Oleh. Lilik Purwati (Kontributor MazayaPost.com| Komunitas Setajam Pena)
Kebakaran hutan di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang terjadi saat ini telah berlangsung selama 70 hari, ternyata membawa dampak yang luar biasa besar. Asap yang ditimbulkan akibat pembakaran hutan tersebut telah merembet ke beberapa tempat yang lumayan jauh hingga ke negara tetangga. Asap tersebut juga mengganggu seluruh aktifitas warga yang terdampak, mulai dari jarak pandang yang minim, gangguan kesehatan seperti ISPA, serta habitat hewanpun terkena imbasnya.
Dikutip dari Kompas.com (2/10/2026), kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menutupi Palembang, Sumatera Selatan, berpengaruh buruk kepada kesehatan. Seorang pengemudi ojek online (ojol) atas nama Hardiansyah (41) yang merupakan warga Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang, meninggal dunia diduga mengalami sesak napas. Istrinya mengaku bahwa asap tersebut membuat kondisi suaminya tidak stabil hingga pada akhirnya mengalami kematian.
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan bukanlah hal baru. Pada tahun-tahun sebelumnya, juga sempat terjadi hal serupa. Kejadian ini bisa dikatakan sebagai kasus yang disengaja, bukan kebakaran melainkan pembakaran. Hal ini seharusnya membuat pemerintah belajar dan lebih siap untuk melangkah kedepannya. Harus membuat kebijakan yang tepat sasaran agar kejadian tak terulang. Namun, nyatanya kebijakan tersebut tak dirasakan hingga kejadian berulang dan negara gagap menanganinya.
Peristiwa tersebut menjadi bukti konkret bahwa kebijakan di negeri ini tidak memihak kepada rakyat karena kebijakan-kebijakan tersebut dipengaruhi oleh sistem yang mengatur negeri ini. Maka tak heran jika membawa malapetaka bagi lingkungan, ekonomi serta kesehatan. Inilah sistem sekuler kapitalisme. Dalam sistem ini, segala sesuatu diukuran berdasarkan untung dan ruginya. Disamping itu, aturan dunia juga dipisahkan dari aturan agama. Sehingga seseorang dengan mudahnya mengabaikan aturan-aturan Tuhan.
Kebijakan yang amburadul tanpa melihat dampak yang di timbulkan, menjadi bukti bahwa pemerintah tidak peduli keadaan rakyatnya. Demi kepentingan oligarki, asing dan aseng, mereka terkesan lepas tangan ketika mengambil kebijakan. Tidak ada tindakan nyata, dan memberi efek jera bagi pelaku pembakaran hutan. Mereka bebas melancarkan proyeknya tanpa takut akan sanki yang diberikan. Karena dalam sistem kapitalisme uanglah yang memegang kekuasaan. Ada uang, apa pun bisa dilakukan. Jangakan kebijakan, nyawa pun juga bisa dibeli di sistem ini.
Berbeda ketika Islam hadir di tengah-tengah umat. Dalam Islam, kesehatan adalah hak dasar warganya, yang wajib dijamin oleh negara. Apalagi ketika dalam kondisi darurat seperti karhutla, penanganan kesehatan menjadi prioritas utama. Seorang kepala negara (khalifah) akan memberikan jaminan yang mencukupi bagi kebutuhan masyarakat. Seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan juga keamanan. Laki-laki juga akan diberi kemudahan dalam mencari, bekerja dan membiayai kebutuhan keluarganya. Karena upah yang diberikan kepada pekerja lebih dari cukup untuk mereka. Sehingga wanita tidak harus susah payah bekerja untuk membantu menyokong perekonomian keluarga. Para wanita bisa lebih fokus mendidik anak-anak mereka di rumah.
Dari situlah, maka tidak akan tebersit dalam diri seseorang keinginan untuk mengorbankan kelestarian lingkungan demi menyokong perekonomian mereka. Bahkan, mereka tidak akan mau merusak hutan dan lahan hanya karena iming-iming uang. Di samping itu, negara juga akan memosisikan hutan sebagai kepemilikan umum, dan tidak akan menyerahkan kepada pihak asing ataupun swasta.
Negaralah yang akan menjaga, melestarikan serta mengelolanya. Oleh karenanya, seorang khalifah adalah junnah dan raain untuk rakyatnya. Dia akan menjadi garda terdepan ketika rakyat membutuhkannya. Hal itu akan terwujud ketika Islam diterapkan sebagai satu-satunya sistem yang lahir dari Zat Yang Maha Benar. Wallahualam bisawab.
Views: 0
















