Hantavirus: Alarm Krisis Peradaban dan Kelalaian Manusia terhadap Amanah Allah

Oleh: Aprilianti

(Kontributor MazayaPost.com)

Munculnya kembali ancaman virus hantavirus menjadi pengingat bahwa dunia modern sesungguhnya rapuh. Di tengah kemajuan teknologi dan klaim superioritas sains manusia, wabah demi wabah terus bermunculan tanpa mampu dicegah secara tuntas. Setelah dunia diguncang pandemi Covid-19, kini dunia kembali menyoroti hantavirus, virus mematikan yang ditularkan melalui tikus liar dan lingkungan tidak higienis.

Menurut laporan Reuters pada 8 Mei 2026, wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia dan beberapa lainnya terinfeksi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut wabah tersebut berkaitan dengan jenis Andes hantavirus yang memiliki tingkat kematian tinggi. Sementara itu, media The Guardian pada 7 Mei 2026 melaporkan bahwa otoritas kesehatan dunia melakukan pelacakan besar-besaran terhadap penumpang kapal yang telah tersebar ke berbagai negara karena khawatir terjadi penularan lanjutan.

Bagaimana dengan Indonesia?
Banyak masyarakat mengira virus ini belum masuk ke Tanah Air. Faktanya, Kementerian Kesehatan RI telah mencatat kasus hantavirus sejak 2024. Kemenkes menemukan 23 kasus hantavirus di 9 provinsi selama periode 2024–2026. Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia dan 20 lainnya sembuh. Angka kematian atau case fatality rate mencapai 13 persen (kompas.com, 8/5/2026).

Kasus hantavirus di Indonesia tersebar di DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara. Mayoritas kasus berasal dari jenis Seoul virus yang ditularkan tikus melalui urine, feses, air liur, maupun debu yang terhirup manusia (detikHealth, 8/5/2026). Bahkan sebelumnya, ada delapan kasus hantavirus di Indonesia yang ditemukan di empat provinsi (kompas.com, 23/6/2025) Walaupun seluruh pasien saat itu dinyatakan sembuh, pemerintah tetap meminta masyarakat waspada terhadap penularan dari tikus liar dan buruknya sanitasi lingkungan.

Fakta ini menunjukkan bahwa wabah bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga cerminan rusaknya hubungan manusia dengan alam. Sistem kapitalisme yang berorientasi keuntungan telah mendorong eksploitasi lingkungan tanpa batas. Hutan dibabat, sanitasi diabaikan, permukiman kumuh dibiarkan, sementara kesehatan publik tunduk pada kepentingan industri. Akibatnya, interaksi manusia dengan hewan pembawa virus semakin tinggi dan wabah baru terus bermunculan.

Islam memandang wabah sebagai ujian sekaligus peringatan agar manusia kembali tunduk kepada aturan Allah SWT. Dalam QS Ar-Rum ayat 41, Allah SWT berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” Ayat ini sangat relevan dengan kondisi dunia hari ini ketika manusia merusak alam demi keuntungan materi lalu panik menghadapi akibatnya.

Islam juga telah memberikan solusi jauh sebelum dunia modern mengenal konsep karantina. Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian mendengar wabah di suatu negeri maka jangan memasukinya, dan jika terjadi di tempat kalian berada maka jangan keluar darinya.” (HR Bukhari-Muslim).

Hal ini menunjukkan bahwa Islam memiliki konsep perlindungan kesehatan masyarakat yang sangat maju. Lebih dari itu, negara dalam sistem Islam wajib menjamin kesehatan rakyat, menjaga kebersihan lingkungan, serta mencegah eksploitasi alam yang berlebihan. Berbeda dengan sistem sekuler hari ini yang justru menjadikan kesehatan sebagai lahan bisnis dan membiarkan kerusakan lingkungan terus terjadi.

Karena itu, hantavirus bukan hanya ancaman kesehatan biasa. Ia adalah alarm keras atas rusaknya peradaban manusia modern. Selama manusia tetap mempertahankan sistem hidup yang jauh dari aturan Allah SWT dan terus merusak alam demi kepentingan materi, maka wabah demi wabah akan terus menghantui dunia. Sudah saatnya umat kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup yang mampu menjaga keseimbangan manusia, alam, dan kehidupan secara menyeluruh.
Waallahu’alam bishshowwab.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi