan keselamatan.
Lalu, bagaimana dengan cinta kita kepada Rasulullah ﷺ? Apakah cinta itu sudah membuat kita rela berkorban untuk risalah yang beliau bawa? Apakah cinta itu sudah membuat kita peduli terhadap keadaan umat?
Jangan sampai lisan kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi kehidupan kita justru jauh dari ajaran yang beliau bawa. Sebab cinta yang sejati akan melahirkan ketaatan, pengorbanan, kepedulian, dan perjuangan.
Views: 0
















