Jalin Ukhuwah Menuju Bersatunya Umat

Oleh. Intan

(Kontributor MazayaPost.com)

 

Idulfitri 1447 H kembali hadir membawa pesan mendalam bagi kaum muslimah. Sebuah perenungan penting disampaikan: mengapa ibadah pribadi kita belumlah cukup hingga kita merengkuh kepedulian terhadap nasib umat.

Akar kebaikan apa saja yang telah kita tanam sepanjang Ramadan ini? Kita telah menyirami jiwa dengan amal saleh, seperti puasa yang khusyuk, salat malam yang panjang, dan sedekah tanpa putus. Namun, takwa tidak boleh direduksi sekadar pada amal pribadi semata. Kebaikan yang kita tanam harus tumbuh menjangkau kepedulian yang lebih luas terhadap sesama umat Islam. Hal ini disampaikan oleh Ustazah Irma di Kajian Ibu Sholihah (KAISHA) pada Ahad, 5 April 2026, yang bertempat di Leces-Probolinggo.

Segala aktivitas pribadi kita selama Ramadhan, apakah sudah menunjukkan ketakwaan? Banyak yang merayakan kemenangan dengan sedekah dan donasi tulus untuk Palestina, hati kita terasa tenang. Namun, di saat yang sama, kita menyaksikan ribuan warga sipil syahid, dengan target khusus anak-anak dan perempuan. Pertanyaan yang harus kita renungkan: bagaimana kita mempertanggungjawabkan diamnya kita di hadapan Allah kelak?

Inilah paradoks kasih sayang kita selama ini. Ada dua sisi yang harus kita jujuri. Dari sisi amal pribadi : kita rajin berdonasi untuk saudara di Palestina dan merasa sudah bertakwa karena menyisihkan harta. Namun dari sisi realitas sistemik : penguasa di negeri kita makin mesra bergandengan dengan penyokong utama pendudukan Israel, berbagai perjanjian dagang ditandatangani yang membuka pintu dominasi atas kaum Muslim. Bisakah kita disebut bertakwa jika kita abai dan tidak menasihati penguasa atas pengkhianatan ini?. Bukankah ini bertentangan dengan QS. An-Nisa?
Maka perlulah kita membuka kelopak takwa yang paripurna. Takwa yang sejati memiliki dua dimensi. Pertama, amal pribadi (puasa, salat, dan sedekah) yang merupakan syarat sahnya iman. Kedua, riayatu syuunil ummah yakni mengurus urusan umat dengan memastikan seluruh syariat dan hukum Allah dipraktikkan dalam urusan politik, pemerintahan, ekonomi, baik dalam maupun luar negeri. Ittaqullah haqqa tuqatih, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa.

Sebenarnya ada rahasia besar di balik kumandang takbir menjelang Idulfitri. Saat kita mengaduk ketupat dan opor sambil melantunkan takbir, ternyata kita sedang meneriakkan proklamasi politik dan kemenangan umat? Kalimat takbir bukan sekadar nyanyian hari raya, melainkan mengandung tiga makna besar :
Pertama, pemurnian sistem — memurnikan agama Islam meskipun orang kafir membencinya, yang bermakna menolak sistem hidup buatan manusia dan dominasi asing.
Kedua, kemuliaan uma — memuliakan bala tentara-Nya, yakni janji Allah untuk mengangkat derajat kaum Muslimin yang berjuang menegakkan syariat-Nya.
Ketiga, runtuhnya oenjajah — melarikan musuh (pasukan Ahzab) dengan ke-Esaan-Nya, bermakna kemenangan mutlak atas koalisi negara-negara Barat yang hari ini menyokong penjajahan di bumi kaum Muslimin.

Kemenangan sejati yang hakiki terdiri dari dua unsur yang saling melengkapi. Kemenangan internal adalah menundukkan hawa nafsu dengan puasa melatih diri menjadi pribadi bertakwa sebenar-benarnya. Kemenangan eksternal adalah meraih Nashrullah melalui perjuangan mencabut akar kezaliman sistemik dan menolak tunduk pada koalisi Barat (Ahzab). Gabungan keduanya menghadirkan Idulfitri yang sejati: hari raya di mana umat terbebas dari penjajahan fisik maupun aturan yang menyalahi syariat.

Allah telah memberikan dua janji yang pasti (Nasrullah).
1. Janji pertolongan : siapa saja yang menolong agama-Nya, pasti Allah menolongnya. Keberanian kita bersuara, menasihati penguasa, dan menolak hegemoni asing adalah jalan mengundang Nashrullah.
2. Janji kehancuran: siapa yang menzalimi umat Islam dan menentang agama-Nya, Allah pasti menyiksanya dengan azab yang pedih. Rezim penjajah dan penyokongnya pada akhirnya akan binasa.

Diakhir materi pagi itu diiringi dengan doa, “Ya Allah, jadikanlah ibadah kami sebagai akar yang menghidupkan keberanian kami. Turunkanlah pertolongan-Mu (Nashrullah), hancurkanlah koalisi kezaliman yang merenggut nyawa saudara-saudara kami, dan muliakanlah kami dengan kembalinya kehidupan Islam secara Kaffah di muka bumi.”

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahil Hamd.”
Semoga kita sebagai Umat Islam tetap istiqomah dalam menjalankan syariat All!h. Aamiin.

Kajian ditutup dengan beberapa rangkaian doa dan memberikan reward kepada beberapa sahabat untuk lebih semangat belajar lagi tentang Akidah Islam secara kaffah. Untuk menuju tegaknya Khilafah. Aamiin.

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi