Iman, Ikhtiar, dan Tanggung Jawab Mengubah
Di banyak masjid, doa-doa dipanjatkan agar Palestina dibebaskan dari penjajahan, kaum tertindas ditolong, dan para pelaku kezaliman dihentikan. Di Indonesia, doa juga sering diarahkan agar negeri ini terbebas dari korupsi, kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan para pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan.
Namun doa-doa itu telah berlangsung sangat lama, sementara kenyataan belum banyak berubah. Palestina masih menghadapi penjajahan dan kekerasan. Indonesia masih bergulat dengan korupsi yang sistemik, ketimpangan pendidikan, budaya anti-ilmu, politik uang, dan lemahnya literasi. Dari sini muncul pertanyaan yang sering disampaikan dengan nada getir:
“Apakah Tuhan mendengar doa-doa itu?”
Pertanyaan semacam ini tidak selalu lahir dari kebencian terhadap agama. Sering kali ia muncul dari kelelahan moral. Seseorang melihat terlalu banyak penderitaan, terlalu banyak orang baik yang menjadi korban, dan terlalu banyak orang zalim yang tetap hidup nyaman. Sebagian kemudian meragukan kemanjuran doa, bahkan keberadaan Tuhan.
Persoalan ini tidak cukup dijawab dengan kalimat, “Itu sudah takdir.” Jawaban seperti itu berisiko terdengar fatalistik dan mengabaikan tanggung jawab manusia.
Dunia Bukan Tempat Keadilan Sempurna
Salah satu sumber kekecewaan adalah anggapan bahwa dunia seharusnya menjadi tempat pembalasan yang langsung: orang baik segera ditolong, orang jahat segera dihukum, dan doa segera dikabulkan.
Padahal, Islam tidak mengajarkan bahwa dunia adalah tempat keadilan final. Dunia adalah tempat ujian. Allah berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
QS al-Mulk: 2.
Di dunia, manusia diberi kebebasan memilih: berbuat adil atau zalim, menolong atau membiarkan, jujur atau korup. Jika setiap kejahatan langsung dibatalkan oleh mukjizat, kebebasan moral kehilangan maknanya. Orang tidak lagi memilih kebaikan karena kesadaran, tetapi karena takut pada hukuman otomatis.
Karena itu, berlangsungnya kezaliman bukan bukti bahwa Allah merestuinya. Sesuatu dapat terjadi dalam alam ciptaan Allah, tetapi tetap dilarang dan dibenci-Nya. Penjajahan, korupsi, pembunuhan, dan pembodohan dapat terjadi karena pilihan manusia, struktur kekuasaan, dan hukum sebab-akibat. Namun keberlangsungannya tidak pernah mengubah kebatilan menjadi kebenaran.
Doa Bukan Mesin Otomatis
Sebagian orang memahami doa seperti transaksi:
manusia meminta, Tuhan mendengar, lalu permintaan harus segera terwujud.
Jika hasil tidak tampak, mereka menyimpulkan doa gagal. Dari sana, mereka mulai meragukan Tuhan.
Dalam Islam, doa bukan alat untuk memaksa Allah mengikuti jadwal manusia. Doa adalah ibadah, pengakuan kelemahan, permohonan pertolongan, dan bentuk hubungan manusia dengan Penciptanya.
Allah menjanjikan ijabah, tetapi ijabah tidak selalu berarti permintaan diberikan seketika dan persis dalam bentuk yang diminta. Sebuah doa dapat dikabulkan dengan diwujudkan, ditunda, diganti dengan kebaikan lain, dijauhkan dari bahaya, atau disimpan sebagai pahala di akhirat.
Manusia hanya melihat satu potongan kecil dari sejarah. Allah mengetahui seluruh rangkaian sebab, akibat, pilihan, dan masa depan. Karena itu, tertundanya hasil tidak sama dengan tidak didengarnya doa.
Namun konsep ini juga tidak boleh digunakan untuk membenarkan kemalasan. Doa tidak membatalkan sunnatullah. Seseorang tidak dapat memohon kesembuhan sambil menolak pengobatan. Sebuah bangsa tidak dapat memohon kemajuan sambil mengabaikan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan integritas.
