Oleh. Senji Purwa Amalia
(Guru PAUD| Kontributor MazayaPost.com)
Agresi militer yang terus berlangsung di Jalur Gaza kembali menorehkan luka mendalam bagi rakyat Palestina, khususnya perempuan dan anak-anak. Laporan investigatif mengungkap dugaan penggunaan senjata termal dan termobarik yang menimbulkan dampak sangat destruktif. Senjata jenis ini disebut mampu menghancurkan tubuh korban hingga sulit dikenali. Investigasi media internasional menyebutkan setidaknya 2.842 warga Palestina dilaporkan hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023 (CNNIndonesia.com, 14/2/2026).
Situasi kemanusiaan makin memburuk karena serangan militer dilaporkan terus terjadi meski terdapat momentum gencatan senjata. Korban sipil terus berjatuhan, perempuan dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan terdampak. Banyak di antara mereka mengalami luka berat, kehilangan anggota keluarga, bahkan kehilangan nyawa di tengah keterbatasan akses bantuan kemanusiaan (MetroTVNews.com, 2026). Rentetan peristiwa ini menambah panjang daftar penderitaan warga Gaza yang hingga kini belum menemukan perlindungan nyata dari komunitas internasional.
Eskalasi Kebiadaban dan Rapuhnya Perlindungan Global
Penggunaan persenjataan berdaya hancur tinggi di wilayah padat penduduk menunjukkan eskalasi kekerasan modern yang menimbulkan keprihatinan serius secara kemanusiaan. Serangan yang berulang di kawasan sipil memperlihatkan bahwa perempuan dan anak-anak berada pada posisi paling rentan dalam konflik berkepanjangan ini. Di sisi lain, respons global yang cenderung lambat dan tidak efektif menimbulkan pertanyaan besar tentang komitmen penegakan hak asasi manusia di tingkat internasional.
Berbagai kecaman telah disampaikan, namun belum mampu menghentikan penderitaan yang terus berlangsung di Gaza. Kondisi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara prinsip kemanusiaan yang digaungkan dengan realitas perlindungan di lapangan. Bagi kaum muslim, tragedi yang terus berulang ini beberapa pengingat penting bahwa persoalan Palestina bukan sekadar konflik regional, tetapi juga ujian kepedulian dan tanggung jawab kolektif umat terhadap saudara-saudara mereka yang tertindas.
Konstruksi Solusi dalam Perspektif Islam
Rentetan tragedi di Palestina kembali menyingkap wajah asli tatanan dunia hari ini. Sistem internasional yang selama ini dipromosikan sebagai penjaga perdamaian terbukti mandul ketika berhadapan dengan kepentingan politik negara kuat. Resolusi bergulir, kecaman disuarakan, tetapi darah perempuan dan anak-anak Gaza tetap mengalir. Fakta ini menegaskan bahwa berharap pada mekanisme global sekuler untuk melindungi kaum tertindas adalah ilusi yang terus berulang.
Islam memiliki standar yang sangat tegas dalam menjaga nyawa manusia. Penjagaan jiwa (hifzh an-nafs) merupakan kewajiban syar’i yang tidak boleh dikompromikan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa sikap diam, pasif, dan merasa cukup dengan keprihatinan verbal bukanlah sikap yang sejalan dengan tuntunan Islam.
Karena itu, umat Islam harus keluar dari pola respons yang reaktif dan parsial. Bantuan kemanusiaan penting, tetapi tidak menyentuh akar persoalan selama sumber kezaliman dan ketimpangan kekuatan tetap dibiarkan. Hal yang dibutuhkan adalah kebangkitan kesadaran politik umat, penguatan persatuan kaum muslim, serta hadirnya kekuatan riil yang mampu menjalankan fungsi perlindungan terhadap kaum muslimin di berbagai wilayah.
Di sinilah urgensi kepemimpinan Islam menjadi nyata. Kepemimpinan yang berlandaskan akidah dan syariat memiliki kewajiban ri’ayah (pengurusan dan perlindungan) terhadap seluruh rakyatnya, tanpa tunduk pada tekanan kepentingan global. Dengan persatuan politik umat di bawah kepemimpinan yang amanah, potensi besar kaum muslimin dapat diarahkan untuk menjaga kehormatan, jiwa, dan keamanan mereka secara nyata, bukan sekadar retorika.
Oleh sebab itu, dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam secara kaffah merupakan kebutuhan mendesak umat hari ini. Dakwah tidak boleh berhenti pada aspek spiritual individual, tetapi harus mendorong perubahan cara pandang, menyatukan kekuatan umat, dan menyiapkan fondasi kebangkitan Islam. Hanya dengan langkah mendasar inilah umat memiliki harapan nyata untuk keluar dari siklus panjang kezaliman yang terus berulang. Wallahualam.
Views: 0
















