Yang Terlahir untuk Dikhianati


Oleh. Ustaz Deden Muhammad Makhyaruddin

Imperium Mongol (Tartar), setelah menaklukan seluruh Tiongkok, mengarahkan agresinya ke wilayah-wilayah Islam. Dimulai dari negeri-negeri di belakang sungai Oxus (Uzbekistan, Kazakhstan, Tajikistan, Turkmenistan) yang tengah lemah-lemahnya akibat konflik internal.

Kota-kota besar Islam, seperti Samarkand, Bukhara, dan Khurasan jatuh satu per satu ke tangan Mongol. Target utama mereka adalah jantung peradaban Islam, yaitu Baghdad. Namun, mereka tertahan oleh pasukan Dinasti Khawarizmi di Persia.

Perang besar meletus di Persia selama beberapa tahun sampai akhirnya Sultan Jalaluddin, sultan terakhir Dinasti Khawarizimi tewas, dan wilayahnya jatuh ke tangan Mongol.

Pasukan Mongol tak segan menghabisi dengan sadis siapapun yang dilaluinya. Masa-masa sulit pun menimpa negeri-negeri muslim yang menjadi rute agresi Mongol ke Baghdad. Gadis-gadis diperkosa dan anak-anak lelaki dijual sebagai budak di pasar-pasar.

Nama Mahmud adalah di antara sekian banyak anak laki-laki yang dijual oleh Mongol di wilayah Syam. Dia adalah yatim asuhan Sultan Jalaluddin setelah ayahnya syahid dalam pertempuran menghadapi pasukan Mongol di awal kedatangannya yang pertama.

Wilayah Syam, saat itu, (Suriah, Palestina, Israel, Libanon, Yordania, sebagian Turki) berada di bawah pemerintahan Dinasti Ayyubiyyah yang tengah terancam perang saudara dalam bayang-bayang agresi Mongol dan Perang Salib. Mahmud beruntung, dia dibeli oleh orang kaya yang saleh di Damasqus.

Mahmud disekolahkan. Menghafal Al-Qur’an. Belajar Nahwu, Sharaf, dan ilmu-ilmu lainnya. Dan, diajarkan teknik berperang di sekolah militer. Sehingga, Mahmud yang memang cerdas tumbuh menjadi budak kecil yang saleh, hafal Al-Qur’an, berperangai baik, disiplin, dan kuat.

Orang kaya yang saleh itu pun wafat. Mahmud kecil lalu menjadi milik ahli warisnya. Dan, tak lagi mendapat fasilitas belajar. Dia bekerja siang dan malam untuk tuannya. Sampai, akhirnya ahli waris menjual Mahmud ke orang kaya lain yang merupakan murid dari ulama besar, Sulthânul ‘ulama al-Iz Ibn Abdissalam.

Saat sultan Ayyubiyah, Najmuddin Ayub (al-Malik al-Shalih) berangkat membawa pasukan menuju Perang Salib VII, Mahmud ikut serta sebagai prajurit biasa. Perang yang benar-benar nekad. Karena, Dinasti Ayyubiyyah tengah pecah-pecahnya, sementara di depan ada pasukan Salib dan di belakang ada Imperium Mongol. Dan, berada dalam keluarga penting kerajaan yang bersekongkol dengan musuh.

Perang pun meletus. Sepak terjang Mahmud menarik perhatian Sultan. Dan, Perang Salib VII dimenangkan oleh pihak muslimin. Luis IX, raja Prancis, sebagai pimpinan pasukan Salib tewas, dan Baitulmaqdis berhasil direbut. Itu tak lepas dari peran seorang Mahmud yang umurnya baru menginjak dewasa.

Mahmud dibeli oleh Sultan Najmuddin Ayyub untuk kemudian diberikan pelatihan militer intensif bersama budak-budak pilihannya yang lain. Kemudian, saat Dinasti Ayyubiyah tak (lagi mampu bertahan karena konflik internal dan serangan Mongol, Sultan Najmuddin Ayub, merekomendasikan Mahmud kepada Sultan Izzuddin Aibak, Sultan Dinasti Mamluk di Mesir yang baru saja berdiri untuk dijadikan panglima perang.

Saat Mongol melenggang menguasai seluruh Syam dan berhasil merebut Baghdad pada tahun 656 H., maka di Mesir masih tersisa dinasti dengan Mahmud sebagai Panglima Perangnya. Namun, konflik internal yang terus bergejolak di tubuh keluarga kerajaan menyebabkan dinasti ini tak mampu bangun memberikan perlawan kepada Mongol.

Konflik keluarga berujung kepada terbunuhnya sultan Izzuddin Aibak oleh istrinya sendiri pada tahun 657 H.. Lalu, tampuk kepemimpinan pindah ke putranya, yaitu al-Mansur Ali. Hal ini sangat tidak diinginkan oleh musuh-musuh Aibak. Dan, dengan alasan al-Mansur Ali masih kecil (belum genap berusia 15 tahun), tampuk kepemimpinan harus diserahkan kepada yang berkompeten sebelum akhirnya al-Mansur Ali memimpin.

Musuh-musuh Aibak yang mengincar posisi Sultan harus menelan kecewa karena para ulama sebagai dewan musyawarah kerajaan malah menunjuk dan mengangkat Mahmud, sang panglima perang yang saleh sebagai sultan pengganti Aibak.

Mahmud tak mampu menolak amanah dari ulama walau berat, bukan hanya karena demi negara, tetapi juga demi umat dan perdamaian dunia. Dan, Mahmud yang tidak haus kekuasaan dan tidak pernah tertinggal salat berjemaah di awal waktu bergerak cepat dengan terlebih dahulu meminta fatwa kepada ulama karismatik saat itu yang tak lain adalah gurunya, yaitu Sulthânul ‘ulama al-Izz Ibn Abdisalam.

Yang pertama kali dilakukan oleh Mahmud adalah menyatukan kekuatan di Mesir dan wilayah-wilayah taklukan Mongol. Respon positif datang dari seluruh elemen umat. Dan, lebih kurang 1 tahun, dinasti yang dipimpinnya tampil menjadi daulah dengan kemajuan ekonomi yang pesat dan kekuatan militer yang menarik perhatian Mongol di seluruh waliyah taklukannya.

Hulaghu Khan bersama pasukannya bak badai yang dikenal tak pernah terkalahkan di setiap agresinya, termasuk ketika manaklukan Baghdad, bergerak untuk menyerang. Tapi, Mahmud yang sudah siap sedia langsung bergegas menghadang Hulaghu. Dan, dua pasukan itu bertemu di sebuah kawasan yang bernama Mata Air Jalut, Palestina pada tanggal 25 Ramadan tahun 658 H.

Pertempuran meletus dengan sengitnya. Dan, untuk pertama kalinya dalam sejarah, pasukan Mongol dapat ditaklukan. Bahkan, lebih kurang 50 hari setelahnya, Mongol sudah benar-benar pergi dari seluruh wilayah Syam.

Kekalahan ini menjadi awal berakhirnya kekejaman imperium Mongol di seluruh wilayah taklukannya di dunia. Di wilayah-wilayah Islam, terjadi gelombang besar-besaran masuk Islamnya para elit Mongol, lalu membangun kerajaan-kerajaan bercorak Islam yang berkeadilan.

Mahmud pulang ke Mesir dengan membawa kebanggaan. Raksat Mesir siap menyambutnya. Di tengah perjalanan, Mahmud dan pasukan menggelar tenda bermalam. Lalu, dalam keadaan tidur lelapnya, seseorang yang gagah masuk kedalam tenda dan menikam Mahmud tanpa mampu memberikan perlawanan. Mahmud roboh. Dan, akhirnya meninggal dunia. Dan, sang penikam langsung mendeklarasikan kesultanan dirinya.

Sang penikam adalah orang kepercayaan Mahmud, yaitu Jenderal Beibars yang merupakan musuh Aibak. Beibars merasa dirinya yang lebih berhak menjadi Sultan. Dia sempat meminta sebuah wilayah di Syam kepada Mahmud, tetapi Mahmud menolak. Padahal, sebenarnya, sebelum Beibars meminta, Mahmud sempat berniat memberikannya.

Dialah Mahmud. Pahlawan besar. Bukan hanya bagi muslimin. Namun, juga bagi dunia. Karena, kemenangannya menjadi babak baru peradaban Islam dan dunia dengan berakhirnya kekejaman Mongol di atas belahan bumi.

Mahmud meninggal di usia lebih kurang 30 tahun pada tahun 658 H. Tidak punya anak laki-laki. Hanya ada dua anak perempuan yang tidak diketahui lagi keberadaannya.

Mahmud adalah sosok yang diberinama dalam sejarah dengan sebutan Saifuddin Quthuz. Saifuddin artinya Pedang Agama. Dan, Quthuz dalam bahasa Mongol adalah Anjing Pemangsa. Nama ini pertama kali diberikan oleh tentara Mongol saat menjual Mahmud di pasar Damaskus, karena telah terlihat darinya sejak dini akan potensi kekuatannya.

Sumber Chanel Muslimah

Dibaca

 12 total views,  5 views today

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

Artikel Terbaru

Konsultasi