Oleh. Nuri
(Kontributor MazayaPost.com, Bogor)
Kecelakaan kereta di Bekasi dan berbagai kasus daycare yang belakangan ramai diperbincangkan menyisakan luka yang mendalam. Di balik berita itu, banyak korban adalah perempuan. Ada yang berstatus seorang anak, ada yang menjadi seorang istri, dan ada pula seorang ibu yang setiap hari berjuang demi keluarganya.
Sebagian perempuan hari ini harus keluar rumah sejak pagi, menembus lelahnya perjalanan, menghadapi padatnya kota, bahkan menitipkan anak di daycare karena tuntutan ekonomi yang makin berat. Namun ironisnya, di tengah perjuangan itu, rasa aman justru semakin mahal. Perempuan dipaksa kuat oleh keadaan, sementara sistem saat ini gagal memberikan perlindungan.
Hari ini perempuan bukan hanya menghadapi beratnya peran sebagai anak, istri, dan ibu. Namun harus menanggung tekanan ekonomi akibat sistem kehidupan yang menjadikan materi sebagai pusat segalanya. Biaya hidup tinggi, lapangan kerja sulit, harga kebutuhan terus naik, hingga banyak keluarga akhirnya mengandalkan perempuan ikut bekerja demi bertahan hidup. Sehingga banyak anak yang kehilangan perhatian seorang ibu, karena ibu sudah kelelahan diluar sana. Keluarga akhirnya makin rapuh.
Negara lebih sibuk mengejar pembangunan fisik dan kepentingan ekonomi, namun sering lalai menghadirkan keamanan, transportasi yang layak, serta perlindungan yang benar-benar berpihak pada rakyat. Perempuan akhirnya menjadi korban dari sistem yang tidak dibangun atas dasar kasih sayang dan tanggung jawab.
Pada fitrahnya, banyak perempuan menemukan ketenangan saat berada di rumah. Di sanalah, ia bisa mencurahkan kasih sayang, menjaga keluarga, dan menghadirkan kehangatan yang tak tergantikan. Setinggi apa pun langkah seorang perempuan, rumah tetap menjadi tempat paling berharga untuk menebar cinta, ketenangan, dan pendidikan bagi anak-anaknya.
Islam memandang perempuan sebagai sosok yang mulia dan wajib dijaga kehormatannya, keamanannya, serta kesejahteraannya. Dalam Islam, negara bertanggung jawab penuh mengurus kebutuhan rakyat, termasuk menyediakan keamanan dan pelayanan publik yang aman dan layak. Islam juga menempatkan laki-laki sebagai penanggung nafkah keluarga, sehingga perempuan tidak dipaksa keluar rumah demi sekadar bertahan hidup. Bukan berarti Islam melarang perempuan beraktivitas di luar rumah, namun Islam memastikan perempuan tidak dibebani sistem yang zalim hingga harus mempertaruhkan keselamatan dirinya dan keluarganya.
Islam membangun masyarakat dengan dasar ketakwaan dan tanggung jawab, bukan sekadar keuntungan materi. Karena itu, solusi atas berbagai persoalan perempuan hari ini tidak cukup hanya dengan empati atau aturan tambal sulam. Dibutuhkan sistem kehidupan yang benar-benar menjaga manusia sesuai fitrahnya. Islam telah memberikan aturan itu secara sempurna.
Views: 0
















