Oleh. Ledy Ummu Zaid
(Kontributor MazayaPost.com)
Sebagai muslim, kita tidak bisa menutup mata terhadap persoalan Palestina. Faktanya, Zionis Israel memang masih terus meluluhlantakkan tanah Baitul Maqdis ini. Terhitung sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 70.000 ribu orang telah meregang nyawa akibat agresi militer Yahudi tersebut. Tak hanya itu, warga sipil juga banyak yang ditahan dan disiksa oleh tentara Zionis.
370 Anak Palestina Dipenjara Israel
Dilansir dari laman kompas.com (28/08/2026), sekitar 370 anak Palestina dipenjara oleh Zionis Israel. Hal ini berdasarkan laporan Palestinian Center for Prisoners’ Advocacy. Kebanyakan dari mereka ditahan di penjara Megiddo dan Ofer. Hingga kini, sudah lebih dari 9.000 orang menjadi tahanan Israel. Adapun poin penting lainnya adalah lebih dari 50.000 kasus penangkapan anak Palestina oleh Israel terjadi sejak tahun 1967.
Abden Nasser Farawneh selaku Kepala penelitian Komisi Palestina Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan mengatakan setidaknya 16.655 kasus penangkapan anak-anak Palestina telah terjadi. Hal ini berlangsung sejak Intifada Al-Aqsha pada 2000 silam, seperti yang dilansir dari laman sumut.antaranews.com (29/04/2019).
Farawneh juga menjelaskan bahwa penangkapan anak kecil merupakan bagian dari kebijakan sistematis Israel. Dalam hal ini, Zionis dapat memutar-balikkan kenyataan dan masa depan yang dimiliki anak-anak Palestina tersebut.
Kemudian, dilansir dari laman spiritofaqsa.or.id (28/08/2026), Pusat Pembela Tahanan Palestina mendesak PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), UNICEF (United Nations Children’s Fund), dan lembaga internasional lainnya agar serius dalam menangani persoalan penyekapan anak-anak Palestina ini. Harapannya, jumlah korban tersebut tidak hanya menjadi deretan angka di papan statistik saja, tetapi memang ada tindak lanjutnya, khususnya rehabilitasi dan sanksi. Bagaimanapun penyekapan terhadap anak akan memberikan dampak yang besar, baik di masa sekarang maupun masa depan.
Kapitalisme Melancarkan Kejahatan Zionis Israel
Tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana kondisi warga sipil Palestina atas penjajahan Zionis Israel. Terbukti, puluhan ribu nyawa telah melayang dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini. Agresi militer Israel telah menargetkan seluruh warga, mulai dari anak-anak, perempuan, dan lansia (lanjut usia). Adapun penangkapan anak di bawah umur juga menjadi bagian dari kebijakan sistematis Zionis untuk menghancurkan Palestina di masa yang akan datang. Mereka berpikir seharusnya tidak ada lagi generasi yang dapat melanjutkan perjuangan kaum muslimin Palestina.
Dalam aturan internasional, memenjarakan anak dilarang dan diatur secara ketat. Karena anak-anak memiliki hak untuk didampingi dan tidak dipisahkan dengan keluarga. Kemudian, mereka juga mendapatkan hak untuk tidak dihukum berat. Jika memang harus mendapat sanksi, hukumannya pun harus terpisah dari orang dewasa. Berbeda dengan yang dilakukan Israel, anak-anak dipenjara secara brutal lantaran ingin mengintimidasi perlawanan rakyat Palestina.
Inilah gambaran sistem kapitalisme yang mengatur dunia hari ini. Penjajahan terhadap yang lemah masih terus terjadi. Anak-anak pun masuk ke dalam jebakan kaum Yahudi. Nyawa mereka seperti tiada gunanya. Apalagi hak mereka yang pasti tidak dipenuhi. Sejauh ini, tuntutan penghentian segera atas praktik penahanan ini nyatanya belum menemui titik terang dari lembaga internasional.
Di sisi lain, negeri-negeri muslim di Timur Tengah juga tidak melakukan serangan balasan terhadap Zionis Israel. Para penguasa negeri-negeri tersebut kebanyakan hanya menuntut adanya gencatan senjata. Namun, mereka tetap saja menutup rapat pintu perbatasan ke Palestina dan tidak mengirimkan pasukannya. Jadi, memang benar bahwa penguasa muslim hari ini hanya bisa diam saja.
Perlindungan Islam terhadap Palestina
Islam rahmatan lil alamin bermakna Islam dapat menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak terbatas oleh teritorial, bahkan akidah, karena kaum kafir juga dipelihara oleh Daulah (negara). Telah terbukti selama 13 abad lamanya sistem Islam mampu mengurus umat manusia dengan baik. Hal ini tak lain karena diterapkannya syariat Islam secara kafah atau menyeluruh. Walhasil, negeri-negeri muslim bersatu di bawah kepemimpinan Khilafah Islamiyah dan memiliki kekuatan di kancah politik luar negeri.
Dalam persoalan kaum muslimin Palestina dan Yahudi Israel ini, Khalifah tentu akan memerintahkan jihad fii sabilillah dalam rangka mengusir penjajah Israel dari tanah suci kaum muslimin. Apalagi jika Zionis telah menyebabkan puluhan ribu orang terbunuh. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj: 39)
Selanjutnya, pembelaan terhadap tahanan anak-anak Palestina juga akan sangat diperhatikan. Penguasa dan kaum muslimin seluruhnya memang seharusnya membela orang-orang yang lemah dan terzalimi. Oleh karenanya, sangat dibutuhkan penyadaran oleh umat bahwa kejahatan Zionis Yahudi ini sudah sangat kelewatan. Tahun demi tahun silih berganti sejak 1948, tetapi muslim Palestina masih terus dalam cengkeraman Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) sebagai sekutunya.
Dengan adanya Khilafah, kaum muslimin dimanapun berada tentu akan memiliki junnah (perisai) yang akan melindungi jiwa dan hajat hidup mereka. Anak-anak, perempuan dan lansia akan terhindar dari kejahatan perang. Masa depan mereka juga akan sangat diperhatikan. Tidak ada ceritanya perang bersama kaum muslimin yang akan meninggalkan trauma bagi anak-anak. Hal ini karena Islam memiliki aturan yang adil dalam perang (jihad).
Khatimah
Penangkapan anak-anak muslim Palestina oleh kaum Yahudi Israel laknatullah niscaya tidak terjadi di sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah Islamiyah. Karena segala aturan kehidupan harus berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunah, tentu pengamalannya menjadi rahmat dan berkah bagi seluruh alam. Untuk mengusir penjajah Israel, jihad diperintahkan bagi setiap muslim laki-laki dewasa. Dengan demikian, umat bersatu dalam satu komando untuk tujuan yang sama, yakni meraih rida Allah subhanahu wa Taala. Tidak seperti hari ini, sistem kapitalisme mencetak penguasa-penguasa muslim yang bisu alias diam saja. Wallahualam bisawab.
Views: 0
















