Oleh. Julie Murod
(Tim MazayaPost.com)
Kalau bukan karena selaksa mengangkasa
Tak ada semerak merenda
Di kedalaman alam bicara
Makna tersembul di faktanya
Adakah ingin yang meraja
Menjadi doa di ujung pergulatan
Untuk saudara dirundung nestapa
Adakah tulus menjadi doa
Satu pinta bebasnya mereka
Dari hegemoni sang tiran
Kita tak dipilih semulia mereka
Dengan ujian tak bertepi pedihnya
Hanyalah doa yang terlangit
Itu pun bagi iman diutama
Wahai siapa yang berkuasa
Apa yang menyapa saat ini
Di diri di udara yang dihirup
Di setiap kopi disesap rasa
Di setiap riang dan luka
Langkah yang menuju
Adalah yang menjadi doa
Makna hidup seolah sirna
Saat hanya materi meraja
Saat sajadah digelar di bilik
Tempat mencuci perasaan
Dan raga yang rapuh
‘Tlah ditikam belati zaman
Dikungkung sekularisme fana
Maka, manalah ada hendak mewujud
Jika titah sang Khalik ditikung
Dikurung syahwat membumbung
Dan rakyat
Menetes keringat darah
Sebab periuk kosong
Mengais rezeki di tong
Kemarin nasi habis semalam
Basi pun jadi biasa ‘tak makan
Wahai, pemanggul mandat
Jauh anda dari seruan
Ketahuilah, tangis si papa
Perih perutnya mengetuk arsy
Tersingkap hijab tiada halang
Mengadu buruknya penguasa
Janjinya memberi surga
Menindas kejam nyatanya
Ingatlah, semesta menjadi saksi
Ingkarnya anda mengkhianati
Di ujung nafas terpampang dosa
Terbeliak mata sesal percuma
Pedih terkumpul jutaan rasa
Rasakanlah siksa yang kaucipta
Terkabul yang menjadi doa
Andai anda membatu tetap
Bumi Sriwijaya, 30 Juni 2026
Views: 0
















