Angin zaman berhembus kencang, membawa debu-debu kejayaan yang telah lama tertimbun. Di ujung abad ketiga belas Hijriah, atau lewat paruh kesembilan belas Masehi, dunia Islam bagai raksasa yang terbangun dari mimpi panjang, tetapi masih limbung, tubuhnya terasa asing di alam yang telah berubah. Dari reruntuhan khilafah yang megah dan bayang-bayang kolonial yang menjulang, muncullah suara-suara lirih, yang lama-kelamaan bergemuruh menjadi seruan. Mereka adalah para penabuh genderang kebangkitan, pengibar panji-panji harapan di tengah padang gurun keterpurukan.
Namun, sejarah mencatat dengan tinta yang pilu, seruan itu berulang kali menggema, menggelegar untuk sesaat, lalu sirna ditelan kesunyian. Gerakan-gerakan itu lahir dengan nama yang mulia, digerakkan oleh hati yang membara, namun nasib mereka seperti fatamorgana di tengah sahara, indah dari jauh, namun kosong ketika didekati. Mereka adalah pejuang tanpa medali, pahlawan yang namanya tercatat hanya dalam footnote sejarah, meninggalkan jejak yang tak lebih dari gundukan tanah yang tersebar, tanda bahwa di tempat itu pernah ada tenda perjuangan yang didirikan, sebelum akhirnya dibongkar oleh angin zaman.
Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dengan jeli menyelami arsip-arsip yang usang dan mempelajari detak jantung gerakan-gerakan itu, ia menemukan sebuah pola kegagalan yang tragis dan berulang. Kegagalan itu bukanlah kebetulan, melainkan buah dari cacat lahir yang sistematis. Sebuah penyakit kronis yang menular dari satu generasi pejuang ke generasi berikutnya, melumpuhkan niat baik menjadi aksi yang sia-sia.
Pertama, Gerakan-gerakan itu lahir dari sebuah fikrah, sebuah gagasan besar tentang “kebangkitan”. Namun, gagasan itu bagai cahaya lampu minyak dalam kabut tebal, samar-samar, bergetar, batasannya melebur. Apa sebenarnya yang hendak dibangkitkan? Dalam bentuk apa? Dan bagaimana merealisasikan tujuan itu ? Pertanyaan-pertanyaan mendasar itu tak terjawab dengan kejelasan mutiara. Fikrah mereka masih umum, terbelah antara nostalgia romantis akan masa lalu dan kegamangan menghadapi masa kini. Ia tidak cemerlang, karena kekurangan ketajaman analisis, tidak jernih, serta tercampur dengan berbagai pengaruh asing yang tak tersaring dan tidak murni karena sudah tereduksi oleh kepentingan pragmatis sempit. Mereka berperang membawa panji, tetapi warna dan lambang pada panji itu kabur, membuat para pengikutnya bingung, untuk apa mereka berkorban?
Kedua, Andai pun mereka memiliki secercah cahaya ide, mereka nyaris buta akan thariqah, sebuah jalan, metode, peta yang detail untuk mewujudkannya. Mereka bagai sekelompok penjelajah yang bersemangat mencapai puncak gunung, tetapi hanya menatap puncaknya dari kejauhan tanpa tahu jurang, tebing, atau aliran sungai yang harus dilalui. Akibatnya, langkah mereka penuh dengan kesimpangsiuran. Terkadang mereka memilih jalan damai ketika diplomasi adalah kunci, atau sebaliknya, menerjang dengan kekerasan ketika kekuatan masih ada. Thariqah mereka sendiri diliputi kekaburan, apakah perjuangan kultural, politik murni, pendidikan, atau revolusi? Ketidaktahuan ini membuat setiap energi yang dikeluarkan seperti pukulan di udara—menguras tenaga, tapi tak mengenai sasaran.
Ketiga: Gerakan ini bertumpu pada manusia, pada tokoh mereka. Namun, sayangnya, yang berkumpul seringkali adalah orang-orang yang disatukan oleh luapan emosi, oleh keinginan yang membara tetapi dangkal. Mereka memiliki kesungguhan, mereka memiliki semangat yang siap berkorban tetapi mereka kekurangan kesadaran yang benar yang tertanam kokoh. Kesadaran yang lahir dari pemahaman yang mendalam, bukan dari slogan. Mereka juga kerap kali tidak dibimbing oleh niat yang benar dan tulus serta tidak fokus untuk tujuan tertinggi, melainkan oleh ambisi pribadi, rasa sakit hati, atau sekadar ikut arus. Mereka adalah pasukan yang berbaris dengan hati berdebar, tetapi pikiran mereka kosong dari peta medan perang yang sebenarnya.
Keempat, Lalu apa yang mengikat sekumpulan orang dengan semangat tetapi kesadaran rapuh ini? Ikatan mereka seringkali tidak lebih dari struktur organisasi yang kaku, daftar tugas administratif, dan slogan-slogan yang dikumandangkan berulang-ulang. Mereka terikat oleh aturan, bukan oleh ikatan pemikiran dan perasaan yang menyatu. Ikatan yang sejati, ikatan ideologi yang menyatukan jiwa, ikatan ukhuwah yang mempertautkan hati, ikatan komitmen yang mengeras bagai batu karang itu, tidak terbangun. Organisasi mereka seperti bangunan megah dari kartu, indah dilihat, tetapi roboh oleh tiupan angin konflik internal atau tekanan eksternal pertama yang datang.
Maka, sungguh wajar jika babak-babak sejarah ini berulang seperti tragedi yang dipentaskan berulang kali. Sebuah gerakan muncul, bergerak dengan bekal kesungguhan dan semangat layaknya pelari sprint. Mereka melesat cepat, menggegerkan, membuat harapan. Tetapi lari sprint tidak cocok untuk maraton sejarah. Begitu bekal awal itu habis, ketika semangat menguap ditelan rutinitas, ketika kesungguhan terkikis oleh kegagalan-kegagalan kecil, maka aktivitas itu pun mandek, menguap, dan lenyap. Lalu, dari puing-puingnya, bangunlah generasi baru. Mereka menyaksikan kegagalan pendahulunya, mengira itu karena kurang semangat. Maka, dengan semangat yang lebih membara, mereka mengulangi pola yang sama, terjatuh di lubang yang sama, dan berakhir di tepi jurang yang sama. Demikianlah roda ini berputar: kelahiran, gegap gempita, kelelahan, dan kematian.
Kegagalan ini bukanlah kutukan, tetapi konsekuensi yang logis. Mustahil membangun menara yang menjulang ke langit di atas fondasi pasir yang bergerak, dengan cetak biru yang buram, dikerjakan oleh tukang yang tidak terlatih, dan hanya disatukan oleh lem yang rekatannya lemah.
Ini bukanlah akhir dari segalanya. Ia justru adalah prolog yang kritis. Ia adalah pembedahan yang menyakitkan terhadap mayat-mayat perjuangan masa lalu, bukan untuk menistakan mereka, melainkan untuk mempelajari sebab kematiannya. Dari sini, dari kesadaran akan empat penyakit kronis inilah, sebuah pertanyaan besar terlempar ke udara zaman: Lalu, bagaimanakah seharusnya sebuah gerakan kebangkitan yang sejati itu dibangun? Di manakah letak titik tolak yang berbeda? Jawabannya akan menjadi cahaya baru, yang untuk pertama kalinya mampu menembus kabut dan menunjukkan jalan yang lurus.
Sumber: https://www.facebook.com/Rumahtsaqofah
Views: 5