Oleh. Ustadz Rizqi Awal
Bertobat nasuha bukan sekadar menyesal di dalam hati. Ia adalah tekad untuk kembali kepada Allah sambil terus berusaha memperbaiki diri dan memperjuangkan Islam secara kaffah.
Bagi kita yang setiap hari beraktivitas, bekerja keras, dan mengejar nafkah, ingatlah satu hal yang sangat penting:
“Rezeki adalah milik Allah semata.”
Dia yang menentukan berapa, kapan, dan dari mana rezeki itu datang. Tugas kita bukan mengatur rezeki, tetapi menjalankan ikhtiar dengan sebaik-baiknya sambil bertawakkal.
Banyak orang yang sudah bertobat dan ingin istikamah, namun masih terjebak dalam dua kesalahan:
Ada yang berusaha keras mencari nafkah, tetapi lupa bertawakkal — sehingga hatinya gelisah dan mudah putus asa.
Ada pula yang hanya bertawakkal tanpa ikhtiar sungguh-sungguh — lalu menunggu rezeki datang sendiri, padahal ia tetap harus bekerja dan beraktivitas.
Padahal jalan yang benar adalah menggabungkan keduanya:
Ikhtiar dengan sungguh-sungguh — bekerja, berusaha, mencari peluang halal, meningkatkan skill, dan menjaga kejujuran.
Disertai tawakkal yang kuat — meyakini bahwa meski ikhtiar kita terlihat biasa saja, Allah mampu mendatangkan rezeki dari arah yang tak terduga.
Allah berfirman, “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)
Rezeki tidak datang kepada orang yang diam menunggu. Rezeki datang kepada orang yang terus bergerak dengan niat yang benar, hati yang bersih, dan keyakinan penuh kepada Allah.
Oleh karena itu, setiap kali kita bekerja, beraktivitas, atau mengejar nafkah halal, lakukanlah dengan dua hal sekaligus:
– Berusaha sekuat tenaga, semaksimal mungkin, dengan cara yang halal dan berkah.
– Tetap tawakkal — yakin bahwa Allah yang akan membuka pintu rezeki, mengatur hasilnya, dan memberi keberkahan.
Tobat nasuha yang sempurna adalah ketika kita meninggalkan yang haram, memperbaiki ibadah, mengikuti kajian yang menyadarkan, dan tetap istikamah berjuang di jalan Allah — termasuk dalam mencari nafkah.
Karena rezeki yang halal dan berkah bukan hanya untuk menghidupi badan, tetapi juga untuk memperkuat perjuangan kita menegakkan Islam kaffah.
—
Renungkan:
Rezeki itu milik Allah.
Tugas kita adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh sambil bertawakkal penuh. Maka bergeraklah dengan yakin — pintu rezeki akan terbuka dari sudut yang berbeda-beda, sesuai kehendak-Nya.
Sumber: Channel Rizqi Awal
Views: 8

















