Jika Khilafah Tegak Hari Ini, Seperti Apa Duniamu Besok Pagi?

Ini bukan sekadar khayalan. Ini bukan dongeng sebelum tidur. Ini gambaran yang bisa jadi kenyataan besok pagi, kalau kita semua benar-benar menginginkannya. Bayangkan kamu membuka mata jam 06.15, sinar matahari menyelinap lewat jendela, dan dunia yang kamu lihat sudah bukan dunia kemarin.

Tidak ada lagi nama “Indonesia”, “Malaysia”, “Turki”, “Mesir”, atau “Arab Saudi” di peta. Semua lenyap. Yang tersisa cuma nama-nama wilayah. Wilayah Nusantara, Wilayah Syam, Wilayah Maghrib, Wilayah Hijaz, Wilayah Afrika. Bahkan batas provinsi lama pun sudah dibongkar ulang dari nol. Nasionalisme yang dulu membuat kita saling benci karena warna bendera berbeda? Sudah jadi cerita masa lalu, seperti dongeng nenek yang kita ceritakan sambil geleng-geleng kepala.

Kamu turun ke dapur, buka dompet. Bukan lagi lembaran uang kertas berwarna-warni yang nilainya bisa hilang besok karena inflasi. Yang ada di tanganmu sekarang adalah dinar emas dan dirham perak sungguhan. Setiap dinar yang kamu pegang, di belakang gedung Baitul Mal ada 4,25 gram emas murni yang menjamin nilainya. Tidak ada lagi riba, tidak ada lagi bank yang mencetak uang dari udara, tidak ada lagi cadangan fraksional yang mencuri hak rakyat. Uangmu benar-benar punya nilai tetap, seperti janji Allah yang tidak pernah ingkar.

Kamu nyalakan televisi atau buka aplikasi berita Khilafah. Berita utama pagi ini,
“Total kekayaan umum umat hari ini mencapai 2,8 juta ton emas & perak cadangan, ditambah cadangan minyak, gas alam, uranium, tembaga, dan segala mineral dari ujung timur sampai barat.”

Semua sumur minyak di Sumatera, ladang gas Natuna, tambang emas Papua, minyak hitam di Teluk Persia, uranium di Afrika, semua sudah bukan milik perusahaan asing lagi. Bukan milik “negara” juga. Semua menjadi milik umum, milik umat. Artinya milik kamu, milik aku, milik setiap warga negara Khilafah baik muslim maupun non muslim.

Kamu yang tadinya tercekik cicilan rumah 20 tahun? Utang riba itu sudah dihapuskan seketika. Kamu yang ingin buka warung kopi di gang sempit? Modal awal langsung cair dari Baitul Mal, tanpa bunga satu sen pun. Kamu yang baru nikah dan belum punya rumah? Tanah dan tempat tinggal layak sudah menjadi hak dasar setiap keluarga. Negara bukan lagi pemilik, negara hanya pengelola yang wajib adil.

Kamu jalan ke pasar pagi. Di sana ada pedagang dari Wilayah Sudan menjajakan kurma Medjool segar yang baru tiba lewat kereta cepat Khilafah. Kamu tanya harganya. Dia tersenyum lebar,
“Gratis untuk saudara senegara, tapi kalau mau bayar, cukup satu dirham perak saja, akhi.”

Perusahaan asing? Semua sudah angkat kaki. Pabrik-pabrik, perkebunan, tambang, teknologi, semua sekarang milik warga Khilafah. Ekonomi tidak lagi dikuasai segelintir orang kaya. Modal tersebar luas. Setiap pemuda punya kesempatan jadi pengusaha. Pasar malam di setiap kota ramai dengan pedagang kecil yang tersenyum karena untung mereka tidak lagi dipotong pajak riba atau biaya bank.

Kamu lanjut ke bandara atau stasiun kereta. Tidak ada lagi antre imigrasi panjang. Tidak ada paspor nasional. Siapa saja dari belahan dunia mana pun dari London, Beijing, Lagos, atau New York cukup mengucapkan taat pada hukum Khilafah, dan mengakui kepemimpinan Khalifah. Dalam hitungan jam, dia sudah jadi warga negara penuh. Punya hak sama denganmu, dapat bagian kekayaan umum, sekolah gratis, rumah sakit tanpa biaya, keamanan 24 jam.

Dan yang paling penting, kalau suatu hari Khalifah, pemimpin tertinggi kita berbuat zalim? Kamu, rakyat biasa, boleh menggugatnya! Di Mahkamah al-Mazhalim, pengadilan khusus kezaliman. Khalifah harus datang sendiri, duduk di kursi yang sama dengan rakyat, tanpa pengawal, tanpa jubah kebesaran. Hakim membacakan vonis di depan kamera yang disiarkan ke seluruh wilayah. Itulah jaminan bahwa kekuasaan tidak pernah lagi jadi milik satu orang saja.

Malam harinya, berita dunia mengguncang,
“Pasukan Khilafah telah membebaskan Masjidil Aqsha. Palestina kini wilayah bebas penjajah.”

Dan setelah itu, seperti gelombang besar yang tak terbendung. Rakyat di negara-negara lain mulai bergerak. Mereka melihat keadilan, mereka lihat distribusi kekayaan yang merata, mereka lihat anak-anak bermain tanpa takut bom. Mereka berteriak, “Kami juga mau hidup seperti ini!” Batas-batas negara buatan penjajah mulai runtuh. Dari Maroko sampai Mindanao, dari Istanbul sampai Jakarta, satu adzan, satu kiblat, satu Khalifah.

Ini bukan mimpi kosong. Ini visi yang sudah ada cetak birunya dalam Islam. Yang kurang hanya satu, kemauan kita semua untuk mewujudkannya.

Jadi besok pagi, saat kamu bangun, tanyakan pada dirimu sendiri:
“Apa yang aku lakukan hari ini agar dunia besok pagi lebih dekat dengan gambaran ini?”

Kirim jawabanmu di kolom komentar, Kita sama-sama tahu, perubahan besar dimulai dari hati yang gelisah, lalu bergerak menjadi langkah nyata.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-Mu yang menyaksikan dan ikut membangun Khilafah ala minhajin nubuwwah di zaman ini. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Sumber: https://www.facebook.com/Rumahtsaqofah

Views: 0

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi