Oleh. Marsa Qalbina N.
(Kontributor MazayaPost.com| Aktivis Ideologis)
Dikutip dari KOMPAS.com, krisis murid terjadi di sejumlah wilayah provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), bahkan ada juga yang tidak mendapatkan murid untuk tahunnajaran 2026/2027. Salah satunya SD Negeri 3 Blumbang, tidak menerima murid sama sekali (15/07/2026).
Beberapa penyebabnya diantara lain:
1. Penduduk usia muda mulai berkurang
Peneliti Senior Lembaga Demografi FEB UI Turro Wongkaren membenarkan bahwa rendahnya daya serap SD menunjukkan penurunan penduduk berusia muda.
2. Perpindahan masyarakat dari desa ke kota. Turro juga mengungkapkan “walaupun angka kelahiran di perkotaan secara total lebih rendah dar di perdesaan, dampak di perdesaan juga diperkuat oleh migrasi desa kota, umumnya yang melakukan perpindahan adalah penduduk usia produktif (sekaligus pasangan usia subur).”
3. Banyaknya pilihan sekolah
4. Perpindahan domisili
5. Berkurangnya minat orang tua ke sekolah negeri, dan lain sebagainya.
Adapun solusi yang ditawarkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yakni dengan regrouping atau penggabungan bagi SD Negeri yang kritis dan kekurangan murid. Jika digabungkan, gedung sekolah yang kosong dapat dialihfungsikan oleh pemerintah daerah untuk jenjang pendidikan lain yang membutuhkan, seperti pembangunan SMP atau SMA negeri baru.
Namun jika melihat opsi yang ditawarkan pemerintah, hal tersebut tak menjadi solusi yang solutif. Diantaranya karena, jarak ke sekolah makin jauh; ongkos transportasi bertambah dan waktu tempuh lebih lama. Ketimpangan wilayah makin terasa; desa yang sekolahnya ditutup bisa dianggap kurang diperhatikan. Murid di sekolah tujuan bisa membludak; sehingga kelas menjadi lebih padat dan perhatian guru ke tiap siswa berkurang. Risiko putus sekolah meningkat; terutama untuk siswa dari keluarga kurang mampu yang kesulitan biaya transport atau harus membantu orang tua.
Penyebab-penyebab yang terjadi, salah satunya seperti perubahan struktur demografi, dimana terdapat daerah yang jumlah penduduk usia tua lebih banyak dibandingkan penduduk usia muda. Perubahan ini terjadi karena beberapa hal, diantaranya: program pemerintah yang menekan angka kelahiran, biaya hidup semakin tinggi; banyak pasangan muda yang belum siap secara ekonomi untuk memiliki anak, atau memilih menunda punya anak, lapangan kerja dan penghasilan belum stabil; karena itu, sebagian orang khawatir tidak dapat membiayai kebutuhan anak di masa depan.
Selain itu, tingkat urbanisasi semakin besar. Banyak penduduk desa pindah ke kota karena berharap mendapatkan pekerjaan dan penghasilan lebih baik. Hal ini terjadi karena pendapatan dan fasilitas di desa masih tertinggal dibandingkan kota. Sudah jelas akibat dari perpindahan ini, jumlah anak usia sekolah di desa makin berkurang yang menyebabkan sekolah di desa bisa kekurangan murid.
Banyak pula orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah yang memiliki pendidikan agama yang kuat dari pada ke sekolah negeri. Pilihan ini menunujukkan kekhawatiran orang tua terhadap kondisi pergaulan dan perkembangan moral remaja saat ini. Sudah banyak fakta yang menunujukkan tindakan tercela yang lahir dari generasi muda. Inilah buah dari sistem yang mencampakkan hukum Allah, pendidikan dibangun atas asas liberal yang menekankan kebebasan individu, sehingga kurikulum lebih banyak diarahkan kepada pencapaian akademik dan kebutuhan pasar kerja. Pengajaran juga kerap kali berhenti hanya pada sebatas teori dan hafalan semata, tanpa dibiasakan untuk diamalkan sehari-hari.
Sementara pembinaan akhlak, adab, dan tanggung jawab moral belum menjadi perhatian utama, dari sini dikhawatirkan lahirnya generasi yang hanya cerdas dalam akademik tetapi lemah dalam moral. Akibatnya pelajar bisa lebih mudah terpengaruh pergaulan bebas, kekerasan, perundungan, dan lain-lain.
Solusi Islam
Islam memandang pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi negara. Negara seharusnya bertanggung jawab menjamin pemerataan pendidikan berkualitas dan gratis bagi rakyatnya. Adapun sumbernya dibiayai dari Baitul Mal, yaitu lembaga keuangan negara untuk kepentingan umat. Seperti, dana pendidikan digunakan untuk membangun sekolah dan perpustakaan, menggaji guru, serta mendukung kegiatan keilmuan, sehingga masyarakat memperoleh pendidikan tanpa dipungut biaya.
Sistem pendidikan dalam Islam, dalam institusi Khilafah, menggunakan kurikulum berbasis akidah, sehingga output yang dihasilkan adalah yang berkepribadian Islam dan mahir dalam
iptek. Negara benar-benar hadir dalam menyediakan SDM guru yang berkualitas, infrastruktur, serta sarana dan prasarana yang mendukung.
Maka dari sini, kita perlu menyadarkan masyarakat bahwa tak hanya sekadar bisa menyelamatkan anaknya dari bahaya kerusakan generasi tetapi juga menyadarkan bahwa ini adalah kerusakan sistemik, akibat penerapan sistem sekuler-liberal. Dengan dakwah politik, kita dapat membangun kesadaran politik masyarakat. Hal ini sangat penting, karena kebijakan negara sangat memengaruhi kehidupan rakyat, salah satunya seperti pendidikan. Dengan kesadaran itu, masyarakat diharapkan terdorong untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh dan meninggalkan sistem liberal yang membawa banyak kerusakan bagi generasi dan peradaban.
Views: 0
















