Oleh. Anjani Margarani
(Kontributor MazayaPost.com)
Mereka bilang membangun
Tapi yang dibangun cuma tembok rumahnya
Mereka bilang melayani
Tapi yang dilayani cuma rekeningnya
Hari ini,
Uang rakyat dikuliti perlahan
Pakai surat, pakai stempel, pakai pasal
Lalu disebut, biaya administrasi
Jalan rusak? Anggarannya dipotong
Obat kosong? Lagi diajukan
Padahal mobil baru parkir depan kantor
Dengan plat nomor dari keringat kita
Koruptor hari ini bukan di pasar gelap
Ia duduk di kursi empuk
Minum teh, tanda tangan
Sambil menertawakan kita yang masih antri beras
Cukup!
Negeri ini bukan ATM
Dan kami bukan sapi perah
Lihatlah senja di desa,
Sawah menguning tapi lumbung tetap kosong
Anak-anak belajar di bawah lampu redup
Sementara proyek miliaran tidur di atas kertas
Mereka menanam janji di setiap musim pemilu
Memetik hasilnya tiap kali APBN cair
Lalu menyiramnya dengan dalih dan alasan
Agar tunas harapan kita cepat layu
Wahai para maling berdasi
Dasimu rapi, tapi nuranimu kusut
Jasmu mahal, tapi jiwamu obral
Pidatomu lantang tentang rakyat,
Namun langkahmu hanya menuju brankas
Kami mungkin hanya suara di pinggir jalan
Tapi ingat, badai berawal dari bisik angin
Kami mungkin hanya tinta di kertas suara
Tapi kami juga yang bisa menghapus namamu
Negeri ini bukan milik segelintir nama
Ini amanah dari Allah yang dipikul di pundak
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya”
Ingatlah hari dimana stempel tak lagi punya kuasa
Kursi empuk tak bisa menolong
Harta rampasan jadi saksi di yaumilhisab
Dan keringat rakyat yang kau khianati
Akan menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil
Bertaubatlah sebelum terlambat
Karena dunia hanya persinggahan
Dan akhirat adalah rumah yang kekal
Grati Pasuruan, 15 Juli 2026.
Views: 0
















