Oleh. Nina
(Kontributor MazayaPost.com)
Ada satu kalimat yang sering diulang tanpa dipikir panjang, yaitu “otak butuh gula.” Kalimat ini benar sekaligus menyesatkan. Memang benar bahwa otak membutuhkan glukosa. Namun, glukosa bukan berarti gula tambahan dari minuman kemasan, biskuit manis, atau jajanan warna-warni yang kini memenuhi meja makan anak-anak. Kenyataannya, yang terjadi hari ini bukan sekadar salah paham. Melainkan, pergeseran pola makan yang dibiarkan, bahkan difasilitasi.
Coba lihat rak makanan anak di minimarket, hampir semuanya manis. Mulai dari sereal, minuman, hingga “snack sehat” yang diklaim tinggi vitamin, namun diam-diam sarat gula. Anak-anak tidak memilih ini secara sadar. Mereka dibentuk untuk menyukainya. Kemasan dibuat cerah dan menarik. Iklan menampilkan kebahagiaan instan. Orang tua diyakinkan ini “aman” selama ada label gizi. Padahal, banyak produk tersebut mengandung gula dalam jumlah yang melampaui kebutuhan harian anak.
Fakta di lapangan memperjelas bahwa ini bukan sekadar asumsi. Penelitian pada anak sekolah menunjukkan 52,2% anak sering mengonsumsi minuman kemasan tinggi gula, 30,4% sangat sering mengonsumsi jajanan tinggi gula (jurnal.karyakesehatan.ac.id.). Di sisi lain, batas konsumsi gula sebenarnya jauh lebih rendah dari yang terjadi saat ini. World Health Organization merekomendasikan gula tambahan <10% total energi harian, bahkan idealnya <5% setara dengan 6 sendok teh (KOMPAS.com).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan batas sekitar 50 gram per hari (KOMPAS.com). American Heart Association bahkan lebih ketat, yaitu 25 gram (±6 sendok teh) per hari untuk anak (KOMPAS.com). Masalahnya? Batas ini bisa terlampaui hanya dari 1–2 minuman manis dalam sehari. Artinya, kita tidak sedang menghadapi masalah kecenderungan anak terhadap makanan dan minuman yang tinggi gula tambahan. Kita sedang menghadapi lingkungan yang menjadikan gula sebagai konsumsi standar anak.
Penelitian tidak lagi fokus pada mitos “gula bikin hiperaktif”—yang memang tidak konsisten terbukti (KOMPAS.com). Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak jangka panjangnya. Konsumsi gula tinggi dikaitkan dengan gangguan fungsi otak, termasuk area hippocampus atau area memori dan belajar (KOMPAS.com). Pola makan tinggi gula berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif dan kontrol diri. Studi menunjukkan dampaknya bisa berlanjut hingga dewasa, termasuk risiko penyakit metabolik (KOMPAS.com). Kita tidak sedang membicarakan efek satu permen. Kita sedang membicarakan pola makan harian yang terus diulang selama bertahun-tahun.
Masalahnya bukan sekadar rasa manis. Gula tambahan juga memengaruhi sistem regulasi tubuh terutama Sistem Saraf Simpatik dan Sistem Saraf Parasimpatik. Saat anak mengonsumsi gula dalam bentuk cepat serap. Maka yang terjadi adalah gula darah naik cepat, insulin meningkat, lalu otak melepaskan dopamin yang memperkuat rasa senang dan keinginan mengulang (Kompas Health). Tubuh masuk mode “siaga” (simpatik), yakni lebih aktif, lebih reaktif, dan energi terasa cepat naik.
Namun, ini tidak bertahan lama. Ketika gula darah turun, maka tubuh bergeser ke mode parasimpatik, lalu anak menjadi lemas dan sulit fokus. Terbentuklah siklus lonjakan, penurunan, dan keinginan konsumsi ulang. Jika terjadi berulang, maka regulasi energi terganggu, respons stres lebih mudah aktif, dan stabilitas fokus dan emosi melemah.
Gula memicu dopamin dan ini bukan teori, tetapi respons biologis nyata (Kompas Health). Pada otak anak yang masih berkembang, preferensi atau kecenderungan rasa dibentuk. Ketergantungan terhadap manis meningkat. Makanan alami terasa kurang menarik. Ini bukan lagi soal pilihan makanan. Tetapi, ini soal bagaimana kecenderungan terhadap makanan dan minuman dibentuk secara biologis.
Dampak terhadap anak memang tidak terjadi secara langsung. Anak tetap tumbuh, tetap bisa bersekolah, tetap bisa bermain. Namun, perlahan fokus belajar menurun, energi tidak stabil, emosi lebih mudah naik turun, hingga kebiasaan makan buruk terbawa hingga dewasa. Kita sering kali khawatir soal kurikulum pendidikan. Padahal nyatanya “kurikulum makan” yang dijalani anak seharusnya menjadi salah satu dasar kurikulum pendidikannya.
Solusinya bukan melarang total gula. Hal itu tidak realistis. Yang dibutuhkan adalah perubahan arah, yaitu dengan mengembalikan makanan pada bentuk aslinya, membiasakan rasa alami sejak dini, dan mengurangi ketergantungan pada produk ultra-proses. Karena pada akhirnya, ini bukan tentang satu jenis makanan. Ini tentang lingkungan makan yang kita ciptakan.
Lantas siapa yang bertanggung jawab terhadap hal ini? Apakah ini sepenuhnya salah orang tua? Atau sistem negara kapitalis saat ini yang membuat pilihan sehat menjadi lebih sulit dan pilihan manis menjadi paling mudah ditemui?
Pemerintah Republik Indonesia sendiri melalui Kementerian Kesehatan saat ini sedang memprogram Nutri Grade Indonesia dengan memberi label informasi terkait gula, kalori, natrium, lemak jenuh, dan grade akhir (penggabungan semua komponen tersebut) di kemasan makanan atau minuman.
Namun, masalahnya program tersebut baru bisa diaplikasikan kepada industri makanan dan minuman dengan skala besar. Sedangkan, pedagang UMKM dan kaki lima yang juga membanjiri penjualan makanan dan minuman tinggi gula belum bisa tersentuh dengan peraturan ini. Negara seakan terus berpacu antara dampak pada anak dan cepatnya perkembangan makanan dan minuman yang terus membanjiri masyarakat khususnya untuk anak-anak.
Saat ini yang diperlukan masyarakat bukan lagi informasi terkait komponen makanan atau minuman tersebut. Melainkan, bagaimana masyarakat khususnya anak-anak mendapat perlindungan pangan. Negara dengan kuasanya bisa membuat regulasi edukasi yang konkret terkait dampak jangka panjang terkait makanan dan minuman dengan kandungan gula tambahan.
Jika edukasi secara masif sudah dilaksanakan dan dikaitkan dengan keterikatan dengan syariat Islam. Maka, pembeli dan penjual diharapkan akan muncul kesadaran yang berdasarkan ketakwaan. Karena Islam sejati menghantarkan pada keselamatan.
Namun, lain halnya kalau gula terus dinormalisasi oleh orang tua dan negara sebagai bagian yang “wajar” dari makanan anak. Maka dampaknya, kita akan terus mengulang siklus yang sama. Bahkan mungkin, tanpa sadar kita sedang membesarkan generasi yang kenyang, tetapi di masa mendatang menjadi generasi dengan kognitif yang tumpul dan tidak mempunyai kestabilan emosi. Naudzubillah min dzalik.
Views: 0
