Qadha dan Qadar Bukan Alasan untuk Pasif
Masalah ini memang berkaitan dengan qadha dan qadar. Segala sesuatu terjadi dalam ilmu dan ketetapan Allah. Namun manusia tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan untuk masa depan. Karena itu, manusia tidak diperintahkan menunggu “takdir”, melainkan berikhtiar.
Seorang petani tidak mengetahui apakah panennya berhasil, tetapi ia tetap menanam. Seorang pasien tidak mengetahui apakah ia sembuh, tetapi ia tetap berobat. Sebuah bangsa tidak mengetahui kapan penjajahan berakhir, tetapi tetap wajib membangun kekuatan, ilmu, persatuan, ekonomi, dan diplomasi.
Qadha dan qadar harus menjadi sumber keteguhan setelah ikhtiar, bukan alasan meninggalkan ikhtiar.
Amar Makruf Nahi Mungkar & Doa yang Tak Diijabah
Rasulullah memberikan peringatan yang relevan:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ.
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Jika tidak, Allah akan menimpakan kepada kalian suatu hukuman dari-Nya, lalu kalian berdoa kepada-Nya, tetapi doa kalian tidak dikabulkan.” HR al-Tirmidzi, no. 2169.
Hadis ini menunjukkan bahwa persoalan doa tidak hanya menyangkut apakah Allah mendengar. Manusia juga harus bertanya apakah ia telah melaksanakan kewajibannya. Jika kemungkaran dibiarkan, korupsi dinormalisasi, kebodohan dipelihara, dan orang-orang yang mampu memilih diam, maka doa kolektif dapat kehilangan bobot moralnya. Masyarakat meminta Allah menghilangkan akibat, tetapi tidak serius menghentikan sebabnya.
Karena itu, pertanyaan:
“Mengapa doa kita belum dikabulkan?”
harus disertai pertanyaan:
“Apakah kita telah beramar makruf nahi mungkar?”
Hadis tersebut tidak berarti bahwa setiap doa orang saleh pasti ditolak secara individual. Ia merupakan peringatan tentang akibat kolektif dari masyarakat yang membiarkan kemungkaran menjadi sistem.
Palestina: Doa Harus Menjadi Kekuatan
Doa untuk Palestina adalah doa yang mulia. Namun kemerdekaan Palestina tak akan lahir dari retorika semata. Penjajahan adalah persoalan politik, militer, ekonomi, teknologi, hukum, diplomasi, dan media.
Karena itu, doa harus disertai usaha nyata: bangun solidaritas, bantu korban, sampaikan kebenaran, perkuat diplomasi, kembangkan teknologi, tingkatkan kemandirian ekonomi, dan hentikan dukungan terhadap penjajahan!
Pertanyaan “Mengapa Allah belum menolong Palestina?” perlu dilengkapi dengan pertanyaan:
“Mengapa manusia yang diberi kemampuan untuk menolong belum menunaikan kewajibannya?”
Pertanyaan ini tidak menyalahkan korban. Yang dipersoalkan adalah mereka yang memiliki kekuasaan, ilmu, sumber daya, dan pengaruh, tetapi memilih diam atau berkompromi dengan penindas.
Indonesia: Berdoa Bebas dari Korupsi?
Indonesia sering berdoa agar terbebas dari korupsi. Namun korupsi tumbuh dalam sistem dan budaya.
Kita meminta pemimpin yang jujur, tetapi kadang memilih berdasarkan uang. Kita mengutuk nepotisme, tetapi mencari jalur khusus untuk keluarga sendiri. Kita mencela koruptor besar, tetapi memaklumi kebohongan kecil, manipulasi laporan, uang pelicin, dan penyalahgunaan fasilitas.
Doa agar Indonesia bebas dari korupsi harus disertai reformasi pembiayaan politik, transparansi anggaran, penegakan hukum yang independen, perlindungan pelapor, pendidikan integritas, dan keteladanan pemimpin.
Tanpa perubahan seperti itu, doa antikorupsi berisiko menjadi ritual yang tidak menyentuh akar masalah.
Berdoa Bebas dari Kebodohan?
