Riset yang Berdaulat, Mencipta Negara yang Kuat

Oleh Anis Wulandari

Berbagai persoalan yang melanda negara mulai dari ketahanan pangan, energi, hingga bidang kesehatan masih membayangi. Para intelektual sebagai pemikir dan periset terus mengupayakan solusi agar negeri ini bisa berdikari. Tetapi apa daya, hasil riset meningkat untuk publikasi, namun minim realisasi. Kebutuhan dana riset yang tinggi, hingga hilirisasi yang bermuara pada korporat adalah pengarusan terkait mindset untung rugi. Model ekosistem riset berstandar global yang diadopsi oleh negeri ini, yaitu ekosistem riset kapitalisme berbasis triple helix (ABG) atau kolaborasi academic, bisnis and government hingga saat ini penta helix (A-B-G-community-media) meniscayakan adanya kerja sama academic dan bisnis.

Hilirisasi hasil riset yang bermuara pada industri, menjadikan dunia riset mengalami dilema. Bukan lagi fokus untuk menyelesaiakan persoalan, tetapi cenderung mengikuti persyaratan dari perusahaan. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Dosen Departemen Teknologi Industri Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran Nandi Sukri, M.Si. “Tantangan lainnya adalah belum semua riset mampu menjawab apa yang dibutuhkan pelaku industri. Nandi mengatakan, industri akan mempertimbangkan seberapa besar profit yang diperoleh jika produk riset ini diproduksi dalam skala besar. Hal ini yang acapkali sulit dijawab oleh para peneliti di perguruan tinggi.”

Pada akhirnya, riset yang dihilirisasi belum tentu riset yang berkorelasi dengan kebutuhan rakyat, melainkan yang dapat memberikan keuntungan sebanyak-banyaknya bagi industri/bisnis. Pemerintah hanya menjadi penghubung antara pihak akademisi-perguruan tinggi dan industri. Keputusan untuk menentukan layak tidaknya hasil riset untuk diproduksi pun diserahkan sepenuhnya kepada industry. Ekosistem riset dengan triple helix atau penta helix, lahir dari satu konsep ekonomi kapitalisme, yaitu knowledge-based economy (KBE). Konsep ini menjadikan ilmu/riset didedikasikan untuk pertumbuhan ekonomi.

Oleh karena itu, solusi hakiki untuk terciptanya riset yang berdaulat membutuhkan kehadiran Negara secara total. Dalam Islam, sebuah Negara dapat berdaulat tidak bisa lepas dari ideologi yang diemban. Selama sebuah Negara masih menjadi Negara pengekor, maka selama itu pula kebijakan di dalam negaranya akan berada dalam bayang-bayang kepentingan Negara lain yang lebih berdaya.

Sebuah Negara Islam atau disebut dengan istilah Kh1l4f4h Islamiyah bertugas untuk menerapkan seluruh aturan Allah mulai dari sistem ekonomi, politik, bermasyarakat hingga masalah riset. Banyak hukum perbuatan yang termasuk fardu kifayah dan fardu ain juga terkait dengan ilmu. Contoh hukum tentang salat 5 waktu yang mensyaratkan wudhu, akhirnya memunculkan hukum fardu kifayah tentang teknologi mendatangkan air, ilmu air tanah, geologi, meteorologi, dan sebagainya.

Fakta sejarah membuktikan bahwa ilmuwan muslim telah menemukan kertas, percetakan, irigasi, kincir angin, teknik pertanian, teknologi kompas, produksi industri, pembuatan kaca, produksi kapas, mekanisme perdagangan, sistem angka 1 sampai 10, uang kertas dan cek, teknik berkebun, rumah sakit, desain kota, dan lain-lain. Semua ini adalah produk dan pemikiran muslim untuk menyelesaikan masalah umat. Bukan sekedar untuk keuntungan komersialisasi hasil riset.

Kehadiran negara secara penuh tentu membutuhkan dana yang sangat besar. Dana besar ini dihasilkan dari pengelolaan APBN sesuai dengan sistem ekonomi Islam. Pendanaan semua riset dan aktivitas lembaga institut didukung penuh melalui Baitulmal—yang mendapatkan pemasukan dari 12 pos pemasukan dengan jumlah tidak terbatas—sehingga semua riset dan program dapat berjalan optimal.

Semua itu tentu merupakan tuntunan sekaligus tuntutan syariat Islam. Karena itu penerapan seluruh syariah Islam, termasuk di bidang riset adalah sebuah keharusan. Hal itu hanya bisa diwujudkan di bawah sistem yang dicontohkan oleh Nabi saw.. Itulah sistem Kh1l4f4h Rasyidah yang mengikuti minhaj kenabian. Inilah yang harus diperjuangkan oleh seluruh umat Islam.

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi