Oleh. Julie Murod
(Tim MazayaPost.com)
Satu
Malam beku mendadak panas
Semilir semejuk musnah
Tatap liar amarah buncah
Gemetar badan lungrah
Satu lelaki malang nahas
‘Tak dinyana bahkan oleh dirinya
Laki-laki lelaki curang
Dihunus oleh laku sendiri
Dihakimi ditebas beringas masa
Tersebab amarah ‘tlah dicurinya
Lelaki ayahnya si kecil menangis
Dirobek jantung di wajahnya
Bagaimana mengadu penguasa
Yang juga lapar diamuk serakah
Dua
Lelaki ayah penuh cinta
Mengais rezeki seteguh abdi
‘Tak boleh jahil dilihatnya
Miliki keluarga yang penyayang
Sosok tegas figur teladan
Rengkuh tegap gagah parasnya
Milik putri kecil ‘tak dikenal dunia
Nasib untung berharap pulang Namun malang ‘tak bisa ditolak
Segerombol anak ‘tak berajar
Hilang akal sadar menerkam
Memborgol merenggut nyawa
Ayah kami lelaki perkasa
Pantang surut menyembah bumi
Pantang lemah melihat anarki
Ayah, lelaki malang di maya
‘Tak mengemis simpati fana
Tajam matanya ‘tak meredup
Saat sang Khalik menjemput
Tenggelam di ufuk kasih-Nya
Tiga
Laki-laki lelaki binal
Keruh dan busuk batinnya
Tebar beringas laku buruknya
Nafsu kejinya meluap
Berpasang istri durja nya
Arsy-Nya bergemuruh murka
Demi saksikan hinanya hasrat
Berkelindan dibisik syetan
Sekularisme seringai tawanya
Seburuk rupa lelaki binal
Sejuta gelap bermuara dirinya
Wahai kiranya dunia murka
Neraka menggelegak panasnya
Surga malu merona jingga
Kerusakan dititik senjakala
Purnama sirna gerhana hingga
Sang waktu bergiliran
Menyeleksi yang taat sungguhan
Dan tiran pengkhianat
Sudahilah diakhir hayat
Jangan bermesum bejat
Basuhi kusam jelaga jiwa
Dengan pendar warni keindahan
Ketundukan serendah sajadah
Sirnalah angkuh ikhlas menjejak
Dinaungi megahnya mercusuar
Hingga matahari bulan tertawa
Pungkasi membasuh luka dunia
Bumi Sriwijaya, 10 Agustus 2026.
Views: 0
















