Bolehkah Harta Wakaf Diinvestasikan Di Pasar Modal?

๐— ๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐˜€๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ถ ๐—ช๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ณ ๐—ฃ๐—ฟ๐—ผ๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐˜๐—ถ๐—ณ ๐——๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ณ๐—ฎ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ง๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—œ๐˜€๐—น๐—ฎ๐—บ๐—ถ๐˜†

๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐——๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐˜‚๐—ฑ ๐——๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ช๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ณ?

Menurut bahasa Arab (literal), kata “al-waqaf” bermakna “al-habsu” (menahan). Bentuk mutaradif (sinonim) dari kata “waqaf” adalah tahbiis dan tasbiil.

Sedangkan menurut syariat, “al-waqaf” adalah menahan benda yang menjadi milik pewakaf dan menyedekahkan kemanfaatannya di jalan Allah. Menurut Abu Yusuf dan Mohammad, wakaf adalah menahan benda agar tidak bisa dimiliki , dan agar manfaatnya bisa disedekahkan. Oleh karena itu, kepemilikan benda tersebut beralih kepada kepemilikan Allah.

Menurut ‘ulama-ulama Syafi’iyyah, wakaf dalam konteks syariah adalah menahan harta yang mungkin bisa dimanfaatkan selama bendanya masih langgeng (awet) dengan cara memutuskan hak kepemilikan atas harta tersebut, dan dialihkan untuk kepentingan-kepentingan yang dibolehkan.

๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐—›๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ ๐—ช๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ณ?

Hukum wakaf adalah sunnah (mandub); dan ia termasuk sarana mendekatkan diri kepada Allah swt yang sangat disukai dan dianjurkan di dalam Islam. Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya menurut Imam Asy Syafiโ€™iy, wakaf merupakan kekhususan bagi umat Islam, dan belum pernah dikenal pada masa jahiliyyah. [Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalaniy, Fath al-Baariy, juz 8/350]

๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐——๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐—›๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ช๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ณ ๐——๐—ถ ๐——๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—œ๐˜€๐—น๐—ฎ๐—บ?

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalaniy, asal pensyariatan wakaf didasarkan pada hadits riwayat Ibnu Umar ra tentang kisah wakafnya Umar bin Khaththab ra:

ุฃูŽู†ู’ ุนูู…ูŽุฑูŽ ุจู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจู ุฃูŽุตูŽุงุจูŽ ุฃูŽุฑู’ุถู‹ุง ุจูุฎูŽูŠู’ุจูŽุฑูŽ ููŽุฃูŽุชูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽุฃู’ู…ูุฑูู‡ู ูููŠู‡ูŽุง ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุตูŽุจู’ุชู ุฃูŽุฑู’ุถู‹ุง ุจูุฎูŽูŠู’ุจูŽุฑูŽ ู„ูŽู…ู’ ุฃูุตูุจู’ ู…ูŽุงู„ู‹ุง ู‚ูŽุทู‘ู ุฃูŽู†ู’ููŽุณูŽ ุนูู†ู’ุฏููŠ ู…ูู†ู’ู‡ู ููŽู…ูŽุง ุชูŽุฃู’ู…ูุฑู ุจูู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู’ ุดูุฆู’ุชูŽ ุญูŽุจูŽุณู’ุชูŽ ุฃูŽุตู’ู„ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ู’ุชูŽ ุจูู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ูŽ ุจูู‡ูŽุง ุนูู…ูŽุฑู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูุจูŽุงุนู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠููˆู‡ูŽุจู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠููˆุฑูŽุซู ูˆูŽุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ูŽ ุจูู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ููู‚ูŽุฑูŽุงุกู ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุจูŽู‰ ูˆูŽูููŠ ุงู„ุฑู‘ูู‚ูŽุงุจู ูˆูŽูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุงู„ุณู‘ูŽุจููŠู„ู ูˆูŽุงู„ุถู‘ูŽูŠู’ูู ู„ูŽุง ุฌูู†ูŽุงุญูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู†ู’ ูˆูŽู„ููŠูŽู‡ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฃู’ูƒูู„ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽูŠูุทู’ุนูู…ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ู…ูุชูŽู…ูŽูˆู‘ูู„ู

“Sesungguhnya Umar ra pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Lalu, beliau mendatangi Nabi saw dan meminta nasehat mengenai tanah itu, seraya berkata, “Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, yang saya tidak pernah mendapatkan harta lebih baik dari pada tanah itu”. Nabi saw pun bersabda, “Jika engkau berkenan, tahanlah batang pohonnya, dan bersedekahlah dengan buahnya. Ibnu Umar berkata, “Maka bersedekahlah Umar dengan buahnya, dan batang pohon itu tidak dijual, dihadiahkan, dan diwariskan. Dan Umar bersedekah dengannya kepada orang-orang fakir, para kerabat, para budak, orang-orang yang berjuang di jalan Allah, Ibnu Sabil , dan para tamu. Pengurusnya boleh memakan dari hasilnya dengan cara yang makruf, dan memberikannya kepada temannya tanpa meminta harganya…” [HR. Imam Bukhari dan Muslim]

Ketika menjelaskan hadits di atas, Imam Ibnu Hajar menuturkan sebuah riwayat dari Imam Ahmad bahwasanya Ibnu Umar berkata, โ€Wakaf pertama kali di dalam Islam adalah sedekahnya (wakafnya) Umarโ€. Riwayat ini diperkuat oleh hadits yang dituturkan dari โ€™Amru bin Saโ€™ad bin Muโ€™adz, bahwasanya ia berkata, โ€Kami bertanya tentang wakaf pertama kali di dalam Islam. Kaum Muhajirin menjawab, โ€Wakafnya Umarโ€. Sedangkan kaum Anshor menjawab, โ€Wakafnya Rasulullah sawโ€.

Pensyariatan wakaf juga disandarkan para sebuah hadits yang dituturkan Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ู…ูŽุงุชูŽ ุงู„ู’ุฅูู†ู’ุณูŽุงู†ู ุงู†ู’ู‚ูŽุทูŽุนูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูู†ู’ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽุฉู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูู†ู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ุฌูŽุงุฑููŠูŽุฉู ุฃูŽูˆู’ ุนูู„ู’ู…ู ูŠูู†ู’ุชูŽููŽุนู ุจูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ูˆูŽู„ูŽุฏู ุตูŽุงู„ูุญู ูŠูŽุฏู’ุนููˆ ู„ูŽู‡ู

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakannya.”[HR. Muslim, Imam Abu Dawud, dan Nasa’iy]

Imam Nawawiy, dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan hadits di atas sebagai berikut: “Para ulama menyatakan, bahwa amal perbuatan orang yang telah meninggal dunia terputus dengan kematiannya, kecuali tiga hal ini. Sebab, tiga perkara tersebut berasal dari usaha orang yang telah meninggal itu sendiri. Sesungguhnya, anak shaleh termasuk hasil usahanya; demikian pula dengan ilmunya yang terus diajarkan atau dikaji setelah kematiannya, dan sedekah jariyah, yakni wakaf.. Pahala doa akan sampai kepada orang yang mati, demikian juga sedekah.”

Menurut Imam Mubarakfuriy dalam Tuhfat al-Ahwadziy ; yang dimaksud dengan terputusnya amal seseorang, adalah terputusnya ganjaran dan pahala dari amal perbuatannya, kecuali tiga perkara. Pahala dari tiga perkara ini tidak akan terputus; yakni sedekah jariyah yang berujud wakaf dan sedekah-sedekah yang tidak hilang manfaatnya; ilmu pengetahuan yang ditinggalkannya; dan anak sholeh yang selalu mendoakan dirinya. Menurut Ibnu Malik anak di sini ditaqyid (dibatasi) dengan anak sholeh. Sebab, pahala tidak akan didapatkan dari anak yang tidak sholeh.

Al-Hafidz al-Suyuthiy mengatakan,” Syaikh Waliy al-Diin berpendapat, bahwa pahala dari tiga perkara ini tetaplah mengalir setelah kematian seseorang, dikarenakan adanya buah perbuatan mereka setelah dirinya meninggal, persis seperti ketika ia hidup di dunia. Adapun yang dimaksud dengan sedekah jariyah di sini adalah wakaf. Menurut Qadliy ‘Iyadl, amal perbuatan seseorang terputus berbarengan dengan kematiannya. Akan tetapi, selama orang tersebut menjadi sebab atau yang mengusahakan tiga perkara ini, yakni memiliki anak sholeh, dan ilmunya tetap disebarkan di tengah-tengah manusia, atau ia memiliki karangan yang tetap digunakan setelah kematiannya, atau melakukan sedekah jariyah, maka pahalanya akan tetap mengalir selama ketiga hal itu masih ada.”

Dalam kitab ‘Aun Ma’bud disebutkan, bahwa faedah atau pahala baru amal perbuatan seseorang telah terputus kecuali, pahala dari tiga hal Pahala dari tiga hal ini — sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh–, akan tetap mengalir.

Senada pengertiannya dengan hadits di atas, Imam Ibnu Majah juga meriwayatkan sebuah hadits bahwasanya Rasulullah saw bersabda;

ุฅูู†ู‘ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽู„ู’ุญูŽู‚ู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ูˆูŽุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูู‡ู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ู…ูŽูˆู’ุชูู‡ู ุนูู„ู’ู…ู‹ุง ุนูŽู„ู‘ูŽู…ูŽู‡ู ูˆูŽู†ูŽุดูŽุฑูŽู‡ู ูˆูŽูˆูŽู„ูŽุฏู‹ุง ุตูŽุงู„ูุญู‹ุง ุชูŽุฑูŽูƒูŽู‡ู ูˆูŽู…ูุตู’ุญูŽูู‹ุง ูˆูŽุฑู‘ูŽุซูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู‹ุง ุจูŽู†ูŽุงู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุจูŽูŠู’ุชู‹ุง ู„ูุงุจู’ู†ู ุงู„ุณู‘ูŽุจููŠู„ู ุจูŽู†ูŽุงู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู†ูŽู‡ู’ุฑู‹ุง ุฃูŽุฌู’ุฑูŽุงู‡ู ุฃูŽูˆู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู‹ ุฃูŽุฎู’ุฑูŽุฌูŽู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ู…ูŽุงู„ูู‡ู ูููŠ ุตูุญู‘ูŽุชูู‡ู ูˆูŽุญูŽูŠูŽุงุชูู‡ู ูŠูŽู„ู’ุญูŽู‚ูู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ู…ูŽูˆู’ุชูู‡ู

โ€Sesungguhnya, diantara perbuatan dan kebaikan-kebaikan yang akan mengikuti seorang Mukmin setelah kematiannya adalah, ilmu yang disebarkannya, anak shaleh yang ditinggalkannya, mushhaf yang diwariskannya, masjid yang didirikannya, rumah yang didirikannya untuk ibnus sabil, sungai yang dialirkannya, atau sedekah yang dikeluarkan dari hartanya sewaktu sehatnya dan hidupnya; semuanya akan mengikutinya setelah kematiannyaโ€.[HR. Ibnu Majah]

Hadits lain yang menunjukkan bahwa wakaf termasuk sunnah Nabi saw adalah hadits yang dituturkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata;

ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุจูุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ููŽู‚ููŠู„ูŽ ู…ูŽู†ูŽุนูŽ ุงุจู’ู†ู ุฌูŽู…ููŠู„ู ูˆูŽุฎูŽุงู„ูุฏู ุจู’ู†ู ุงู„ู’ูˆูŽู„ููŠุฏู ูˆูŽุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู’ู…ูุทู‘ูŽู„ูุจู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู…ูŽุง ูŠูŽู†ู’ู‚ูู…ู ุงุจู’ู†ู ุฌูŽู…ููŠู„ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ููŽู‚ููŠุฑู‹ุง ููŽุฃูŽุบู’ู†ูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุฎูŽุงู„ูุฏูŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุธู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ ุฎูŽุงู„ูุฏู‹ุง ู‚ูŽุฏู’ ุงุญู’ุชูŽุจูŽุณูŽ ุฃูŽุฏู’ุฑูŽุงุนูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽุนู’ุชูุฏูŽู‡ู ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

“Rasulullah saw telah memerintahkan para shahabat untuk membayar zakat. Lalu, dikatakan bahwasanya Ibnu Jamil, Khalid bin Walid, dan ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib ra menolak membayar zakat. Nabi saw pun bersabda, “Tidaklah Ibnu Jamil menolak (membayar zakat) kecuali karena ia adalah fakir. Lalu, Allah swt dan RasulNya mengayakan dirinya. Adapun Khalid; sesungguhnya kalian telah mendzalimi Khalid. Sungguh, Khalid telah menahan (mewakafkan) baju besinya, dan menyediakannya untuk berperang di jalan Allahโ€ฆโ€ฆ”[HR. Bukhari dan Muslim]

๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ฆ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฎ ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ฎ ๐—•๐—ถ๐˜€๐—ฎ ๐——๐—ถ๐˜„๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ณ๐—ธ๐—ฎ๐—ป? ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐˜๐—ฎ ๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฆ๐—ฎ๐—ต ๐—จ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐——๐—ถ๐˜„๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ณ๐—ธ๐—ฎ๐—ป?

Tidak semua harta sah untuk diwakafkan. Harta yang sah diwakafkan harus memenuhi ketentuan berikut ini;

๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฎ, ๐—ตarta yang diwakafkan haruslah harta mubah, tertentu, telah dimiliki karena sebab-sebab kepemilikan tertentu dan bisa diambil guna dan faedahnya untuk hal-hal yang dibolehkan oleh syariat. Atas dasar itu, tidak boleh meWakafkan harta jaminan (borg), harta haram, babi, anjing, dan binatang buas lain yang tidak bisa dijadikan sebagai hewan pemburu.

๐—ž๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ฎ, ๐—ตarta tersebut tetap utuh atau awet ketika dimanfaatkan, baik barang itu bergerak maupun tidak bergerak. Tidak boleh mewakafkan harta yang mudah rusak, habis atau lenyap saat dimanfaatkan. Oleh karena itu tidak boleh mewakafkan uang, makanan, minuman, lilin, benda-benda yang cepat menguap, seperti parfum, gas, dan lain sebagainya.

Dari ketentuan di atas disimpulkan bahwa harta yang boleh diwakafkan adalah harta mubah, yang bisa diambil manfaatnya, serta tidak mudah rusak atau habis jika dimanfaatkan. Oleh karena itu, seseorang boleh mewakafkan tanah, rumah, perkakas yang bisa dipindahkan, baju besi, buku, mushhaf al-Quran, senjata, binatang, dan barang-barang yang boleh dimanfaatkan dan diperjualbelikan asalkan tidak habis atau lenyap saat dimanfaatkan.

๐—•๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐— ๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ณ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ถ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ถ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—บ? ๐—•๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—จ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ช๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ณ ๐——๐—ถ๐—ด๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—จ๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—œ๐—ป๐˜ƒ๐—ฒ๐˜€๐˜๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ถ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ ๐— ๐—ผ๐—ฑ๐—ฎ๐—น?

Mayoritas ulama tidak memperbolehkan wakaf dinar dan dirham. Pasalnya, dinar dan dirham termasuk benda yang tidak bisa dimanfaatkan kecuali dengan menghabiskan bendanya. Padahal, pemanfaatan wakaf hanya sebatas pada guna dan manfaatnya saja, dan pemanfaatan itu tidak boleh sampai merusak atau melenyapkan substansi benda wakafnya. Menurut penuturan Imam Al-Shanโ€™aniy, inilah pendapat kuat yang dipegang oleh mayoritas ulama.

Sedangkan ulama lain memperbolehkan dengan catatan; dinar dan dirham tersebut diserahkan untuk di-syirkah mudlarabah-kan, kemudian keuntungan dari syirkah mudlarabah itu disedekahkan untuk tujuan wakaf. Pendapat ini bathil. Sebab, jika uang waqaf disyirkahkan, maka ada kemungkinan syirkah tersebut mengalami kerugiaan hingga menghabiskan modal syirkah. Dalam keadaan seperti ini, barang wakaf yang disyirkahkan bisa lenyap dan hilang. Padahal, tujuan wakaf adalah memanfaatkan barang wakaf, tanpa menghilangkan barangnya. Adapun pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa syirkah mudlarabah ini dijamin tidak akan pernah rugi, maka cara berfikir semacam ini hanya ada dalam bisnis kaum kapitalis yang mana pemodal tidak mau rugi, dan membebankan kerugiaan pada pengelola. Cara berfikir โ€pemodalโ€ selalu untuk dan tidak akan rugi bertentangan dengan kaedah yang telah disepakati ulama:

ุงู„ุบุฑู… ุจุงู„ุบู†ู…

โ€œKerugiaan dengan keuntungan โ€œ (sama-sama ditanggung)โ€. Maksudnya, setiap orang yang ingin mendapatkan keuntungan, maka ia juga wajib menanggung setiap kerugiaan.

Kaedah ini menjelaskan, bahwa dalam setiap tra๐—ป๐˜€aksi, syirkah misalnya, maka pemodal juga harus siap menanggung kerugiaan. Dia tidak boleh memastikan syirkah itu harus untung terus, atau tidak mau menanggung kerugian.

Harta wakaf jika disyirkahkan dalam syirkah kapitalis -seperti syirkah modal yang dilakukan di pasar modalโ€”maka, selain bertentangan dengan kaedah al-ghurmu bi al-ghunm, tindakan tersebut juga termasuk menggunakan harta wakaf pada muโ€™amalah yang bertentangan dengan Islam. Sebab, syirkah di pasar modal hukumnya haram tanpa ada keraguan.

Walhasil menggunakan harta wakaf (uang) untuk diinvestasikan dalam pasar modal jelas-jelas haram. ๐—ฃ๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐—ธ๐—ถ๐—ณ ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ ๐—ฏ๐—ผ๐—น๐—ฒ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜„๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ณ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ ๐—น๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ-๐—น๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฟ๐—ฎ๐—ธ๐˜๐—ฒ๐—ธ ๐—ถ๐—ป๐—ถ.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi