Oleh. Afiyah Rasyad
(Tim MazayaPost.com)
Kaffah Channel mengajak kebaikan bagi para muslimah. Pada Jumat, 13 Maret 2026, Kak Pinky membuka acara dengan semangat, lalu memperkenalkan diri setelah membuka acara. Beliau membuka obrolan ringan dengan Kak Inas selaku narasumber, menanyakan seputar Ramadhan yang sudah dilalui. Kak Pinky kemudian membeberkan terkait bagaimana di penghujung Ramadhan yang mulai ramai adalah mall. Di bulan Ramadhan pula banyak kondisi yang memilukan, salah satunya kasus nenek yang mencuri dua labu siam karena lapar, tetapi wafat diamuk massa.
Kak Pinky bertanya terkait bagaimana dengan kondisi umat yang begitu pelik menurut Kak Inas. Kak Imas membuka terlebih dahulu dengan salam dan selawat, lautan syukur, serta mengingatkan juga bahwa kita semua adalah ciptaan Allah. Sebagai ciptaan, kita sudah memiliki petunjuk atau pedoman sesuai aturan Sang Pencipta.
Kak Inas mencontohkan kita saat akan mencari sesuatu, misal nanti masak apa, uangnya cukup tidak? Itu semua harus disandarkan pada Pencipta Allah. Kalau tidak, maka keresahan dan kepelikan masalah akan terjadi. Saat Islam tidak diterapkan, mudah orang bermaksiat. Misal kasus cinta ditolak, kapak bertindak. Padahal Islam sudah memberikan aturan, Allah sudah menahan manusia untuk tidak mendekati zina.
Pun dengan permasalahan ibu-ibu, di mana ada seorang ibu yang mengakhiri hidup anak dan dirinya. Dia terjerat pinjaman online yang mengandung riba. Kalau mau dikembalikan pada Islam, sebenarnya Islam telah jelas mengharamkan riba.
Sebagai seorang muslimah, siapasih yang tidak diuji? Setiap orang pasti akan diuji. Setiap hal yang kita tidak mampu dalam ujian tersebut, maka tidak ada pertanggungjawaban. Namun, ketika kita dikasih ujian, Allah tidak akan bertanya ujian apa yang akan kita hadapi. Tetapi dalam menghadapi ujian, kita akan ditanya oleh Allah.
Saat ini, banyak orang yang tidak paham, mana yang bisa dikuasai dan tidak bisa dikuasai sehingga banyak jatuhnya pada stress. Saat ini, kepelikan masalah terjadi karena kita jauh dari syariat Islam. Kalau Islam jauh dari kaum muslim, Kak Imas mengatakan itu sesuatu yang berbeda, maka akan jauh dari label khairu ummah.
Khairu ummah ini punya tiga kriteria, yakni menyeru pada yang makruf, mencegah pada yang munkar, dan beriman. Jadi, kalau ada yang tidak paham tentang Islam, harus ada yang menyeru pada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Bahasa kerennya, kita harus dakwah, bahasa Gen Z harus speak up.
Kak Pinky menggarisbawahi bahwa Allah telah memberikan mekanisme yang tepat bahwa Islam sebagai pencegahan dan solusi. Untuk menyelesaikan masalah apakah harus dengan dakwah?
Kak Inas menjawab adalah sesuatu yang pasti. Setiap hidup pasti akan menjumpai masalah yang butuh solusi. Nah, masalah yang dihadapi sebenarnya sudah menjadi aktivitas sehari-hari. Maka, solusi Islam itu adalah sesuatu yang sesuai kebiasaan sehari-hari dalam menyelesaikan masalah. Apalagi memang solusi dengan berdakwah adalah sebuah kewajiban sebagai muslimah.
Kak Pinky bertanya kembali, kadangkala berdakwah seperti ikut campur urusan orang. Bagaimana kira-kira? Kak Imas membeberkan itu hal yang alamiah bagi seorang muslim. Setiap manusia punya naluri terkait mempertahankan diri. Di mana naluri akan terpicu menimbulkan konflik saat membahayakan. Namun, jika itu sebuah kewajiban, dakwah tetap harus dilakukan.
Saat mengajak pada kebaikan orang cenderung oke, tetapi saat mencegah pada kemunkaran banyak yang akan tersinggung dan memicu konflik. Dalam hal ini, Islam punya solusi, naluri bukan standar, tetapi harus menyandarkan semua pada Allah.
Kak Pinky juga bertanya saat ngomong dakwah kok kayak eksklusif yang dilakukan hanya ustadzah, ning. Dakwah yang harusnya dilakukan setiap muslim, tetapi hari ini seolah hanya untuk orang tertentu. Bagaimana menyikapinya?
