Siaga Darurat L687Q+

Oleh. Intan
(Reporter Tim MazayaPost.com)

Dalam Majelis rutin pekanan Liqo Gawiqu (Gaul with Qur’an), Ustazah Aliya menyampaikan materi tentang Siaga Darurat L687Q+

-Mengapa Kita Harus Siaga?-

Pertama, kondisi Darurat
Secara penelitian, L687 tidak terbukti disebabkan oleh faktor genetika, tapi murni penyimpangan. Beberapa kondisi yang perlu kita waspadai:

– Indonesia menduduki posisi tertinggi HIV di ASEAN. Salah satu jalur utama penularan HIV adalah free sex. Sebagian besar kasus ada pada usia produktif, sekitar 25–49 tahun, dan mayoritas penderitanya adalah laki-laki. Selain HIV, terdapat berbagai penyakit menular seksual lainnya yang dapat ditularkan melalui free sex.
– Data penelitian memperkirakan sekitar 3–10% populasi dunia mengidentifikasi diri dalam kelompok L687.
– Korban dapat menjadi pelaku. Anak-anak yang pernah menjadi korban kekerasan atau pelecehan seksual berisiko mengalami dampak jangka panjang.

Kedua, sebab-sebab yang sering memunculkan L687
– pernah menjadi korban kekerasan atau pelecehan seksual;
– kemiskinan dan kondisi sosial yang rentan;
– friend with benefit atau hubungan seksual tanpa ikatan pernikahan;
– fatherless, yaitu kurangnya kehadiran dan peran ayah dalam kehidupan anak;
– lingkungan pergaulan yang tidak sehat;
– paparan pornografi dan konten seksual.

Ketiga, bagaimana upaya negara mengatasi persoalan ini?
-Pertanyaannya, bagaimana negara menyelesaikan persoalan ini?-

Salah satu pendekatan yang pernah dilakukan hanya pendekatan pengobatan, seperti program pencegahan HIV dan pemberian kondom secara gratis.

-Namun, apakah solusi tersebut mampu menyelesaikan akar persoalannya?

Jika persoalan hanya ditangani dari sisi kesehatan, sementara berbagai faktor yang memunculkan perilaku seksual berisiko tetap terbuka, maka persoalan tersebut akan terus muncul.

Di sisi lain, belum ada status tindakan pidana secara khusus untuk L687 sebagai identitas atau orientasi. Karena itu, kita sendiri harus siaga dalam menjaga keluarga dan anak-anak kita. -Sistem yang ada sekarang adalah sistem sekuler, yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan.-

Akibatnya, aturan agama tidak menjadi dasar dalam mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk persoalan pergaulan, keluarga, pendidikan, dan perlindungan anak.

Keempat, bagaimana Islam menyelesaikan problem ini?

Islam menyelesaikan persoalan ini tentu dengan aturan-aturannya, bukan hanya dengan mengobati ketika masalah sudah terjadi. Islam memberikan aturan sejak dari lingkungan keluarga. Di antaranya:

– Memisahkan tempat tidur anak ketika telah mencapai usia 7 tahun.
– Tidak membiasakan anak tidur dalam satu selimut.
– Mengajarkan anak untuk menjaga aurat.
– Mengajarkan batas-batas pergaulan sejak dini.

Selain itu, Islam memiliki seperangkat aturan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Aturan tersebut tidak hanya diterapkan pada tingkat individu, tetapi juga dijaga dalam kehidupan masyarakat hingga level negara.

Aturan Pergaulan dalam Islam

– Menjaga pandangan. Baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan menjaga pandangan dari hal-hal yang haram atau pandangan yang disertai syahwat dan hawa nafsu. Negara juga berkewajiban mencegah berbagai hal yang dapat membangkitkan syahwat, seperti pornografi.
– Menutup aurat. Laki-laki dan perempuan memiliki ketentuan masing-masing dalam menutup aurat.
– Haram khalwat. Laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak boleh berdua-duaan dalam kondisi yang dilarang.
– Mengatur ikhtilat. Pergaulan dan percampuran antara laki-laki dan perempuan tidak dibiarkan tanpa aturan.
– Hukum asal hubungan laki-laki dan perempuan adalah terpisah. Jika terjadi pertemuan antara laki-laki dan perempuan, maka harus ada kebutuhan atau maslahat yang dibenarkan.
– Mengatur safar. Dalam kondisi tertentu, perjalanan perempuan diatur dengan ketentuan mahram sebagaimana ditetapkan dalam syariat.

Dengan seperangkat aturan tersebut, Islam tidak hanya mengobati akibat, tetapi juga mencegah sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada kerusakan.

Lalu, Apa Bentuk Siaga Kita?

Siaga kita adalah menjaga semua ini untuk anak-anak kita. Kita harus:

– memahamkan anak-anak tentang agama dan batas-batas pergaulan;
– memilihkan pendidikan atau pondok yang memperhatikan persoalan pergaulan dan perlindungan anak;
– mengawasi penggunaan gadget karena saat ini pornografi dan berbagai konten seksual sangat mudah masuk melalui internet;

Karena ketika negara tidak cukup menjaga, sementara berbagai pintu yang memunculkan erotisme dan pornografi terbuka lebar, maka keluarga harus makin siaga.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi