Trend Freestyle Merenggut Nyawa, Alarm Keras bagi Pendidikan Anak

Oleh. Yashila Rahima
(Kontributor MazayaPost.com)

Dunia digital kembali memakan korban. Dua anak di Lombok Timur, masing-masing berusia taman kanak-kanak dan sekolah dasar, meninggal dunia setelah mengalami cedera leher akibat meniru aksi “freestyle” yang viral di media sosial dan game online. Aksi tersebut diduga terinspirasi dari permainan populer seperti Garena Free Fire yang menampilkan berbagai gerakan ekstrem.

Peristiwa ini memicu keprihatinan luas. Kepolisian, sekolah, Dinas Pendidikan, psikolog anak, hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengimbau orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan telepon genggam, media sosial, dan tontonan anak. Namun, tragedi ini sesungguhnya bukan hanya persoalan kurang hati-hati dalam bermain, melainkan alarm keras tentang rapuhnya sistem perlindungan dan pendidikan anak di era digital.

Anak Belum Memiliki Nalar yang Matang

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tetapi kemampuan berpikir kritis dan menimbang resiko belum berkembang sempurna. Mereka cenderung meniru apa yang terlihat menarik tanpa memahami bahaya di baliknya. Ketika aksi ekstrem divisualisasikan secara menarik melalui game online maupun media sosial, anak dapat menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa dan aman untuk dilakukan.
Karena itu, anak yang belum baligh dalam Islam dipandang belum sempurna akalnya dan belum dibebani tanggung jawab hukum (taklif). Mereka memerlukan pendampingan intensif dari orang dewasa agar mampu membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan.

Lemahnya Pendampingan dan Kontrol Lingkungan

Tragedi ini juga menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas digital anak. Banyak anak kini memiliki akses luas terhadap internet tanpa pendampingan memadai. Telepon genggam sering kali menjadi “pengasuh kedua” yang menemani anak sehari-hari, sementara orang tua sibuk bekerja atau kurang memahami risiko dunia digital. Selain itu, lingkungan sosial pun makin permisif. Anak-anak dibiarkan bermain sendiri tanpa pengawasan, sementara konten viral terus menyebar tanpa filter yang cukup kuat. Akibatnya, anak mudah terekspos pada tayangan yang berbahaya, baik secara fisik maupun mental.

Negara Belum Efektif Mengendalikan Konten Berbahaya

Di tengah derasnya arus informasi digital, negara memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi generasi muda. Namun, pembatasan terhadap konten berbahaya dinilai belum efektif. Konten ekstrem masih mudah diakses anak-anak melalui media sosial, video pendek, maupun game online.
Sistem digital yang berorientasi pada popularitas dan keuntungan sering kali lebih mengutamakan jumlah penonton dibanding dampak terhadap perkembangan anak. Selama pengawasan dan regulasi lemah, berbagai tren berbahaya akan terus bermunculan dan berpotensi memakan korban baru.

Perlinsungan Anak dalam Perspektif Islam

Islam memandang anak sebagai amanah yang wajib dijaga. Orang tua memiliki tanggung jawab mendidik, mengasuh, dan melindungi anak dari segala bentuk bahaya, termasuk pengaruh buruk lingkungan dan media. Pendidikan dalam Islam tidak hanya dibebankan kepada keluarga, tetapi bertumpu pada tiga pilar utama: orang tua, masyarakat, dan negara. Ketiganya bekerja sama menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara sehat, aman, dan berkepribadian baik.

Negara juga memiliki peran strategis dalam mengatur arus informasi. Konten yang merusak atau membahayakan generasi harus dibatasi secara ketat, sementara konten edukatif dan pembinaan karakter diperbanyak. Dengan demikian, anak-anak tumbuh dalam ekosistem yang mendukung lahirnya generasi berilmu, beradab dan terlindungi.

Penutup

Kasus meninggalnya dua anak akibat meniru aksi freestyle menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi tanpa pengawasan dapat membawa dampak fatal bagi generasi muda. Persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan imbauan sesaat kepada orang tua, tetapi memerlukan sistem perlindungan anak yang menyeluruh.
Pendampingan keluarga, kontrol lingkungan, dan peran negara harus berjalan beriringan agar anak-anak tidak tumbuh di bawah pengaruh konten yang membahayakan keselamatan dan masa depan mereka. Wallahualam.

Views: 1

Dibaca

Loading

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru

Konsultasi