Oleh. Vita sari,A.Md.Ak.
(Kontributor MazayaPost.com| Pemerhati Sosial dan Politik-Deli Serdang)
Berbagai survey generasi Z di Indonesia paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental. Namun, dibalik karakter tersebut, tersimpan persoalan yang tidak selalu terlihat. Banyak anak muda saat ini hidup di tengah tekanan psikologis, sosial, dan ekonomi yang semakin kompleks.
Dikutip tirto.id, Indonesia Emas 2045 bisa berubah menjadi “Indonesia Cemas” jika anak-anak sebagai generasi masa depan bangsa menghadapi gangguan kecemasan dan depresi. Pernyataan ini bukan sindiran atau sarkasme terhadap visi Indonesia Emas 2045 yang digalakkan pemerintah, melainkan sebuah alarm serius mengenai kondisi kesehatan jiwa anak di Indonesia.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan temuan mengkhawatirkan dari hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026. Data terbaru menunjukkan hampir 10 persen atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi yang membutuhkan perhatian serius (12/6/2026).
Fenomena generasi depresi menuju resistensi merujuk pada realitas kaum muda saat ini. Perkembangan media sosial yang sangat pesat turut memperkuat budaya perbandingan sosial. Kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar gawai sering kali menjadi standar yang sulit dicapai, sehingga memunculkan rasa tidak cukup terhadap diri sendiri.
Bentuk perlawanan atau resistensi dari generasi ini tidak selalu berupaya aksi fisik, melainkan manifestasi dari kesadaran kritis terhadap tekanan hidup. Mereka mengubah rasa sakit mental menjadi aksi nyata untuk bertahan dan mengubah keadaan. Potensi mereka sebagai generasi muda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekularisme kapitalisme.
Dalam konteks peradaban sekularisme saat ini, depresi bukan lagi sekadar gangguan klinis individual, melainkan produk struktural dari sistem yang memisahkan agama dari kehidupan dan mengukur segalanya berdasarkan dengan materi atau keuntungan. Sistem ini memicu krisis kesehatan mental massal, karena manusia mengalami elienasi (keterasingan). Manusia terasing dari dimensi spiritual (agama), terasingkan dari sesama akibat kompetisi yang brutal, dan terasing dari dirinya sendiri karena dipaksa menjadi sekedar mesin produksi demi bertahan hidup.
Lebih jauh, di tengah impitan sistemis ini, negara yang seharusnya hadir sebagai pengurus dan pelindung justru tampak abai. Alih-alih dirangkul, Generasi muda justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya. Generasi Z justru sering kali dipojokkan dan mendapat stigma buruk—dicap sebagai ‘generasi strawberry’, manja, atau serba salah oleh generasi-generasi di atasnya.
Dalam pandangan Islam, kegelisahan yang dirasakan Gen Z dapat menjadi momentum kebangkitan. Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah mabda (ideologi) yang hadir sebagai solusi komprehensif atas krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini. Penerapan syariat Islam secara kaffah dijamin akan mendatangkan Rahmatan lil ‘Alamin. Dengan aturan yang berasal dari Sang Pencipta.
Islam menawarkan pandangan hidup yang kokoh, melepaskan manusia dari perbudakan materi, serta membawa ketenangan rohani dan keselamatan hidup di dunia maupun akhirat. Sejarah membuktikan bahwa generasi muda pada masa kejayaan Islam tumbuh menjadi generasi yang kuat akidahnya, kokoh kepribadiannya, serta unggul dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Mereka tidak hanya memiliki tujuan hidup yang jelas, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap umat dan peradaban.
Kita bisa melihat bagaimana sosok seperti Ibnu Sina tampil sebagai ilmuwan besar di bidang kedokteran, Al-Khawarizmi sebagai pelopor dalam ilmu matematika, serta Imam Syafi’i yang tidak hanya mendalam dalam ilmu agama tetapi juga dikenal dengan kecerdasan dan ketajaman berpikirnya sejak usia muda. Di bidang kepemimpinan, hadir pula sosok seperti Umar bin Khattab yang dikenal dengan keadilan dan ketegasannya dalam mengurus rakyat.
Mereka lahir dari sistem yang sama—sistem Islam yang membentuk pola pikir, kepribadian, dan orientasi hidup mereka. Inilah gambaran generasi yang tidak mudah rapuh, karena hidupnya dibangun di atas akidah yang kuat dan tujuan yang pasti. Maka tidak heran jika peradaban Islam mampu melahirkan generasi unggul yang tidak hanya beriman, tetapi juga berilmu dan berkontribusi besar bagi dunia.
Dengan demikian, solusi atas krisis mental Gen Z tidak cukup dengan memperbaiki individu, tetapi harus mengembalikan Islam sebagai sistem kehidupan. Karena hanya dengan itulah, ketenangan, keadilan, dan masa depan yang gemilang dapat benar-benar terwujud. Wallahualam bisawab.
Views: 4
















