Kecerdasan AI, antara Kemaslahatan dan Kemudaratan

Oleh. Umi Kulsum
(Kontributor MazayaPost.com)

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) merupakan cabang ilmu komputer yang memungkinkan mesin meniru sejumlah kemampuan kognitif manusia, seperti belajar dari data, mengenali pola, memahami bahasa, dan mengambil keputusan. Saat ini perkembangan teknologi AI menjadi paling penting dalam sejarah manusia, terutama dalam memudahkan setiap aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat modern. Sayangnya, di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, penggunaan AI juga membawa sejumlah tantangan serius, bahkan dapat mengancam kehidupan manusia, benarkah?

Para pakar kecerdasan buatan (AI) menyarankan pemerintah agar segera mempersiapkan langkah strategis dalam menghadapi lonjakan kemampuan AI yang masif (intelligence explosion). Hal ini ditekankan oleh 22 peneliti ternama, termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton, dalam publikasi ilmiah mereka di jurnal Cambridge Programme on AI Science & Policy (CASP) yang berjudul “Bagaimana jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?” (CNNIndonesia.com, 30/9/2026).

Berdasarkan riset tersebut, para peneliti menuliskan bahwa ledakan kecerdasan buatan akan mengubah perkembangan teknologi dalam sejarah manusia, mengancam kendali manusia atas sistem AI, menyingkat kemajuan bertahun-tahun menjadi beberapa bulan bahkan kurang, dan mengikis pengawasan kekuasaan di dalam dan antar perusahaan, negara, dan cabang pemerintahan.

Hal yang sama juga diungkapkan beberapa pakar, seperti matematikawan tenar Inggris, Alan Turing yang berteori dalam pidatonya pada 1951 bahwa AI berpotensi akan mengambil alih kendali masyarakat. CEO Anthropic, Dario Amodei juga memperingatkan bahwa AI dapat mengambil alih internet. Kekhawatiran AI yang mampu melancarkan serangan siber yang mengakibatkan gangguan luas pada internet walau masih penelitian (DetikInet.com, 1/10/2026).

Selain itu, salah satu ancaman utama AI adalah kemampuannya menghasilkan konten palsu yang sangat realistis, seperti video, gambar, dan teks. Teknologi Deepfake memungkinkan seseorang ditampilkan dalam kondisi yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Ini berisiko menjatuhkan atau merusak reputasi seseorang, memanipulasi opini publik, serta memicu konflik sosial. Para ahli mengungkapkan bahwa AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti keputusan manusia, akan tetapi hanya digunakan sebagai alat bantu semata. Hal ini karena akan mengakibatkan keputusan yang dihasilkan tidak adil atau diskriminatif (MetroTvNews.com, 21/4/2026).

Sebaliknya, pembahasan perkembangan AI menjadi sorotan dalam acara AI Everything Abu Dhabi yang berlangsung di ADNEC Centre, Abu Dhabi, pada 6-7 Oktober 2026, yang diselenggarakan Department of Government Enablement (DGE). Abu Dhabi dengan didukung Solutions+ mempertemukan perusahaan AI beserta dengan sejumlah perusahaan rintisan dan unicorn dari sejumlah negara. Acara itu membahas bagaimana AI membentuk masa depan medis dan keuangan, seperti menemukan dan merancang obat, mengembangkan teknologi bionik, dan memanfaatkan teknologi genomik (Kompas.id, 5/10/2026).

AI memberikan banyak pengaruh positif yang sangat penting, khususnya dalam bidang medis dan teknologi. Akan tetapi, ledakan kecerdasan membawa tiga risiko, seperti ancaman hilangnya kendali dan keterlibatan manusia, ancaman biologis dan siber, serta ancaman perang antarnegara.

Dapat disimpulkan bahwa, di balik perkembangan teknologi AI yang memberikan kemudahan kepada manusia. Bersamaan dengan itu juga menimbulkan bahaya bagi manusia.

Ledakan kecerdasan buatan (AI) tanpa dikendalikan oleh akidah dan syariat Islam dapat berisiko pada kehancuran kehidupan, apalagi agen-agen AI mulai meretas secara tak terkendali serta berusaha mengembangkan diri secara otonom. Kita harus memiliki acuan yang tepat agar dapat menggunakan AI secara bijak. AI merupakan hasil perkembangan teknologi buatan manusia, buah dari pemikiran manusia yang terus berkembang. Di samping itu, manusia sendiri memiliki kemuliaan akal untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah SWT serta memiliki tugas sebagai khalifah fiil ardhi.

Dalam Islam, penetapan hukum harus tegas kepada segala bentuk buah hasil pemikiran manusia agar menjadi hadarah (dipengaruhi ideologi) dan madaniyah (netral). Oleh karena itu, teknologi akan memberikan kemaslahatan bagi orang banyak, jika AI berada dalam genggaman orang yang memiliki akidah yang kokoh dan ketaatan pada syariat. Tetapi sebaliknya, apabila AI berada dalam tangan manusia kafir yang keji, maka akan mendatangkan bahaya dan kerusakan di muka bumi.

Pengaturan hidup manusia dengan sistem Islam menjadi sangat urgen agar selamat dari ancaman AI saat ini. Manusia tidak boleh diperbudak teknologi, walaupun teknologi saat ini menjadi kebutuhan primer yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Allah SWT berfirman, ”Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat” (Q.S. Al-Qiyamah: 20-21).

Banyak manusia yang terlalu mencintai kehidupan fana ini dan mengabaikan kehidupan akhirat yang sempurna dan abadi. Dalam Islam teknologi dinilai sebagai suatu alat yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan. Sehingga, penggunaannya harus sejalan dengan prinsip syariat.

Maka dari itu, umat muslim diajak untuk menggunakan teknologi secara bijak, kreatif, melakukan inovasi demi kemaslahatan umat. Teknologi tidak boleh digunakan untuk kemaksiatan, seperti penyebaran hoaks, pornografi, penipuan, atau perusakan moral.

Teknologi merupakan salah satu amanah yang akan manusia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Maka, marilah kita bingkai penggunaan teknologi AI dengan nilai keimanan dan akhlak untuk kemaslahatan umat. Wallahualam bisawab.

Views: 1

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi