Sebelumnya Iran Satelit AS ?

Sebenarnya memahami “satelit” itu gampang. Lihat posisi kita atau teman-teman kita saat SMA.

Ada pihak terkuat. Mereka paling dominan. Mereka penentu opini dan keputusan. Waktu saya SMA kelas 1, ada geng yang paling dominan. Saya ketika itu ketua kelas, tetapi saya bukan anggota geng. Geng inilah kekuatan utama. Klo dalam kancah dunia, yang semacam ini negara utama, saat ini AS.

 

 

Berikutnya kekuatan pesaing. Bukan paling dominan. Tapi masih bisa mempengaruhi dan mengubah opini maupun keputusan. Saya paham ini karena mantan pelaku. Sebagai ketua kelas tapi anak desa, saya terdampar di posisi ini. Berbeda dengan geng bukan hal mudah, tetapi dengan voting atau adu opini dengan melibatkan yang lain, geng tetap bisa kalah. Kadang saya main, ngobrol dengan ketua geng, makan biskuit bingkisan dari bapaknya yang pejabat. Dalam istilah politik sekarang, ternyata yang begini ini termasuk lobby. Pada konteks dunia, posisi ini diwakili negara pesaing, semacam Inggris, China atau Rusia.

 

Yang ketiga, kelompok anak pintar dan sering main aman. Berbeda dengan geng yang mayoritasnya anak ibukota, ini banyaknya anak-anak sopan pintar baik hati tidak sombong dan kurus, kebanyakan dari satu kecamatan di pinggir yang jadi gudang penghasil anak pintar. Mereka umumnya fokus prestasi, kalau tidak dipancing juga tidak suka berpendapat (baca : berpolitik). Tetapi ketua kelas kadang memancing mereka untuk mengeluarkan pendapat dan kemudian meminta dukungan mayoritas. Kalau sudah begini geng bisa kalah. Tetapi bisa pula geng berinisiatif lebih dulu yang ujungnya kelompok ini mendukung geng. Tipe anak-anak baik ini lebih logis dan jujur. Jadi ganti keberpihakan itu biasa. Bukan musti karena mereka kalah. Dalam kancah internasional, yang semacam ini adalah negara satelit. Jepang, Italia, Jerman, Iran, sepertinya di sini.

 

Paling banyak adalah pihak pengikut. Jumlahnya mayoritas. Mereka biasanya timbangannya tiga hal : logika, manfaat, dan kemampuan. Di sinilah geng dan ketua kelas beradu pendapat. Ujungnya pengikut ikut siapa. Secara umum geng cukup mampu mempengaruhi mereka. Apalagi kalau geng mengajak mereka ke warung, jalan-jalan, atau ngajak makan biskuit. Dalam konteks internasional, yang semacam ini adalah negara pengikut semacam Konoha.

 

Jadi jika dinyatakan AS ingin menggeser Iran dari satelit ke pengikut, itu bukan lompatan logika, bukan pula kesimpulan yang gegabah, bukan pula tak menghargai pemimpin Iran yang rela berkorban. “Rela mati kok dibilang satelit. Mati itu beneran. Karena melawan beneran. Nggak bisa diulang. Bukan sandiwara !!” Tidak seperti itu.

 

Memang bukan sandiwara. Tapi juga tak berarti tak mungkin bahwa sebelumnya sebagai satelit. Melawan itu logis. Masak anak pintar, sekolah serius, naik angkot dari kampung di kecamatan pinggiran, cuman disuruh nurut ? Ya nggak lahh. Berontak lahh. Apalagi geng anak kota sebenarnya tak lebih pinter dan terasa lebih manja. Tapi bukan berarti mereka tak bisa jadi satelit. Buktinya sering pula di antara mereka ada yang sering bersesuaian dengan geng kota.

 

Dalam hal Iran, betapapun kita begitu menghargai para pemimpin mereka yang gugur terhormat, bukan berarti menolak fakta negara ini pernah bermain aman dengan menyesuaikan diri di orbit geng internasional. Misal dalam kasus Iraq dan Afghanistan dulu. Di mana posisi Iran satu kubu dengan AS, dan zaman Obama dengan Khatami memang tak terlihat berbenturan.

 

Cara menghargai Iran adalah dengan sportif memujinya yang telah tak mau turun jadi pengikut bahkan dengan resiko nyawa.

 

Cara menghargainya lainnya adalah terlibat agar umat Islam (yang Sunni) kembali memimpin dunia. Ini akan menjadikan dunia berada dalam panduan kebenaran. Persia dan Syi’ah bisa juga dilibatkan dalam porsi tertentu, sebagaimana Khilafah Abbasiyah pada masa Ar Rasyid, Al Ma’mun, dan Al Watsiq juga melibatkan Syi’ah dalam batas tertentu.

Dengan itu pula kekuatan kafir dibuat tak berdaya. “Kepada Anjing Romawi !!” Demikian isi surat Khalifah Harun Ar Rasyid kepada Kaisar Niccephorus (tentu bukan dalam logat Bandung, sepertinya logat Surabaya).

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi