Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Oleh. Puji

(Kontributor MazayaPost.com)

Tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Lembaga pendidikan, baik dalam naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan maupun Kementerian Agama mengadakan upacara Hari Pendidikan Nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia negeri ini. Peringatan hari pendidikan nasional ini bisa dijadikan bahan refleksi maupun evaluasi terkait perkembangan kualitas pendidikan dari aspek proses pembelajaran maupun hasil pembelajaran.

Kita tersentak dengan adanya kasus kekerasan terjadi di dunia pendidikan. Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mengatakan telah terjadi 233 kasus kekerasan di satuan Pendidikan selama periode Januari-Maret 2026. Ubaid mengungkapkan jenis kekerasan yang paling banyak ditemukan adalah kekerasan seksual (46%) , kekerasan fisik ( 34℅) dan perundungan atau bullying (19%) , hampir separuh kasus adalah kekerasan seksual (metrotvnews.com/14/4/2026).

Tiap tahun, Hari Pendidikan Nasional dirayakan, tetapi kenyataannya dunia pendidikan makin buram dan memprihatinkan. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual makin banyak dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa sehingga ruang aman di sekolah dan kampus tak terjamin. Oleh karena itu, peringatan hari Pendidikan nasional menjadi alarm keras untuk melakukan refleksi semua pihak untuk memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan hari ini.

 

Hal ini perlu dilakukan agar negeri ini tidak mengalami loss generasi muda yang krisis adab maupun moral. Apa jadinya negeri ini kalau dunia pendidikan semakin mengalami krisis dekadensi moral maupun etika dan darurat kekerasan seksual. Minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler itu memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian.

 

Hal ini sebagai salah satu faktor adanya kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan baik kekerasan seksual, kekerasan fisik maupun bullying di kalangan pelajar maupun mahasiswa. Terlebih adanya pengaruh media sosial yang bebas diakses oleh pelajar maupun mahasiswa tanpa adanya filter ilmu agama itu bahkan mudah menjerumuskan mereka pada tindakan kekerasan dan kemaksiatan.

 

Refleksi hari pendidikan nasional ini bisa dilakukan dengan kerjasama antara pihak orang tua, sekolah, masyarakat maupun negara. Ini dilakukan dalam rangka memperbaiki proses, sarana prasarana maupun kualitas pendidikan nasional baik pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi. Selain itu, pendidikan sekuler itu memisahkan agama dari kehidupan sehingga menjadi salah satu faktor kurangnya moral budi pekerti maupun adab bagi para pelajar maupun mahasiswa, baik kepada orang tua maupun guru dan dosen.

 

Dalam Islam, pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Pendidikan dalam Islam fokus pada pembentukan karakter kepribadian berdasarkan Islam dan Al-Qur’an, baik pola pikir maupun pola sikapnya terhadap para pelajar maupun mahasiswa. Sinergi pendidikan dalam keluarga, sekolah , lingkungan masyarakat, dan negara harus berpijak pada aqidah Islam dan kepribadian Islam. Harapannya kualitas pendidikan semakin maju dan tidak adanya kekerasan dalam sekolah maupun kampus.

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi