Hari Tahanan Palestina, Bukti Gagalnya Dunia Menghentikan Penjajahan

Oleh. Hadaina, M.Psi (Kontributor MazayaPost.com| Konselor)

Setiap tanggal 17 April, rakyat Palestina dan masyarakat dunia memperingati Hari Tahanan Palestina. Peringatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan pengingat bahwa ribuan warga Palestina hingga hari ini masih berada di balik jeruji penjara Zionis dengan berbagai bentuk penyiksaan yang terus berlangsung. Pada peringatan Hari Tahanan Palestina tahun ini, berbagai aksi solidaritas dan protes digelar di sejumlah negara untuk menuntut pembebasan tahanan Palestina, terlebih setelah rezim Zionis mengesahkan undang-undang yang membuka jalan bagi pemberlakuan hukuman mati terhadap tahanan Palestina (CNN Indonesia, 19/04/2026; ANTARA, 19/04/2026).

Data menunjukkan bahwa sejak pendudukan Palestina pada tahun 1967, diperkirakan sekitar satu juta warga Palestina atau hampir 20 persen dari total populasi Palestina pernah mengalami penahanan oleh otoritas Zionis. Saat ini tercatat sekitar 9.600 warga Palestina masih mendekam di penjara-penjara Zionis (Anadolu Agency Infografis, 2026; PALINFO, 18/04/2026).

Hal yang lebih memilukan, berbagai laporan organisasi kemanusiaan dan media internasional mengungkap kondisi para tahanan yang sangat mengenaskan. Mereka mengalami pemukulan, penyiksaan fisik dan psikis, kelaparan, pelecehan seksual, hingga kematian di dalam tahanan. Bahkan sejumlah pihak menyebut penjara-penjara Zionis telah berubah menjadi laboratorium kebrutalan terhadap rakyat Palestina (MINA News, 2026; PALINFO, 18/04/2026).

Rentetan fakta tersebut menunjukkan bahwa penderitaan rakyat Palestina bukanlah insiden yang terjadi sesekali, melainkan bagian dari pola penindasan yang berlangsung secara sistematis selama puluhan tahun. Di balik tembok-tembok penjara Zionis, hak-hak dasar manusia yang sering didengungkan dunia internasional seolah kehilangan makna.

Sayangnya, banyak pihak masih memandang persoalan Palestina sebatas isu kemanusiaan atau pelanggaran hak asasi manusia. Padahal, realitas yang terjadi jauh lebih besar dari itu. Penjajahan yang dilakukan Zionis atas Palestina tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari proyek politik global yang mendapatkan dukungan politik, ekonomi, diplomatik, bahkan militer dari negara-negara besar Barat. Dukungan tersebut membuat berbagai kejahatan yang dilakukan Zionis dapat terus berlangsung tanpa konsekuensi yang berarti.

Dalam konteks ini, kegagalan sistem internasional semakin tampak nyata. Berbagai resolusi yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-bangsa selama puluhan tahun tidak mampu menghentikan penjajahan, apalagi membebaskan Palestina. Berulang kali dunia menyaksikan pelanggaran hak asasi manusia terjadi secara terang-terangan, namun respons yang muncul sebatas kecaman, pernyataan keprihatinan, atau diplomasi yang tidak menghasilkan perubahan signifikan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: jika lembaga internasional benar-benar dibangun untuk menjaga perdamaian dan melindungi hak-hak manusia, mengapa penderitaan rakyat Palestina terus berlangsung hingga hari ini?

Bagi umat Islam, persoalan Palestina tidak dapat dipisahkan dari identitas akidah dan sejarah umat. Palestina bukan sekadar wilayah geografis yang sedang berkonflik, melainkan tanah yang memiliki kedudukan penting dalam Islam. Karena itu, penderitaan rakyat Palestina seharusnya dipandang sebagai persoalan umat Islam secara keseluruhan, bukan hanya urusan bangsa Palestina semata.

Kesadaran inilah yang perlu terus dibangun. Umat Islam harus memahami bahwa Palestina merupakan qadhiyah islamiyyah, yakni persoalan yang terkait langsung dengan kehormatan dan kepentingan umat Islam. Kepedulian terhadap Palestina tidak boleh lahir hanya karena rasa iba sesaat yang muncul ketika melihat gambar atau video penderitaan rakyat Palestina. Kepedulian tersebut harus tumbuh dari keyakinan bahwa membela saudara sesama Muslim merupakan bagian dari konsekuensi keimanan.

Karena itu, umat Islam tidak boleh menggantungkan harapan penyelesaian Palestina kepada lembaga-lembaga internasional yang selama ini terbukti gagal menghentikan penjajahan. Diperlukan kesadaran politik umat yang lebih mendalam untuk memperjuangkan pembebasan Palestina secara nyata dan mendasar.

Selama akar persoalan tidak disentuh, penderitaan rakyat Palestina akan terus berulang dalam berbagai bentuk, termasuk melalui penahanan massal yang setiap tahun terus bertambah. Hari Tahanan Palestina seharusnya menjadi momentum untuk membuka mata dunia bahwa penjajahan belum berakhir dan bahwa ribuan tahanan Palestina masih menunggu hadirnya kekuatan yang benar-benar mampu menghentikan kezaliman yang mereka alami.

Palestina tidak membutuhkan sekadar simpati. Palestina membutuhkan pembebasan yang nyata. Dan selama penjajahan masih berdiri, perjuangan untuk membebaskan Palestina akan tetap menjadi agenda yang tidak boleh dilupakan. Wallahualam bisawab.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi