Oleh. Ledy Ummu Zaid
(Kontributor MazayaPost.com)
Hampir tiga tahun lamanya, Zionis Yahudi Israel melancarkan agresi militer besar-besaran di wilayah Gaza, Palestina. Terhitung sejak Oktober 2023, lebih dari 70.000 warga Gaza meninggal dunia. Sedangkan, korban luka mencapai lebih dari 100.000 orang. Miris, Zionis kian keji bak tak punya hati. Berbagai cara dilakukan guna menduduki wilayah Palestina.
Zionis Makin Brutal dalam Dehumanisasi Palestina
Dilansir dari laman sindonews.com (10/05/2026), di Tepi Barat bagian utara, tepatnya di dekat pemukiman Sa-Nur, warga Palestina dipaksa menggali dan memindahkan kuburan seorang pria oleh para pemukim ekstremis Israel. Mereka berdalih tempat yang dijadikan kuburan tersebut terlalu dekat dengan pemukiman Israel. Adapun pasukan Israel Defense Forces (IDF) hanya berdiri dan menyaksikan kejadian tersebut.
Ajith Sunghay yang tak lain Kepala Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki mengatakan bahwa kejadian pembongkaran kuburan ini menjadi bukti dehumanisasi warga Palestina semakin mengerikan. Tambahnya, penyiksaan warga Palestina oleh Zionis meliputi mereka yang masih hidup, bahkan yang sudah mati.
Di sisi lain, PBB menyampaikan fakta yang mencengangkan, yakni satu dari lima anak Palestina terpaksa harus diamputasi, seperti yang dilansir dari laman tempo.co (05/05/2026). Adapun kekurangan dokter spesialis prostetik dan pembatasan masuknya obat-obatan ke Jalur Gaza menjadi faktor utama penyebab tingginya angka amputasi pada anak.
Juru bicara PPB Stephen Dujarric mengatakan lebih dari 6.600 orang membutuhkan perawatan prostetik dan rehabilitasi. Sayangnya, hanya delapan tenaga medis yang tersedia untuk menangani masalah tersebut. PBB sendiri mengkhawatirkan warga terjangkit penyakit kulit dan masalah kesehatan lainnya akibat banyaknya hama dan hewan pengerat di sekitar pengungsian.
Kemudian, Radio Angkatan Darat Israel melaporkan adanya persiapan agresi militer kembali di wilayah Gaza, seperti yang dilansir dari laman antaranews.com (04/05/2026). Hal ini terbukti sejak Zionis Israel mengurangi kekuatan di Lebanon selatan dan mulai mengerahkan kembali brigade reguler ke Jalur Gaza, khususnya Tepi Barat.
Seorang pejabat militer senior Israel mengatakan bahwa saat ini merupakan waktu yang terbaik untuk mengalahkan Hamas. Pihaknya mendesak dimulainya kembali agresi militer di Jalur Gaza. Sejauh ini, 59 persen wilayah Gaza memang telah diduduki pasukan Zionis Yahudi Israel. Adapun dimulainya kembali agresi militer besar-besaran oleh Zionis ini sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat. Dehumanisasi Palestina, Misi Kapitalisme
Jika dilihat lebih dalam, agresi militer Zionis Israel terhadap Palestina yang tiada hentinya ini pasti memiliki faktor pendukung yang kuat. Dukungan politik, militer, dan keuangan tentu menjadi faktor penentu yang tak terelakkan. Sejauh ini, Amerika Serikat (AS) masih menjadi teman akrab dari Zionis Yahudi Israel. Tak heran, supply persenjataan Zionis yang paling besar berasal dari AS.
Lebih lagi, AS merupakan negara adidaya nomor satu di dunia saat ini. Dengan demikian, AS memiliki andil yang paling besar untuk mengatur dunia. Inilah ciri khas sistem kapitalisme yang mana materi menjadi landasannya. Bagi yang tidak memiliki power, mereka akan mendapat ketidakadilan dan penindasan. Oleh karenanya, Palestina tampak menjadi negeri yang paling lemah hari ini.
Adapun negeri-negeri muslim di Timur Tengah memang banyak, tetapi mereka tidak bisa melawan hegemoni Barat yang mendukung Zionis. Padahal, keberadaan dunia Islam yang kuat sangat dibutuhkan bagi muslim Gaza. Ketika negeri-negeri muslim ini menyatukan kekuatan mereka, niscaya Israel juga dapat dikalahkan. Sebagai contoh, Iran memiliki senjata nuklir yang mampu melawan kekuatan AS dan Israel.
Faktanya, terdapat lebih dari 50 penguasa negeri muslim di dunia. Namun sayangnya, mereka belum mampu menggunakan kekuasaanya untuk membebaskan tanah suci Baitul Maqdis. Sejak tahun 1948, entitas Yahudi Israel ini belum berhasil diusir dari Palestina. Sebaliknya, dunia tidak segera bersatu mendukung kemerdekaan Palestina malah memberi solusi two-states solution. Dengan demikian, Palestina tetap ada. Begitu juga dengan Israel yang menduduki hampir seluruh wilayah Palestina.
Oleh karena itu, hal ini tidak dapat dijadikan solusi karena Zionis Yahudi akan selalu mengganggu kaum muslimin di Palestina. Sedangkan, kaum muslimin di seluruh dunia terhalang nation-state untuk menolong saudara muslimnya. Mereka hanya fokus urusan domestik masing-masing, tetapi tutup mata dengan penderitaan sesama muslim di Gaza, Palestina. Lantas, apa yang dapat kita lakukan hari ini?
Pembebasan Palestina
Pembebasan Palestina memang membutuhkan perjalanan yang panjang. Pertama, kaum muslimin seluruhnya harus bersatu dalam pandangan hidup (mabda) yang sama, yakni Islam. Kedua, kaum muslimin juga seharusnya diatur dengan syariat Islam secara kafah atau menyeluruh. Ketiga, yang paling penting adalah kaum muslimin harus berada di bawah kepemimpinan tunggal yang sah.
Khilafah Islamiyyah merupakan satu-satunya kepemimpinan yang paling adil untuk menaungi kaum muslimin. Kepemimpinan Islam terbukti telah mensejahterakan umat manusia selama 13 abad lamanya. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam juga telah membangun kepemimpinan Islam pertama di Madinah. Kemudian, khulafur rasyidin juga melanjutkan kepemimpinan itu sepeninggal Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam wafat.
Keberadaan seorang khalifah di tengah kaum muslimin dapat menjadi perisai yang melindungi dari musuh-musuh Islam. Daulah (negara) akan memerintahkan jihad untuk memerangi kaum kafir yang membenci Islam, termasuk Zionis Israel.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tak perlu berlama lagi, kaum muslim harus segera memiliki agenda utama untuk mewujudkan itu semua. Adapun agenda besar tersebut di antaranya sebagai berikut:
Pertama, umat harus dibangun kesadarannya. Umat seharusnya sadar bahwa sistem kapitalisme hari ini tidak akan pernah mensejahterakan umat manusia. Sebaliknya, kehancuran di muka bumi ini akibat manusia tidak menjalankan aturan Sang Pencipta, Allah subhanahu wa ta’ala.
Kedua, setiap muslim seharusnya memiliki syakhsiyah islamiyah (kepribadian Islam) yang kokoh. Dengan keimanan yang kuat, kaum muslim akan berlomba-lomba dalam kebaikan. Adapun budaya amar makruf nahi munkar menjadi pemandangan yang lazim di peradaban Islam. Selanjutnya, opini masyarakat juga harus dibentuk dengan benar. Dari yang sebelumnya memandang segala sesuatu dengan materi menuju sudut pandang yang lebih hakiki, yakni keimanan.
Khatimah
Dehumanisasi Palestina yang kian keji hari ini sejatinya hasil dari sistem kapitalisme. Dunia Islam menjadi gelap dan tertinggal karena kehilangan cahaya Islam di tengah umat. Dengan demikian, sudah seharusnya kaum muslimin seluruhnya mengedepankan ukhuwah islamiyyah agar persatuan segera terwujud. Selanjutnya, khilafah islamiyyah ala minhajin nubuwwah yang kembali menaungi kaum muslimin akan menerapkan syariat Islam Kaffah. Oleh karenanya, umat memiliki power untuk mengusir penjajah laknatullah Zionis Yahudi Israel yang tak punya hati. Wallahualam.
Views: 0
