Kebodohan tidak selalu berarti tidak sekolah. Ia dapat hidup di tengah masyarakat yang penuh ijazah. Kebodohan tampak dalam rendahnya literasi, hoaks, fanatisme buta, budaya anti-kritik, manipulasi data, dan kebijakan yang tidak berbasis ilmu. Kita berdoa agar bangsa ini cerdas, tetapi apakah guru dihormati? Apakah peneliti didukung? Apakah perpustakaan hidup? Apakah masyarakat membaca? Apakah kampus menjunjung integritas ilmiah?
Doa agar bangsa ini terbebas dari kebodohan harus disertai pendidikan yang bermutu, budaya membaca, dukungan terhadap riset, penghormatan kepada guru, serta pembiasaan berpikir kritis dan jujur. Memohon ilmu sambil mengabaikan proses belajar adalah kontradiksi.
Mengapa Sebagian Menjadi Ateis atau Agnostik?
Orang yang hilang iman akibat penderitaan biasanya tak hanya mencari jawaban logis. Mereka mencari kepastian bahwa dunia tetap bermakna, bahwa Tuhan peduli, bahwa air mata korban tidak sia-sia, dan bahwa orang zalim tak akan menang selamanya.
Karena itu, mereka tidak boleh langsung dicap lemah iman. Ada perbedaan antara mengejek Tuhan dan bertanya karena terluka.
Pendekatan Islam seharusnya menggabungkan argumentasi dan empati. Kita perlu mengatakan bahwa penderitaan itu nyata, kezaliman memang buruk, dan manusia wajib melawannya. Pada saat yang sama, kita menjelaskan bahwa menghapus Tuhan tidak otomatis menyelesaikan problem kejahatan. Tanpa Tuhan dan akhirat, banyak korban justru akan lenyap tanpa keadilan, sementara para penindas mungkin mati tanpa pengadilan.
Akhirat sebagai Penyempurna Keadilan
Konsep akhirat sangat penting karena dunia tidak pernah menghadirkan keadilan sempurna. Ada korban yang meninggal sebelum menyaksikan pembebasan. Ada koruptor mati dalam kemewahan. Ada penjahat yang tidak pernah dihukum.
Islam menegaskan bahwa kematian bukan akhir pengadilan. Allah berfirman:
“Janganlah sekali-kali engkau mengira Allah lengah terhadap apa yang dilakukan orang-orang zalim.”
QS Ibrahim: 42.
Akhirat bukan alasan untuk pasif, tetapi jaminan bahwa kejahatan tak memperoleh kemenangan terakhir. Manusia wajib memperjuangkan keadilan di dunia, dan Allah menyempurnakannya di akhirat.
Penutup
Ketika doa terasa belum dijawab, pertanyaan yang tepat bukan hanya:
“Apakah Tuhan mendengar?”
Tetapi juga:
“Apakah kita telah mendengar perintah Tuhan?”
Kita berdoa agar Palestina bebas, tetapi apakah kita membangun kekuatan untuk menolongnya? Kita berdoa agar Indonesia bebas dari korupsi, tetapi apakah kita menolak budaya ketidakjujuran? Kita berdoa agar bangsa ini terbebas dari kebodohan, tetapi apakah kita sungguh-sungguh memuliakan ilmu?
Doa tanpa ikhtiar dapat berubah menjadi pelarian. Ikhtiar tanpa doa dapat berubah menjadi kesombongan. Islam menyatukan keduanya.
Setelah tangan diturunkan dari doa, tangan yang sama harus digunakan untuk bekerja, mengajar, menolong, menulis, membangun sistem, melawan korupsi, mencerdaskan masyarakat, dan membela yang tertindas.
Mungkin sebagian doa yang selama ini kita tunggu jawabannya sedang menunggu satu hal: kesediaan kita sendiri untuk menjadi bagian dari jalan datangnya jawaban tersebut.
Referensi
Hoover, J. (2007). Ibn Taymiyya’s theodicy of perpetual optimism. Brill.
Lang, J. (1997). Even angels ask: A journey to Islam in America. Amana Publications.
Plantinga, A. (1974). God, freedom, and evil. William B. Eerdmans Publishing Company.
Transparency International. (2026). Corruption perceptions index 2025. Transparency International.
World Bank. (2024). Indonesia: Learning poverty brief. World Bank.
Views: 0
















