Seorang lelaki melangkah masuk ke gedung Mahkamah Konstitusi. Ia tidak membawa pasukan. Tidak membawa uang. Ia hanya membawa map berisi gugatan.
Namanya Reza Sudrajat.Guru honorer yang sudah 12 tahun mengabdi. Ia resmi menjadi pemohon uji materi Undang-Undang APBN 2026.
Nomor perkaranya: 55/PUU-XXIV/2026.
Pasal yang digugat adalah Pasal 22 ayat 2 dan 3. Soal klasifikasi anggaran Makan Bergizi Gratis yang dimasukkan ke fungsi pendidikan.
Reza tidak melawan program MBG.
Ia hanya bertanya, apakah negara sedang jujur atau sedang pandai bersembunyi di balik angka?
kita bayangkan Rp71 triliun. Itu anggaran Makan Bergizi Gratis tahun 2026.
Dimasukkan ke dalam fungsi pendidikan.
Maka secara administratif, alokasi 20 persen APBN untuk pendidikan terpenuhi.
Secara konstitusi aman, Secara hitungan rapi, Secara laporan indah.
Tapi Reza Sudrajat, guru honorer yang gajinya belum juga UMR hanya bisa tersenyum getir.
Ia bertanya apakah dengan masuknya uang makan siang ke pos pendidikan, maka ruang kelasnya yang bocor akan diperbaiki? Apakah sertifikasinya akan keluar? Apakah nasibnya sebagai guru dianggap selesai hanya karena siswanya kenyang?
Mahkamah Konstitusi memberi waktu 14 hari. Reza harus memperbaiki berkas. Memperjelas legal standing. Memperkuat uraian kerugian konstitusional.
Ini mengindikasikan bahwa guru honorer seperti Reza belum menentu nasibnya, akibat anggaran untuk pendidikan yang terdistorsi.
Dalam Islam, Negara adalah akidah yang menjelma menjadi institusi.
Maka anggaran negara bukan sekadar daftar belanja, ia adalah pernyataan ideologis.
Coba lihat UU APBN 2026. Lihat pasal yang digugat Reza. Lihat bagaimana negara mengklasifikasikan anggaran.
Inilah buah sekularisme, Pemisahan agama dari kehidupan.
Negara menjadi teknokrat yang buta nilai.
Ia sibuk menghitung, tapi lupa merasakan.
Ia piawai menyusun menu, tapi alpa pada keadilan struktural.
Dalam kitab An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam, Syaikh Taqiyuddin menulis panjang lebar tentang Baitul Mal.
Baitul Mal bukan bank pembangunan.
Ia bukan institusi untung-rugi.
Ia adalah perut umat.
Maka ia wajib mengenyangkan seluruh warga negara jasmani dan rohani.
Jika Baitul Mal dikelola dengan logika akidah.
Apakah guru honorer akan dibiarkan 12 tahun tanpa kejelasan? Apakah anggaran pendidikan akan dicampur dengan anggaran konsumsi, lalu disebut “efisiensi”?
Apakah negara akan tenang tidur saat pendidiknya masih meminjam uang ke koperasi untuk membayar kontrakan?
Tentu tidak.
Karena negara dalam Islam adalah Pelayan.
Ia melindungi, bukan menguji.
Ia memberi hak, bukan memberi utang.
Ia hadir untuk memastikan tak ada seorang pun yang merasa asing di negerinya sendiri.
Kita lelah dengan angka-angka.
Lelah dengan persentase.
Lelah dengan diskursus postur APBN yang seolah semua baik-baik saja.
Karena di luar sana, di ujung angka-angka itu, ada Reza Sudrajat.
Ada ribuan Reza Sudrajat lainnya.
Mereka bangun pukul 4 pagi.
Naik angkutan umum dua kali ganti.
Mengajar dengan kapur tulis yang habis sebelum bel pulang.
Lalu menerima amplop gaji yang tak pernah cukup sampai akhir bulan.
Dan di parlemen, para wakil rakyat berdebat sengit tentang efektivitas program MBG.
Tentang daya serap anggaran.
Tentang multiplier effect ekonomi.
Mereka lupa.Guru bukan multiplier effect.
Guru adalah akar. Jika akar rapuh, tak peduli sebanyak apa pun makanan bergizi diberikan, pohon pendidikan kita tetap akan tumbang saat badai datang.
Dalam Islam Pemimpin bukan hanya sekedar penguasa. Ia adalah pelayan. Maka ukuran keberhasilannya bukan pada megahnya proyek, tapi pada tidak adanya seorang pun yang tidur dalam keadaan lapar dan tidak adanya seorang guru yang hidup dalam kehinaan.
Reza Sudrajat sedang mengetik ulang berkasnya, 14 hari. Ia percaya pada konstitusi.
Pertanyaannya, Siapa yang menjaga konstitusi dari mereka yang pandai bermain dengan klasifikasi anggaran?
Siapa yang akan membela guru, ketika 20 persen hanya jadi angka, bukan martabat?
Reza mungkin sedang meminum kopi dingin sambil membaca putusan-putusan MK terdahulu.
Ia mencari harapan. Ia mencari preseden.
Ia mencari keyakinan bahwa hukum masih bisa memihak pada yang lemah.
Kita tidak tahu apakah ia akan menang.
Tapi kita tahu ini, Reza telah memulai percakapan yang paling fundamental tentang negara.
Untuk siapa APBN ini bekerja? Untuk siapa konstitusi ini dijaga? Untuk siapa para wakil rakyat bersidang hingga larut malam?
“Sesungguhnya umat ini tidak akan bangkit kecuali dengan akidahnya. Dan negara tidak akan adil kecuali dengan hukum Sang Pencipta. Maka jangan kau sesali penguasa yang zalim, tapi sesali sistem yang memungkinkan kezaliman itu abadi.”
Reza tidak sedang menggugat pemerintah.
Ia sedang menggugat sistem klasifikasi.
Tapi sistem tidak pernah netral.
Sistem lahir dari ideologi. Ideologi lahir dari cara pandang terhadap manusia.
Dan jika cara pandang negara terhadap gurunya adalah “beban anggaran”,
Maka tak peduli sekaya apa pun negeri ini, gurunya akan tetap miskin.
Views: 10

