Kak Inas menjelaskan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Saat dakwah adalah kewajiban, maka akan dilakukan tanpa memandang status. Saat mau berdakwah, kita perlu menyiapkan. Logisnya seorang muslim berlomba-lomba untuk meraih predikat paling bertakwa. Saat orang berdakwah kadang dikatakan sok alim, sepertinya ada pengabaian atas perintah Allah. Ada sebuah mindset sekularisme dan kapitalisme, di mana agama dipisahkan dari kehidupan. Orang yang alim atau punya tsaqofah Islam sering dianggap jelek.
Sekularisme ini yang menjauhkan kita dari Islam. Harusnya kita terikat dengan Islam, sudah mengikuti yang lainnya berdasarkan orientasi yang membuat dirinya merasa paling banyak keuntungan (manfaat). Kak Inas menyebutkan bahwa hal seperti itu seperti orang-orang kapitalisme yang mengedepankan keuntungan materi.
Hingga saat ini, tanpa Islam, kaum muslim menderita. Sebut saja saudara muslim Palestina yang dijajah entitas Zionis Yahudi sejak 1948. Rumitnya masalah negeri ini dan kondisi Palestina harus diselesaikan, terutama muslim Palestina harus ditolong, harus ada yang berani speak up. Kita harus speak Up saat penguasa muslim berpihak pada Zionis Yahudi dengan kerjasama. Kita semua harus tetap berdakwah, jangan memusingkan label sok alim, dll.
Kak Inas menjelaskan bahwa asas sekularisme mengungkung seluruh tatanan kehidupan. Satu hal lagi yang membuat kaum muslim menderita adalah tidak adanya persatuan dan kesatuan kaum muslim. Islam harus diemban dengan satu komando kepemimpinan global agar bisa berjihad mengusir penjajah.
Kak Pinky bertanya juga seputar dakwah yang berat, apalagi persoalan Palestina dan politik. Apakah dakwah cukup dilakukan seorang diri atau bagaimana?
Kak Inas mengajak sahabat Kaffah untuk memahami politik yang bermakna memelihara urusan umat. Kaum muslim harus mencontoh Rasulullah saat berdakwah yang dilakukan berjamaah. Rasulullah berdakwah seputar kepentingan umat. Kita punya banyak masalah karena berasas sekuler, maka harus ada upaya kembali pada Islam dengan dakwah berjamaah untuk meraih hak-hak hidup. Rasulullah berdakwah secara kolektif dengan visi menerapkan Islam secara kaffah dengan mendirikan Daulah Islamiah. Rasulullah memberikan mandat bahwa sebagai pengganti beliau sebagai kepala negara adalah para khalifah. Agar dakwah tidak berat, maka dakwah harus bersama-sama dengan memiliki visi yang jelas.
Kak Pinky merasa lega karena dakwah bisa berjamaah. Lantas ia bertanya terkait bagaimana membekali diri untuk berdakwah? Kak Inas menyampaikan bahwa dakwah butuh konten. Kontennya ini harus dikaji. Sebagaimana Rasulullah melakukan pembinaan secara menyeluruh, baik ibadah ritual dan juga seluruh aspek kehidupan harus dipelajari bagaimana Islam mengatur hal itu. Kita harus semangat mengkaji Islam bersama guru secara intensif, terkerangka, dan sangat serius untuk memiliki pola pikir dan pola sikap Islam.
Saat seorang muslim punya pola pikir dan pola sikap Islam, maka ia akan beramal dan menyelesaikan persoalan dengan berdakwah untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam.
Kak Pinky menanyakan seputar muslimah yang punya banyak job desk, kayak sudah tidak ada space kosong. Bagaimana menyiasati prioritas tugas muslimah? Kak Inas punya tiga kunci agar muslimah bisa mengatur aktivitasnya.
Pertama, menejemen pemikiran. Di sini, muslimah akan memahami fiqh awlawiyat (prioritas amal), mana wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Saat paham ahkamul khomsa, muslimah akan paham bahwa satu hal yang sunnah tak akan bisa menggantikan yang wajib. Misal 10 hari i’tikaf tak akan mencover saat tidak berpuasa. Saat muslimah paham sebagai seorang ibu dan pengatur rumah dan bertemu dengan dakwah, maka harus beriringan karena sama-sama wajib.
Kedua, menejemen waktu. Agar tetap menunaikan kewajiban sebagai ibu dan pengatur rumah dan juga dakwah, maka perlu dilihat yang harus didahulukan.
Ketiga, menejemen perasaan. Seorang muslimah harus ingat karena yang menemani kita adalah amal. Jangan bersandar pada perasaan.
Wallahualam.
Views: 0
















